Mohon tunggu...
Ainag Al Ghaniyu
Ainag Al Ghaniyu Mohon Tunggu... a jannah seeker

Writing is healing, a poem is my heartbeat, a prose on my bloodstream

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Elegi Ramadan Seorang Single Mom

27 April 2021   10:48 Diperbarui: 27 April 2021   18:33 568 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Elegi Ramadan Seorang Single Mom
Foto : canva creative pribadi

Tak berlebihan jika orang mengatakan ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Pertolongan Allah dimudahkan, terlebih melalui para pemburu pahala ramadan. Dari makhluk-makhluk yang tergerak hatinya, Allah menurunkan rahmat-Nya.

Seorang sahabatku semasa sekolah menengah pertama, yang berasal dari salah satu kota yang pernah kutinggali beberapa tahun, bercerita kepadaku. Kami sudah bertahun-tahun terputus komunikasi, tak berjumpa puluhan tahun, sampai aku tergerak untuk mencari kabar tentangnya. Hingga ia menceritakan kisah ini.

Sahabatku ini, sebut saja namanya Nining. Ia seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang masih sekolah. Suaminya, seperti cerita di sinetron atau novel-novel yang sedang digandrungi selera pasar masa kini, meninggalkannya karena terpikat perempuan lain yang lebih muda dan cantik.

Nining tak hanya harus menanggung biaya hidup anak-anak kandungnya. Namun juga dua orang anak yatim yang merupakan tetangganya. Mereka adalah anak-anak yang diasuhnya saat suaminya yang seorang pegawai perusahaan asuransi ternama, masih membersamai mereka.

Sahabatku ini adalah ibu rumah tangga tulen, tak pernah bekerja, tak punya harta yang berlebih, tak punya keluarga yang bisa mendukung. Kedua orang tuanya telah tiada dan satu-satunya kakak kandung tidak perduli kepadanya.

Setelah hidup sebagai ibu tunggal, kemudahan yang mulanya menghampiri mereka adalah anak-anak asuhnya mendapatkan beasiswa hingga ia tak perlu memikirkan biaya sekolah mereka. Namun ia tetap harus memutar otak bagaimana mencukupi makan dan kebutuhan hidup lain bagi kelima anak yang hidup seatap dengannya.

Sepeninggal sang suami, ia hanya bisa berjualan serabutan. Apapun barang dagangan yang bisa ia jual, akan ditawarkan.  Beberapa kali saat malam hari ia harus mengendarai motor tuanya menempuh perjalanan jauh hanya demi mengambil komoditi dagangan yang murah.
 
Ia tinggal tak hanya di sebuah kota kecil, namun juga di pinggir kota tersebut, mendekati wilayah pedesaan. Hingga masyarakatnya juga hidup sederhana, tak membutuhkan banyak pilihan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

"Disini mau jual apa-apa susah, orang-orang lebih suka bikin sendiri atau makan yang ada saja," ucapnya di awal kisah.

Saat itu ramadan empat tahun yang lalu. Hari kelima puasa ia nyaris tak memiliki uang sepeser pun. Beras tersisa beberapa kaleng, lauk yang ada hanya tahu, tempe dan beberapa butir telur. Sayur masih bisa ia dapatkan dari memetik tanaman di kebun sendiri.

"Aku sudah menghubungi Ayah anak-anak. Tapi ia bilang tak punya uang. Masa sekedar makan untuk anak-anaknya saja ia tak punya?!"

Sang mantan suami sedang sibuk-sibuknya dengan istri baru, hingga tak lagi hirau dengan perut anak-anaknya. Setiap hari yang bisa ia lakukan adalah menitipkan kue-kue buatannya ke beberapa penjual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN