Mohon tunggu...
Ahmad Ali Rendra
Ahmad Ali Rendra Mohon Tunggu... Petani - Kartawedhana

Seorang Amatir

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hikayat Kerajaan Lada di Selatan Borneo

11 Maret 2022   15:12 Diperbarui: 11 Maret 2022   16:03 472 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pangeran Banjar, Sumber Foto : C.A.L.M. Schwaner, 1853.

Oleh : Rendra

Pada masa kuno, rempah-rempah merupakan simbol eksotisme, kekayaan dan sarat dengan kesakralan. Dalam berbagai manuskrip kuno di Mesir, Tiongkok, Mesopotamia, India, Yunani, Romawi, serta Jazirah Arab, rempah-rempah mulanya hanya dipercaya sebagai panacea (obat penyembuh) daripada pecita rasa makanan. 

Di berbagai belahan dunia pada masa lalu rempah-rempah menjadi komoditi yang amat mahal. Seperti di Timur Tengah dan Eropa rempah-rempah digunakan sebagai bahan makanan sampai dengan bahan obat-obatan dan kosmetik. Tentu ini menjadikan berlomba-lombanya para pedagang dunia di masa lalu berlayar ke wilayah Nusantara yang terkenal akan negeri-negeri surga penghasil rempah.

Sejak permintaan rempah-rempah di pasar dunia mulai meningkat pada abad ke-16 Masehi, para pedagang dari berbagai daerah dan negara mulai berkunjung ke Nusantara. Kesultanan Banten di Jawa bagian Barat dengan bandar dagangnya merupakan pusat perdagangan lada terbesar yang ada di Nusantara sebelumnya. Salah satu pemasok utama lada Kesultanan Banten adalah Lampung. Namun pusat perdagangan lada di Banten terus mengalami penurunan akibat kekacauan dan berubah-ubahnya iklim politik dan kekuasaan di Banten. 

Banten terus mengalami goncangan keamanan dan kacaunya stabilitas politik sejak tahun 1598. Misalnya, pada pertempuran laut dekat kota Banten antara lima kapal Belanda dengan pasukan besar Portugis tahun 1601 yang membuat para pedagang dari China terpaksa meninggalkan Banten dan menyinggahi Bandar Banjarmasin yang lebih aman.

Kemudian sekitar tahun 1610-an ketika para pedagang Tionghoa mulai terusir dari perdagangan lada di Batam dan Jambi oleh pedagang Inggris dan Belanda. Mereka juga tidak bisa mendapakan satupun lada dari Patani, setelah daerah-daerah penghasil lada Johor dan Kedah yang mengekspor barang-barangnya ke Patani dihancurkan oleh non-Tionghoa.

Hasilnya, orang Tionghoa mengubah perhatiannya ke arah Banjarmasin. Langkah pedagang Tionghoa ini diikuti oleh pedagang-pedagang Jawa, Makasar, dan akhirnya diikuti pula oleh Portugis, Belanda, Inggris dan Denmark. Komoditas yang diperdagangkan di Kalimantan Selatan sebelumnya pada kisaran abad ke-16 Masehi, seperti tertulis dalam Hikayat Banjar, berupa yaitu kayu, rotan, damar, lilin, kayu putih, berlian, dan emas. Komoditas diangkut ke pusat perdagangan melalui transportasi sungai.

Baru sejak abad ke-17 hingga abad ke-18 lada merupakan salah satu komoditas penting di Kalimantan Selatan. Lada diproduksi oleh masyarakat suku Dayak di pedesaan, diangkut melalui sungai, dan kemudian diperdagangkan melalui pelabuhan terpenting di wilayah Kalimantan Selatan. 

Perkembangan perdagangan juga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan politik dan pemerintahan di Kerajaan Banjar. Para penguasa (the ruling class) berusaha dengan cepat untuk memperoleh tanah lebih luas dalam bentuk tanah apanase yang dijadikan wilayah penguasaan penanaman lada.

Penanaman lada ini berkembang didorong oleh kedatangan para pedagang antar pulau ataupun dari Eropa, Arab dan China yang membawa kapal-kapal mereka dengan modal besar. Kedatangan para saudagar ini meramaikan dunia perdagangan Kesultanan Banjar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan