Mohon tunggu...
Rahmad Agus Koto
Rahmad Agus Koto Mohon Tunggu... Microbiologist

Aku? Aku gak mau bilang aku bukan siapa siapa. Terlalu klise. Tidak besar, tapi aku punya pengaruh. Memberikan pengaruh kepada komunitas sosial dimanapun aku berada.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Virus Penyebab Covid-19 Hasil Rekayasa Manusia?

18 September 2020   13:59 Diperbarui: 18 September 2020   14:06 54 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Virus Penyebab Covid-19 Hasil Rekayasa Manusia?
Berita di Sindonews

Dalam seminggu terakhir, perhatian publik global pemerhati pandemi Covid-19 tertaut oleh pernyataan Li Meng Yan yang mengatakan bahwa virus SARS-CoV-2 adalah mahluk hasil rekayasa seperti Frankeisten atau seperti seekor lembu yang berkepala rusa, bertelinga kelinci dan bertangan monyet. Selanjutnya ahli virus yang berasal dari Hongkong ini juga mengatakan bahwa virus tersebut sengaja diciptakan dan dilepaskan ke lingkungan manusia oleh negara Tiongkok (FoxNews, 16/9/2020).

Dari hasil penelaahanku selama ini terhadap sejumlah artikel sains terkait asal muasal virusnya, saya meyakini bahwa virus ini hasil rekayasa alamiah via seleksi alam. Dengan mekanisme rekombinasi genetik "shift", ketika dua atau lebih coronavirus dari jenis yang berbeda menginfeksi sel inang yang sama pada waktu yang bersamaan. Sebagian peneliti menduga bahwa SARS-CoV-2 berasal dari rekombinasi virus SARS yang ganas dengan coronavirus biasa yang memiliki fitur daya infeksi yang relatif tinggi.

Namun sedari awal (beberapa bulan yang lalu), saya tidak berani juga meyakininya hingga 100%, karena tetap ada peluang virus ini bisa direkayasa sedemikian rupa, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Baik secara penyisipan gen yang dikehendaki ke rangkaian genom virus, secara seleksi buatan, atau tercipta secara tidak sengaja di laboratorium dan terlepas ke lingkungan manusia ketika para peneliti sedang meneliti karakteristiknya.

Berdasarkan hal itulah saya tidak serta merta ikut latah mencerca Li Meng Yan.

Bagaimanapun penjelasan atau argumennya yang dipaparkannya ke dalam jurnal sebanyak 26 halaman di Zenodo, jauh lebih baik daripada Judi Mikovits dengan Plandemic-nya.

Secara ringkas, argumen Li tidak bisa dijadikan sebagai bukti sahih bahwa virus itu memang hasil rekayasa manusia karena masih didasari oleh asumsi, kemungkinan-kemungkinan atau masih bersifat teoritis yang bisa saja benar dan bisa saja salah. Judulnya saja sudah jelas diembel-embeli dangan "suggesting".

Dalam dua dekade terakhir, terdapat sejumlah penelitian yang sudah bisa memprediksi pandemi Covid-19 ini akan terjadi, berdasarkan hasil penelitian mereka pada berbagai jenis kelelawar yang tinggal di gua-gua yang banyak tersebar di Tiongkok, yang merupakan inang atau habitat alami coronavirus di alam liar. Seperti hasil penelitian Vincent dkk, "Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus as an Agent of Emerging and Reemerging Infection", yang dipublikasikan pada tahun 2007 di ASM.

"Coronaviruses are well known to undergo genetic recombination, which may lead to new genotypes and outbreaks. The presence of a large reservoir of SARS-CoV-like viruses in horseshoe bats, together with the culture of eating exotic mammals in southern China, is a time bomb".

"The possibility of the reemergence of SARS and other novel viruses from animals or laboratories and therefore the need for preparedness should not be ignored."

~ Vincent, et al. (2007).

Penyampaian Li di FoxNews Channel tidak begitu meyakinkan dan sepertinya sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik pihak tertentu. Mungkin juga sedang menciptakan sensasi.

Selain itu, benar-benar tidak masuk akal jika Tiongkok sengaja melakukannya padahal sudah jamak kita ketahui bahwa perekonomiannya sedang begitu pesatnya. Kekuasaan politik internasionalnya juga sudah begitu kuat, setara atau bahkan mungkin sudah melebihi kekuasaan Amerika.

Ditambah dengan tidak masuk akalnya jika berbagai ahli virus dari berbagai penjuru dunia yang bekerja di lab-lab mikrobiologi yang sangat canggih bisa dikecoh oleh Tiongkok.

Mungkinkan mereka semua bersekongkol dengan Tiongkok? Ah, benar-benar gak masuk diakal kan ya.

(Rahmad Agus Koto/Praktisi Mikrobiologi).

VIDEO PILIHAN