Mohon tunggu...
Vio Aldianita
Vio Aldianita Mohon Tunggu... Mahasiswa

Bismillah La Hawla Wala Quwwata Illah Billah.. Laa Tahzan Innallaha Ma'ana

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Beberapa Kesalahan Orangtua dalam Memberikan Pendidikan kepada Anak Usia Dini

20 Oktober 2019   15:52 Diperbarui: 20 Oktober 2019   16:06 0 1 1 Mohon Tunggu...
Beberapa Kesalahan Orangtua dalam Memberikan Pendidikan kepada Anak Usia Dini
Ilustrasi dari dar-alifta.org

Pendidikan merupakan aspek penting dalam perkembangan anak dalam berbagai hal. Selain itu pendidikan juga sebagai salah satu indikator kemajuan suatu bangsa dan negara, menjadi sorotan yang paling penting bagi kita saat ini. Melihat peringkat yang Indonesia dapatkan dalam bidang pendidikan sangat rendah, setiap orangtua memiliki tanggung jawab penuh atas pendidikan buah hatinya. Mulai dari pendidikan pembentukan karakter, pendidikan spiritual, hingga pendidikan formalnya. Tetapi didalam praktiknya terdapat kebiasaan yang keliru dilakukan oleh para orangtua dalam mempersiapkan pendidikan anaknya sejak di usia dini.

Seharusnya semua hal di bawah ini bisa dihindari demi kehidupan pendidikan yang lebih baik kedepannya. Sehingga ketika dalam pendidikan anak terkadang diluar ekspetasi yang orang tuanya harapkan. Dalam hal ini banyak kebiasaan yang terkadang salah dalam hal pendidikan anak. Berikut ini merupakan kebiasaan orang tua anak dalam pendidikan yang terkadang bisa menjadi boomerang bagi orang tua maupun anak.

1. Menyekolahkan Anak sedini mungkin agar anak cerdas

Dalam lingkungan masyarakat di modern ini banyak orang tua yang berlomba untuk membuat anak agar menjadi cerdas dan jenius dalam berbagai hal tak kecuali dalam hal pendidikan. Saat ini oranag tua bahkan memasukkan anak-anaknya yang masih usia sangat dini dalam lingkungan sekolah. Orang tua terkadang berlomba-lomba untuk kecerdasan bagi anak bahkan di era sekarang anak sudah bisa sekolah saat anak memasuki usia 2 tahun keatas.

Merujuk ke Negara Finlandia sebagai Negara dengan urutan pertama pada kualitas pendidikan terbaik di dunia, ternyata Negara Finlandia malah tidak memperkenankan anak masuk sekolah dasar jika usia anak belum genap berumur 7 tahun.  Sedangkan di lingkungan masyarakat kita cenderung menyekolahkan anak sedini mungkin agar anak bisa bersaing dan menjadi yang terbaik. Tetapi pintar dan cerdasnya anak tentu ada waktunya disamping itu kepintaran dan kecerdasan anak berbeda-beda.

Pada anak usia dini yang berkembang adalah pusat perasaan sehingga anak harus bahagia, bukan cerdas. Sehingga usia dini anak adalah fase stimulasi motoric tetapi banyak orang tua yang tidak tau akan hal ini yang akan membuat sistem yang keliru seperti ini malah banyak dilakukan, bukannya dihindari.

2. Menyekolahkan anak agar belajar sosialisasi

Selain untuk agar anak menjadi cerdas sejak dini terkadang alas an lain orang tua menyekolahkan anak sejak usia dini yaitu agar anak bisa belajar bersosialisasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat sejak dini. Memang itu hal atau langkah yang bagus untuk mengajarkan anak bersosialisasi sejak dini tetapi yang menjadi pertanyaan besar yaitu apakah usia sejak dini anak bisa dan belajar bersoasialisasi dengan baik sesuai ekspetasi kedua orang tuanya?

Faktanya bahwa anak usia dini belum saatnya untuk diajak bersosialisasi ataupun belajar bersosialisai. Anak usia dini bisa bermain bersama teman-temannya yang lain tetapi hal ini dengan mainan mereka masing-masing, tidak berbagi mainan dengan kawan seusianya pada saat usia dini dalam hal ini anak akan membentuk dunianya sendiri berdasarkan imajinasinya sendiri. Namun ketika anak memasuki usia 5-6 tahun, usia tepat yang bermain bersama teman seusianya, nah dalam ini anak bisa diajarkan untuk mengenal lingkungan disekitarnya dan bersosialisasi dengan kawan sebayanya atau seusianya. Pada saat anak bersosialisasi, orangtua anak harus sudah membekali anak dengan pembentukan karakter dasar agar anak dapat bersosialisasi dengan baik dan anak mempunyai karakter yang baik pula dalam lingkungan sosialisasi.

3. Menyekolahkan dini karena banyak permainan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2