Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Professional

Pekerja seni

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Memotivasi untuk Tetap Terus Menulis

8 Juli 2019   08:43 Diperbarui: 8 Juli 2019   08:54 0 27 12 Mohon Tunggu...
Memotivasi untuk Tetap Terus Menulis
Foto: Pixabay.com

Selamat Pagi K'Ners.. Selamat memulai aktivitas, semoga langkah dan niat tetap sejalan, begitu juga dengan kata dan perbuatan. Hidup adalah pelaksanaan kata-kata.

Tidak ada hal yang sulit dalam menulis, kalau kita sudah menemukan gairahnya (Passion). Menulis adalah sebuah cara menuangkan pemikiran, gagasan, dari apa yang dilihat, didengar, dibaca dan diketahui juga difahami.

Semua menjadi mudah untuk ditulis, karena sudah difahami. Mendengar, melihat dan membaca tanpa memahami, maka tidak akan mungkin bisa kita tulis.

Menulis adalah manifestasi dari membagikan ilmu, pengalaman. Pengalaman itulah didapat dari proses melihat, mendengar dan membaca. Tidak mungkin kita menuliskan sesuatu yang tidak pernah kita dengar, kita lihat dan kita baca, itu adalah hal yang mustahil.

Kalau proses diatas dijalani secara benar, maka kecil kemungkinannya kehabisan ide. Karena proses mendengar, melihat dan membaca, dari sebuah peristiwa yang ada disekitar kita.

Itu adalah modal dasar untuk dituliskan, hanya saja yang menjadi pertimbangan, apakah peristiwa tersebut layak tidaknya dibagikan.

Kalau saya mentalnya bukan mental seorang reporter, maka saya jarang membagikan tulisan yang bersifat reportase. Saya lebih cenderung pada pengamatan, itulah materi tulisan saya lebih kepada membagikan pendapat dari hasil sebuah pengamatan, terhadap sebuah aktivitas.

Banyak artikel yang saya hasilkan, merupakan buah pengamatan terhadap aktivitas di media sosial. Aktivitas di media sosial memotivasi diri saya untuk menuliskannya, karena itulah peristiwa yang terbaca dan teramati saat itu.

Memang sebetulnya menuliskan hal-hal yang terdekat dari diri kita akan lebih memudahkan proses untuk menuliskannya, karena kita mengalami langsung peristiwa tersebut, dan memahami setiap kronologisnya.

Mengarang cerita yang tidak kita alami membutuhkan imajinasi yang kuat, referensi yang mumpuni. Ini yang tidak bisa saya lakukan, karena saya tidak memiliki kemampuan tersebut.

Ketika kita menyadari kelebihan dan kekuatan sendiri, maka kita akan bisa memaksimalkan potensi. Potensi itu bisa dibangun, kalau kita fokus pada hal yang kita yakin mampu untuk menuliskannya dengan maksimal. Kalau itu sudah kita fahami, maka membuat tulisan yang berkualitas bukan lagi menjadi hal yang sulit.

Yang terpenting, kenali kemampuan dan kekurangan diri sendiri. Tidak ingin mengulangi kegagalan, kalau diyakini kegagalan tersebut menjadi menghambat langkah. Meskipun kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.