Akbar Tanjung
Akbar Tanjung Penulis Lepas dan Entrepreneur

Entrepreneur and Independent Writer

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Inspirasi dari Wanita Paruh Baya, Aku Memanggilnya "Mama"

11 Agustus 2018   05:53 Diperbarui: 11 Agustus 2018   08:45 239 0 0
Inspirasi dari Wanita Paruh Baya, Aku Memanggilnya "Mama"
sumber: wajibbaca.com

Saya terharu mendengar cerita perjuangannya. Apalagi menyaksikan sendiri kesehariannya, begitu menyayat hati. Dia seorang wanita paruh baya, hidup menjanda bersama keempat anaknya. Bangga? Tentu iya, saya harus akui jika dia seorang wanita luar biasa. Dia srikandi bagi keluarga, kebanggaan anak-anaknya. Wanita itu ibu saya, Aku memanggilnya "Mama".

Mama, sosok wanita yang menginspirasi saya. Bukan karena kasih sayangnya, bukan pula karena cintanya kepada anak-anaknya, tapi karena perjuangannya. Dengan segala kemampuannya, ia bekerja keras dan ikhlas dalam memberikan tanggungjawabnya kepada anak-anaknya.

Mama tak pernah memaksa kami untuk bekerja. Dia selalu mengingatkan kepada kami untuk giat sekolah dan belajar. Di depan anak-anaknya, ia tak pernah mengeluh meski sebenarnya pekerjaan yang ia tekuni begitu berat.

Berkebun dan berdagang merupakan pekerjaan rutin yang dilakukan Mama. Itu sudah menjadi sumber penghidupan keluarga kami. Setiap Selasa, Kamis dan Minggu ia berdagang di pasar sementara hari lainnya ia gunakan untuk berkebun.

Kebun dan Pasar, Rumah Kedua bagi Mama 

Pernahkan Anda mengalami bagaimana rasanya jika menyebrangi dua sungai setinggi dada? Jika kalian seorang wanita, mampukah Anda melakukannya? Belum lagi jika kalian harus memikul beban di atas kepala, kuatkah Anda?

Mama melakukan itu semua. Ia harus menyebrangi dua sungai untuk sampai ke kebun. Dengan segala kekuatan dan pengalamannya, ia bisa menaklukkan kedua sungai itu. Hampir setiap hari Mama melakukannya. Sungai sudah menjadi teman sejatinya.

Kebun sudah menjadi rumah kedua bagi Mama. Kebun itu merupakan peninggalan Almarhum Ayah. Kebun tersebut berisi tanaman coklat, merica, jagung dan jeruk nipis. Hasil panen dari coklat, merica, jangung dan jeruk nipis diperdagangkan di pasar. Setiap kali berangkat ke kebun, Mama memikul hasil panen tersebut untuk dibawa pulang. Bisa dibayangkan, jika berat beban tersebut mencapai 10-20 kg. Sungguh, Mama wanita luar biasa!

Hasil panen kebun yang dijual di pasar digunakan untuk membiayai kebutuhan pangan sehari-hari dan pendidikan anaknya. Dua dari empat bersaudara sudah mengenyam pendidikan. Saat itu saya sudah duduk di bangku SMP sementara adik saya duduk di bangku SD. Kakak perempuan saya hanya menamatkan pendidikan SMA dan memilih untuk menikah muda. Adik bungsu saya masih berumur 5 tahun. 

Prestasi Hingga Lanjut ke Perguruan Tinggi

Saat memasuki pendidikan SMP, saya diasuh oleh nenek. Namun biaya sekolah saya sepenuhnya ditanggung oleh Mama. Selama enam tahun saya tinggal bersama nenek hingga lulus SMA.

Tiba saatnya, saya harus melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Seorang guru menyarankan agar saya mengambil fakultas kedokteran. Guru saya optimis fakultas kedokteran bisa saya taklukkan. Ia melihat prestasi akademik dan nonakademik saya sangat mumpuni. Apalagi, di akhir studi saya terpilih sebagai siswa teladan dan menjadi juara umum 1 untuk prestasi akademik. Mendengar hal itu, Mama tak banyak berkomentar. Ia tak hentinya memberikan support dan doa.

Berselang beberapa bulan, saya berangkat ke ibukota provinsi untuk mengikuti serangkaian tes. Lagi-lagi saya terkendala masalah biaya. Sekitar Rp 500 ribu saya butuhkan saat itu. Mama hanya memberikan uang Rp 300 ribu. Akhirnya saya meminjam ke teman untuk menutupi sisanya. Uang itu saya gunakan untuk transportasi ke kota, makan dan sewa kos selama seminggu.

Serangkaian tes telah saya lalui. Hasil akhir memberikan kabar baik, saya lulus di fakultas kedokteran. Mama mendengar, ia meneteskan air mata. Namun hal miris harus saya alami. Lulus di fakultas kedokteran harus membayar uang pembangunan yang jumlahnya tidak sedikit. Saya berfikir kembali, apakah saya harus melanjutkannya? Bila ia, ke mana saya harus mendapatkan uang? Karena kondisi keuangan, saya mengubur mimpi untuk menjadi bagian dari fakultas kedokteran.

Akhirnya, saya mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta dengan mengambil jurusan Manajemen Keuangan. Mama mendukung apapun pilihan saya. Persemester (6 bulan) Mama mengeluarkan biaya sekitar Rp 11 juta. Itu sudah termasuk uang semester, uang makan, biaya kos dan buku.

Jika dirata-ratakan sekitar Rp 2 juta perbulan yang ditanggung Mama. Jumlah ini terbilang banyak. Belum lagi, biaya hidup Mama dan kedua adik saya. Namun mama selalu mengusahakan biaya kuliah saya terpenuhi. Bahkan terkadang Mama harus berhutang. Terkadang pula ia berjualan pakaian cicilan dengan berkeliling kampung. Apapun ia lakukan asalkan saya bisa fokus kuliah tanpa memikirkan biaya.

sumber: foto by me
sumber: foto by me
Selama 3 semester, Mama menanggung semua kebutuhan studi saya. Sementara semester 4 hingga 7, Mama hanya menanggung biaya makan dan biaya kontrakan. Saya dibebaskan dari uang semester (beasiswa) karena selama 3 semester saya dapat mempertahankan IPK saya.

Beban Mama pun sedikit berkurang. Saya bersyukur karena bisa meringankan beban Mama. Tak terasa, 7 semester telah berlalu, akhirnya saya menyandang gelar sarjana. Saat wisuda, saya menjadi wisudawan terbaik pertama, lulus summa cum laude dengan IPK sempurna 4,00.

Lulus Kuliah, Kerja di Perusahaan Pelayaran Domestik Terbesar Indonesia

sumber: foto by me
sumber: foto by me
Suatu kebanggaan tersendiri ketika lulus dengan nilai yang memuaskan. Berselang beberapa hari setelah yudisium saya melamar di perusahaan pelayaran. Saya mengikuti segala rangkaian tes dan Alhamdulillah saya pun diterima dengan gaji yang cukup fantastis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2