Mohon tunggu...
Aji NajiullahThaib
Aji NajiullahThaib Mohon Tunggu... Freelancer - Pekerja Seni

Hanya seorang kakek yang hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

11 Tahun di Kompasiana Dapat Mahkota

27 Oktober 2021   10:19 Diperbarui: 27 Oktober 2021   10:25 138 19 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Bagi saya Kompasiana sangat berarti. Bagaimana tidak? Disaat saya cuma bisa menumpahkan berbagai pemikiran dan gagasan di Facebook, sementara Kompasiana memberikan ruang yang lebih besar bagi saya.

Itu semua terjadi di tahun 2010. Saya menemukan Kompasiana secara tidak sengaja. Kebetulan saya memang sering membuka Kompas.com, dari sinilah akhirnya saya mengenal Kompasiana. Saat itu ruang menulis terbuka lebar. Kompasiana menjadi media baru bagi netizen.

Dari tahun ke tahun, anggota terus bertambah dari seluruh penjuru  Indonesia, dan pertemanan pun terus bertambah. Seakan menemukan keluarga baru untuk berinteraksi. Terlebih lagi, Kompasiana memang membuka runag interaksi bagi para anggotanya.

Berbagai tulsan mengalir begitu saja. Mulai dari tulisan politik, budaya, hukum, elonomi, juga berbagai tulisan fiksi di posting tanpa pernah berpikir nantinya terdokumentasi untuk apa. Di tahun 2012 saya mencoba melihat hasil yang sudah dituliskan.

Pada saat itu sudah tembus lebih dari 2000 artikel yang diposting, dengan berbagai kategori. Timbullah hasrat untuk mendokumentasikan berbagai artikel yang terserak. Saya tidak pernah membayangkan kalau berbagai artikel tersebut bisa disemai oleh seorang editor menjadi beberapa buku.

Itulah yang dilakukan mas Shulhan Rumaru, salah seorang editor Kompasiana saat itu, yang sering mengeditori tulisan-tulisan saya yang diposting di Kompasiana. 

Seperti yang sudah pernah Saya tuliskan di Kompasiana, kurang lebih 300 artikel politik tentang SBY, dan lebih 400 puisi politik siap diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul, "Membaca Politik Citra SBY" dan Antologi Puisi Politik "Bait-Bait Konstelasi."

Namun karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan, sehingga rencana tersebut tidak bisa dieksekusi. 

Setelah mengendap selama 8 tahun, buku-buku itu baru bisa diterbitkan. Tahun 2020 saya bergabung dengan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlah (YPTD), sebuah yayasan penerbitan yang dinakhodai pak Thamrin Dahlah, seorang Kompasianer senior. Di YPTD inilah akhirnya buku itu berlabuh dan diterbitkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan