Mohon tunggu...
Aji Septiaji
Aji Septiaji Mohon Tunggu... Dosen

Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Majalengka. Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta. Penerima Beasiswa Program Doktor KEMENRISTEKDIKTI-LPDP: BUDI-DN 2016.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kreatif dan Produktif Menulis

17 April 2017   18:05 Diperbarui: 17 April 2017   18:26 0 1 1 Mohon Tunggu...

Ragam karya yang sudah tersebar melalui media baik cetak dan elektronik semakin mempermudah siapapun untuk mengakses informasi. Informasi yang disajikan tentu harus memiliki kualitas bukan hanya kuantitas. Kualitas yang baik diperoleh dari proses pembuatannya yang melibatkan pemikiran yang matang, tidak terlalu terburu-buru untuk mempublikasikan. Publikasi akan menjadi suatu hal positif jika dilakukan secara terus menerus. Bangsa kita menempati urutan ke 61 dalam tingkat literasi (kemampuan baca dan tulis), jauh dengan negara-negara lain. Jika negara kita ingin sejajar dengan negara lain, maka yang harus dibenahi salah satunya dari publikasi suatu karya, sebab intensitas perkembangan literasi berbanding lurus dengan intensitas publikasi suatu karya.  

Siapapun yang telah membudayakan literasi, maka telah dikategorikan sebagai orang yang kreatif dan produktif. Pada umumnya, kreatif (kreativitas) diartikan sebagai ‘memiliki daya cipta; atau memiliki kemampuan untuk menciptakan’. Sedangkan produktif (produktivitas) ialah ‘mampu menghasilkan dalam jumlah besar’.

Seseorang yang memiliki kemampuan menulis tidak akan puas jika hasil karyanya hanya ditulis, apalagi disimpan di tempat tertentu. Ia akan senantiasa menyebar-luaskan dan membagi karya tersebut melalui media cetak ataupun elektronik. Sehingga gagasan-gagasan dalam tulisannya dapat dibaca dan dimiliki oleh orang lain di seluruh Indonesia bahkan dunia.

Nggermanto (2005: 73) mengungkapkan bahwa setiap orang bisa kreatif asalkan di dalam dirinya tertanam rasa ingin tahu yang besar, sebab kreativitas berhubungan dengan keterampilan. Artinya siapa saja yang berniat kreatif dan ia mau melakukan latihan-latihan yang benar maka ia akan menjadi kreatif. Kreativitas bukanlah sekadar bakat yang dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Semua memiliki hak dan peluang untuk menjadi kreatif.

Selanjutnya, Nggermanto memaparkan bahwa banyak alasan yang dapat kita temukan untuk menunjukkan bahwa diri kita kreatif. Pada usia sekitar satu tahun kita telah berhasil belajar berjalan. Ini menunjukkan bahwa kita kreatif bahkan genius. Bandingkan bagaimana cara orang-orang kreatif menciptakan robot berjalan. Biasanya beberapa profesor bekerja sama dengan beberapa ahli misalnya dari teknik mesin, teknik elektro, teknik komputer, dan lain-lain. Mereka bekerja sama berbulan-bulan agar dapat menciptakan robot berjalan. Sementara, kita sudah mampu berjalan di usia satu tahun. Kita memang kreatif sejak awal kehidupan.

Kreativitas bersumber dari pikiran. Apa yang kita pikirkan biasanya akan kita lakukan, dan perlakuan kita akan mendeskripsikan diri kita sebenarnya. Sebagai ilustrasi, misalnya terdapat pada cerita berikut.  

Seorang petani tua kebingungan cara mengangkut sekarung gandum. Saat itu dinaikkan pada sisi kiri pelana keledainya, karung itu jatuh ke kanan. Petani tua itu berpikir sejenak. Dia menemukan satu ide yang bagus. Ia ambil satu karung yang kosong, kemudian diisinya dengan pasir. Sekarung pasir diletakkan pada pelana kiri. Sedangkan, sekarung gandum diletakkan pada pelana kanan. Berbahagialah petani tua itu. Akhirnya, ia dapat mengangkut gandumnya.

Di tengah perjalanan, petani tua melihat seorang laki-laki kurus renta sedang berteduh di bawah pohon rindang. Petani itu ingin istirahat sekalian berbincang-bincang dengan sang lelaki. Lelaki renta ternyata adalah seorang yang berwawasan luas. Ia mengetahui kota-kota di setiap negeri beserta sejarahnya. Ia mengetahui teknik mengolah tanah dan pertanian. Sampai akhirnya sang lelaki bertanya kepada petani tentang dua karung yang diangkut keledainya. Petani tua dengan bangga menjelaskan bagaimana ia dapat menyelesaikan persoalan pelik, mengangkut satu karung gandum dengan diimbangi sekarung pasir. Mendengar cerita itu, sang lelaki tertawa terkekeh-kekeh. Petani keheranan, apanya yang salah. Lalu petani bertanya, bukankah idenya bagus. Sang lelaki menjawab, apakah petani tidak kasihan dengan keledainya yang membawa beban berat. Mengapa tidak gandumnya saja yang dibagi menjadi dua karung. Masing-masing ½ bagian untuk pelana sisi kiri dan kanan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana cara berpikir kita yang berawal dari apa yang kita lakukan, sehingga dapat mendefinisikan siapa diri kita. Ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam kreativitas, di antaranya (1) Kemampuan kognitif. Kemampuan di atas rata-rata mengenai pengetahuan secara faktual yang bersifat empiris/berdasarkan pengalaman. Faktor pertama ini, dapat kita penuhi dengan cara mengoptimalkan potensi otak; (2) Sikap yang terbuka. Orang yang kreatif mempersiapkan dirinya dalam menerima kritik dan saran dari lingkungan sekitar. Sikap terbuka mampu menambah banyak informasi dan kesempatan yang dapat kita manfaatkan untuk menjadi kreatif; dan (3) Sifat bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang ‘digiring’, ingin menampilkan diri semampu dan semaunya, serta tidak terikat dengan konvensi-konvensi sosial. Orang-orang kreatif memiliki pendirian tertentu namun tetap berada dalam jalurnya yaitu bersikap baik terhadap sesama.

Berpikir kreatif sebenarnya telah tumbuh subur dalam diri kita jika didukung oleh faktor personal dan situasional. Kita dapat memulai dengan cara mengambil tindakan-tindakan kreatif sederhana atau yang kelihatannya seperti hal kecil. Tetapi bila tindakan kreatif sederhana ini kita biasakan secara konsisten akan memberikan dampak yang sangat besar. Sedangkan, kunci untuk menjadi kreatif adalah yakin bahwa kita berpotensi untuk menjadi kreatif, telah banyak bukti yang kita alami. Berikutnya adalah bertindak secara kreatif dari yang sederhana, tahap demi tahap menuju yang lebih kompleks.

Untuk menjadi kreatif memerlukan latihan secara kontinyu, sedangkan untuk menjadi produktif perlu upaya lebih dalam mengelola dan mengolah ide. Keduanya akan aktif jika otak kita selalu diproses/dibiasakan memikirkan hal-hal positif dan bermanfaat.

*Aji Septiaji - Penerima Beasiswa BUDI-DN 2016 KEMENRISTEKDIKTI-LDPP Pada Program Doktor Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta