Mohon tunggu...
Alberto Ruyattman
Alberto Ruyattman Mohon Tunggu...

Seorang yang senang mengamati, beropini, dan menuangkan pemikiran-pemikiran melalui tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Bahasa Indonesia: Apa yang tertulis=Apa yang terucap?

12 Februari 2014   17:34 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:53 0 0 0 Mohon Tunggu...

Salah satu ciri khas dan keunggulan Bahasa Indonesia adalah kemudahan dalam membaca/mengucap sebuah tulisan/kata. Jika kebanyakan Bahasa asing lain seperti Bahasa Inggris,Belanda, dll, tulisan dengan cara mengucap adalah sering berbeda. Maka tidak begitu dengan Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, tak sedikit Orang Indonesia yang merasa bangga dengan bahasanya itu. Mereka sering melabelinya dengan “salah satu bahasa yang paling mudah dipelajari”.

Ngomong-ngomong, jika kita mencermati cara pengucapan alfabet dalam Bahasa Indonesia dan Inggris ,ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan di antara keduanya. Kira-kira seperti berikut perbandingannya: Di Bahasa Indonesia “A” ya diucap “A” bukan” Ei” seperti di Inggris, “C” ya diucap “Ce” bukan “Si” seperti di Bahasa Inggris, “E” ya diucap “E” bukan “I” seperti di Bahasa Inggris, “G” ya diucap “Ge” bukan “Ji” seperti di Bahasa Inggris,”H’ diucap “Ha” bukan “Eids” bukan “I” ya diucap “I” bukan “Ai” seperti di Bahasa Inggris. Selebihnya secara kaidah alfabetis, kurang lebih sama cara pelafalannya.

Namun, sayangnya meski semestinya apa yang ditulis dan diucap serupa dan sama. Ada beberapa kata dalam Bahasa Indonesia yang sering kali pengucapannya tidak sama dengan apa yang tertulis. Ini yang patut dipertanyakan. Berikut beberapa contohnya:

1. Manajemen :diucapkan menejmen atau menejemen, saya tidak pernah mendengarkan seorang pun yang mengucap mAnAjemen, huruf A diucapkan serupa pada: mAsyArAkAt, mAri, mAkAn, mAtematikA.

2. Elite: diucapkan elit, saya tidak pernah mendengar seorang pun yang mengucapkan huruf E pada akhir kata ElitE. Kenapa tidak ditulis “elit” saja?

3. Sekadar: diucapkan sekedar,saya pun belum pernah mendengar orang mengucapkan sekAdar, yang pernah saya dengar sekEdar, semestinya bila benar menggunakan huruf “A” pengucapannya harus serupa dengan mAkAn, sekAntong, kebAnjiran, dll.

4. Diesel: diucapkan disel. Saya juga tidak pernah mendengar orang mengucapkan diEsel. Huruf E nya setelah huruf I tidak terucap dan terdengar. Ini berbeda dengan kata diEt, diElakkan, diEnakkan. Yang sama sama terdapat huruf I dan E namun semuanya diucapkan sesuai dengan yang ditulis. Kenapa kok tidak ditulis “disel” saja?

5. Bus: diucapkan bes atau bis. Yang ini, saya hanya mendengar pengucapan bUs pada berita-berita di TV. Sedangkan pengucapan pada masyarakat baik resmi maupun tak resmi, baik kalangan pemerintahan maupun masyarakat seringkali, mengucapkannya bEs, ataupun bIs. Paling sering huruf E yang diucapkan serupa dengan bEsar, bEnar, bEtul. Ada juga yang mengucapkan bEs seperti satE, tempE.Juga adayang mengucap bIS, layaknya bIskuIT, bIsa, bIlang, dll. Apakah satu-satunya yang benar cuma pembaca berita di TV?

6. Truk: diucapkan trek. Ini juga kasus yang mirip dengan bus. Hampir semua rakyat dan pejabat membacanyatrek, seperti “E” pada bEsar, bEnar, bEtul. Yang membaca trUk layaknya pengucapan pUnya, khUsUS, bUrUk, lagi-lagi hanya para pembaca berita. Tetapi terkadang mereka juga tidak konsisten dan juga masih membaca trEk.

7. Hektare: diucapkan hektar. Kasusnya mirip dengan “elite” yang sudah saya jelaskan. Tentang adanya huruf E di akhir kata.

8. Ampere: diucapkan amper. Kasusnya mirip dengan “elite” dan “ampere” yang sudah saya jelaskan. Tentang adanya huruf “E” pada akhir kata.

9. Karier: diucapkan karir. Kasusnya mirip dengan “diesel’ yang sudah saya jelaskan. Menekankan pada huruf ”E” yang tak terucap.

10. Kanker: diucapkan kangker. Anehnyameski tulisannya kanker tanpa unsur “G” sekalipun. Selama ini hampir tidak pernah saya mendengar orang mengucapkannya kanker, yang ada kanGker.

11. Label: diucapkan lebel. Saya juga tak pernah mendengar orang mengucapkan lAbel, seperti lAngsung, lAlu, lAma. Yang saya pernah dengar hanya diucap lEbel, seperti “E” pada kata rEmEh, krEsEk, sEhat.

*mungkin saja selain contoh-contoh di atas, juga ada contoh lainnya yang tidak tertangkap “radar” saya, :-)

BIla kita menyaksikan contoh-contoh di atas, hal-hal tersebut tidak kita jumpai kerancuannya dalam koran, buku, ataupun majalah. Karena ini lebih berkaitan dengan hal pengucapan(lisan) bukan penulisan. Hal yang amat janggal inilah yang layak menjadi perhatian kita bersama. Katanya dalam Bahasa Indonesia, apa yang ditulis sesuai dengan apa yang diucap? Lah, yang ini kok nggak? Masyarakat dan pemerintah kan jadi sama bingungnya. Ini penting agar Bahasa Indonesia , bahasa kita sendiri, dapat digunakan secara tepat dan sesuai. Hendaknya hal ini segera menjadi perhatian, utamanya para Ahli Bahasa dan Dewan Bahasa. Sebenarnya, bukan tidak mungkin diadakan revisi penulisan kata untuk mengurangi kerancuan cara pengucapan kata-kata tersebut.Terakhir, mohon maaf, bila ada salah kata, dan kata-kata saya yang kurang berkenan. Saya menulis ini hanya semata-mata untuk kebaikan Bahasa Indonesia dan pemakainya sendiri.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x