Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mawar Berduri atau Duri Bermawar?

14 Juni 2020   09:50 Diperbarui: 14 Juni 2020   10:00 770
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Mawar Berduri atau Duri Bermawar.

Membangun sikap dan berpikir positif di era pandemi Covid-19.

"Beberapa orang selalu mengeluh mawar memiliki duri, aku bersyukur bahwa duri memiliki mawar." --ALPHONSE KARR-

Kisah tentang dua orang yang bertengkar melihat gelas yang terisi setengah atau kosong setengah. Satu orang mengatakan gelas berisi setengah. Satu lagi mengatakan setengah kosong. Sama-sama benar, tapi saling klaim paling benar. Ini soal sudut pandang. Setengah berisi atau kosong?

Demikian jugalah tentang mawar dan duri. Sebagian orang kagum dengan bunga mawar, tetapi mengeluh karena mawar berduri. Dia ingin mawar tanpa duri. Dan itu tidak mungkin. Mawar dan duri sudah diciptakan sebagai pasangan yang tak boleh dipisahkan. Abadi.

Lalu Alphonse Karr menyebut bahwa dia bersyukur bahwa duri memiliki mawar. Dia membalikkan sudut pandang orang yang mau menikmati keindahan mawar tapi mengeluh soal durinya.

Sama halnya  seperti kita makan ikan. Kita mau dagingnya saja, tidak mau ikut durinya. Padahal ikan tidak mungkin hidup dan ada di meja makan kita, jika dia tidak mempunyai duri untuk bisa hidup di air, hidup dan berenang. Sama halnya manusia tanpa tulang sebagai rangka badan kita. Mana mungkin manusia bisa hidup tanpa tulang. Jika hanya daging, tidak mungkin kita bisa duduk atau berdiri.

Dalam kehidupan kita juga demikian. Sikap dan cara berpikir kita selalu mengutamakan kebaikan dan keindahan saja, tanpa mau kekurangan dan duri dalam kehidupan. Kita mau sehat, tidak mau sakit. Padahal dengan mengalami sakit penyakit barulah kita menghargai kesehatan.

Dan kini kita menghadapi pandemi Covid-19. Apakah kita mengeluh bahwa corona ini bagaikan duri yang ada di mawar? Apakah kita hanya menginginkan sehat dan tidak kena virus corona, tapi tidak mau mematuhi protokol kesehatan?

Jika ingin sehat dan tidak terpapar virus Covid-19, ya harus mematuhi protokol kesehatan normal baru. Pakai masker, rajin cuci tangan dan menjaga jarak dan menjaga kebersihan lingkungan. Jangan mau enaknya saja. Ingin sehat di masa pandemi, tanpa mengikuti protokol kesehatan itu mimpi.

Kita harus memiliki sikap dan cara berpikir positif di era pandemi Covid-19 ini. Menjaga jarak, menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan itu mutlak. Cepat atau lambatnya Covid-19 ini pergi dari bumi Indonesia ini, tergantung kita. Bukan tergantung kepada pemerintah saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun