Mohon tunggu...
Akbar Raihan
Akbar Raihan Mohon Tunggu... f

f

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Edukasi Anti Bullying (Review Ulang Web UNS)

6 Februari 2020   21:54 Diperbarui: 6 Februari 2020   22:28 126 0 0 Mohon Tunggu...

B0119041 Mochamad Akbar Raihan 

Penulis Mahasiswa Program Studi Sastra Daerah (https://fib.uns.ac.id/program-studi/sastra-daerah/) Fakultas Ilmu Budaya (https://fib.uns.ac.id/).

Bullying yang dalam bahasa Indonesia perundungan adalah perbuatan tidak terpuji yang dewasa ini marak terjadi di kalangan anak-anak dan remaja serta dilakukan di lingkungan sekolah. CNN Indonesia dalam artikelnya tahun 2018 melaporkan " sebanyak setengah siswa berusia 13-15 tahun atau setara 150 juta remaja di dunia pernah mengalami kekerasan berupa perkelahian fisik serta perundungan atau bullying dari teman sebaya di sekolah ". Perlu diketahui bahwa ada beberapa macam bentuk perundungan, yaitu perundungan fisik, perundungan verbal, perundungan sosial, perundungan seksual, dan juga cyberbullying atau perundungan dunia maya. 

Dalam di era digital seperti sekarang ini, kasus perundungan makin marak terjadi salah satunya karena siapa saja dapat dengan mudah mengakses internet. Terutama anak-anak dan remaja yang dapat dengan mudah mendapatkan contoh perilaku yang kurang baik tanpa adanya pengawasan dari orang yang lebih dewasa.

Kasus-kasus perundungan bukanlah hal sepele yang dapat dengan mudahnya kita anggap tidak penting. Karena banyak sekali akibat yang terjadi kepada korban atas perundungan yang diterima. Perundungan adalah kasus yang cukup sulit untuk diberantas, karena sejak dulu sampai sekarang sudah banyak cara yang dilakukan oleh pihak-pihak untuk memberantas, mencegah, menanggulangi tindakan perundungan, tetapi pada kenyataannya masih saja terjadi perilaku bullying di sekitar kita. 

Menurut Yasinta, psikolog anak dan remaja dari EduPsycho memaparkan bahwa fase remaja memang sangat rentan bagi anak untuk menjadi korban bullying atau bahkan pelaku. Alasannya, kata dia, fase remaja merupakan masa pencarjan jati diri. Terkadang, hal ini tak disikapi secara positif sehingga menyebabkan anak menjadi korban atau pelaku bullying. Hal tersebutlah yang menjadi permasalahan kenapa perundungan terus terjadi.

Seperti yang sampaikan di atas, bahwa banyak sekali upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah tindakan perundungan. Dalam artikel berjudul Upaya Edukasi Perilaku Anti Bullying di Era Digital Melalui Dongeng (artikel), tim dan mahasiswa Prodi Psikologi UNS melakukan kegiatan mengedukasi anak-anak TKIT Mutiara Insan Jombor Sukoharjo dalam rangka menegah perilaku bullying dengan cara mendongeng. Hal ini dipilih karena mereka meyakini bahya pendekatan dengan media dongeng akan lebih memudahkan anak-anak untuk menerima serta mengerti. https://uns.ac.id/id/uns-opinion/upaya-edukasi-perilaku-anti-bullying-di-era-digital-melalui-dongeng.html

Penulis artikel tersebut juga menyisipkan kutipan dari Moeslichatoen (2004) kegiatan mendongeng merupakan media untuk menyampaikan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan mendongeng adalah memberikan pengalaman belajar bagi anak untuk berlatih mendengarkan. Melalui mendengarkan, anak memperoleh bermacam informasi tentang pengetahuan, nilai, dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil dari upaya tim Psikologi UNS tersebut menunjukan kemampuan anak-anak TKIT Mutiara Insan Jombor Sukoharjo untuk membedakan perilaku yang baik dan tidak baik untuk dilakukan khususnya kepada orang lain. Tim dalam kegiatan mengedukasi menampilkan dongeng berjudul Sapi yang Baik Hati kepada anak-anak TK dengan menarik. Dongeng ditampilkan menggunakan alat peraga yang ditujukan agar anak-anak tersebut dapat lebih mudah memahami cerita yang disampaikan. Pada artikel mereka menuliskan harapan agar hal tersebut dapat menjadi langkah preventif untuk mencegah terjadinya perilaku bullying kepada sesama teman dalam interaksi sosial nantinya. 

Menurut saya, upaya tim Psikologi UNS dalam artikel yang terdapat di web https://uns.ac.id/id patut untuk disebarluaskan dan dilakukan guna menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Selain itu, tim juga menyebutkan dalam atikelnya bahwa upaya tersebut berfokus pada pembentukan karakter anak yang mengembangkan nilai dan sikap negatif terhadap kekerasan, resolusi konflik, kerja sama, toleransi pada sesama dan empati. 

uns.ac.id

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x