Analisis

Tahun Politik, Semestinya Jadi Momentum Menguatkan Persatuan

12 Juli 2018   05:59 Diperbarui: 12 Juli 2018   06:49 221 0 0
Tahun Politik, Semestinya Jadi Momentum Menguatkan Persatuan
Bhineka Tunggal Ika - progres.id

Entah kenapa, ketika memasuki tahun politik, masyarakat selalu 'dipecah' menjadi dua kubu. Pihak yang mendukung sama pihak yang tidak mendukung. Teman dan lawan seakan menjadi hal yang nyata dalam pertarungan politik. Dan karena memposisikan sebagai lawan, tak jarang antar pihak ini terus menyuarakan untuk saling berseteru. Ujaran kebencian dan caci maki juga terus bermunculan setiap hari. Teknologi yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan zaman, justru seringkali dimanfaatkan sebagai sarana untuk menebar kebencian.

Semestinya, kita semua paham. Indonesia adalah negara dengan tingkat keberagaman sangat tinggi. Indonesia juga mempunyai kekayaan sumber alam yang sangat melimpah. Indonesia juga mempunyai kekayaan adat dan budaya, yang tidak dimiliki banyak negara. Semestinya, diskusi untuk pengolahan alam itu muncul jelang perhelatan politik. 

Semestinya diskusi tentang keberagaman itu muncul sebelum perhelatan politik. Apakah hal itu terjadi saat ini? Dalam pilkada serentak kemarin, apakah persoalan kerusakan lingkungan banyak dibahas oleh elit politik dan paslon?

Pilkada telah usai. Lalu, bagaimana dengan jelang pemilihan legislative pemilihan presiden ini? Apakah diskusi yang membantun itu terjadi? Belakangan, banyak tokoh menyuarakan agar tidak menggunakan sentimen SARA dalam politik. Jangan mengutip ayat-ayat kitab suci untuk kepentingan politik. Dan jangan pula saling menebar kebencian untuk kepentingan politik. Tak dipungkiri, masih saja ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan di perhelatan politik ini.

Padahal, menebar ayat perang dan kebencian pada kelompok tertentu, sebenarnya tidak dibenarkan. Dalam koteks agama, tidak ada satupun agama yang ada di bumi ini yang menganjurkan untuk saling bertikai antar sesama. Indonesia adalah negara damai. 

Mari kita lihat semuanya berdasarkan konteksnya. Ketika di era perjuangan merebut kemerdekaan, seruan untuk berjihad melawan penjajah masih relevan untuk dibahas. 

Karena setiap manusia diciptakan Tuhan di dunia ini dalam kondisi yang merdeka. Menjadi hal setiap individu untuk bisa hidup merdeka. Jika hanya karena perhelatan politik, dan Indonesia dalam kondisi damai tidak ada perang, apakah penggunaan ayat-ayat perang masih relevan? Mari kita berdialog dan berdiskusi secara sehat dan terbuka.

Mari saling memberikan pendidikan politik yang positif bagi kita semua. Para tokoh yang berada disekitar kursi kekuasaan, bertarunglah ditingkat ide dan gagasan secara sehat. Sekarang bukan lagi eranya bertarung dengan menggunakan otot. Bertarunglah ditingkat gagasan. Dan masyarakat juga harus menjadi masyarakat yang mampu melihat segala sesuatunya secara obyektif. 

Literasi media harus dikuatkan. Jangan lagi menjadikan berita hoax sebagai sumber kebenaran. Ingat, provokasi kebencian hanya akan menjauhkan kita dari hidup rukun. Padahal hidup rukun dan saling berdampingan antar sesama itu sangat dianjurkan. Bahkan dalam Al Quran juga dianjurkan, agar setiap muslim saling mengenal satu dengan yang lainnya. Karena Allah menciptakan manusia berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Salam.