Digital Pilihan

Risiko Kesehatan Menghantui Pekerja IT? Ini Solusinya

12 Juni 2018   13:00 Diperbarui: 12 Juni 2018   13:07 579 0 0
Risiko Kesehatan Menghantui Pekerja IT? Ini Solusinya
(sumber: theodysseyonline.com)

Bekerja di industri teknologi informasi membutuhkan akurasi yang tinggi. Duduk di depan komputer selama berjam-jam menjadi hal yang biasa. Karena terlalu lama duduk di depan komputer, pekerja sering melupakan posisi duduk yang baik dan memilih duduk dengan posisi yang menurutnya nyaman. Posisi duduk yang menurutnya nyaman tersebut belum tentu baik untuk postur tubuhnya.

Gerakan mengetik yang terus menerus dan berulang ternyata berdampak bagi kesehatan. Belum lagi posisi tangan yang salah saat mengetik. Hal tersebut memunculkan beragam resiko kesehatan bagi pekerja IT, mulai dari gangguan pengelihatan, kegemukan, musculoskeletal disorder, serta tekanan darah tinggi.

Selain dihantui resiko kesehatan fisik, pekerja di bidang IT juga harus mewaspadai resiko kesehatan mental. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, seperti beban kerja yang melebihi batas, lembur, tuntutan client, lingkungan kerja, target, dan deadline yang sempit. Dampaknya, pekerja sering merasa stres karena pekerjaan. Seperti yang dialami oleh CEO sekaligus pembuat aplikasi kesehatan Chunyu Doctor, Zhang Rui yang meninggal dunia karena serangan jantung di usia 44 tahun.

Salah satu penyebab kematiannya adalah aturan yang diterapkannya yaitu jam kerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari seminggu. Direktur Data dan Teknologi Alibaba, Ou Jiliang meninggal di meja kerjanya tanpa gejala dan Assosiate Editor Tianya, Jin Bo mengalami pendarahan otak. Keduanya meninggal karena bekerja terlalu lama.

Joseph Thomas, karyawan software engineer Uber Inc bunuh diri karena tekanan kerja serta lingkungan kerja tidak baik. Kasus-kasus kematian ini hendaknya menjadi pengingat untuk meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental.

Menjaga kesehatan saat bekerja dapat dilakukan dengan menerapkan ergonomics serta memanajemen stres. Hasil penelitian yang dilakukan di Telecom Serbia menunjukkan bahwa keluhan kesehatan yang paling banyak adalah musculoskeletal disorder, panyakit pengelihatan, dan keluhan mental.

Dengan menerapkan ergonomics, karyawan merasa lebih segar dan produktif di tempat kerja. Musculoskeletal disorder dapat dicegah dengan menyediakan kursi yang nyaman dan pas, menerapkan posisi yang benar saat duduk di depan komputer yaitu posisi tangan dan kaki rileks dan pandangan mata sejajar dengan monitor.

Posisi telapak kaki menempel pada lantai dan tidak menumpukan pada tumit atau ujung jari. Ketika mengetik jangan menumpu pada pergelangan tangan, tetapi pada jari tangan. Selain itu, bekerja sambil berdiri juga dapat mengurangi cidera punggung dan meningkatkan sirkulasi.

Memanajemen stres kerja penting dilakukan karena menurut laporan NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health) 80% pekerja merasa stres kerja, hampir setengahnya mengatakan mereka membutuhkan bantuan untuk memanajemen stres dan 42% mengatakan teman kerjanya juga  membutuhkan bantuan yang sama.

26% pekerja mengalami burned outatau stres karena pekerjaannya. 9% mengetahui adanya serangan atau tindak kekerasan di tempat kerja mereka dan 18% pernah mengalami semacam ancaman atau intimidasi verbal dalam setahun terakhir. Data dari NIOSH dan contoh kasus di atas menunjukan bahwa stres kerja, overwork, dan lingkungan kerja menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan pekerja IT.

Berikut cara yang dapat dilakukan untuk memanajemen stres kerja

Mencari tahu apa penyebab stress kerja.

Menanggapi stress dengan cara yang sehat seperti menyisihkan waktu untuk melakukan hobi, membaca, menghabiskan waktu dengan kelurga, dan olahraga. Mendapat tidur yang berkualitas penting untuk memanajemen stres. 

Membuat batasan antara lingkup pekerjaan dan kehidupan pribadi, membuat batasan yang jelas antara dua bidang ini dapat mengurangi potensi konflik kehidupan dan kerja.

Menyempatkan waktu untuk mengisi ulang semangat kerja, melalui liburan.

Belajar untuk tetap rileks karena otak manusia membutuhkan istirahat setiap 2 jam dan tubuh membutuhkan istirahat setiap 1 jam.

Berbicara kepada supervisor, membuat rencana yang efektif untuk memanajemen stres yang dihadapi. Menerapkan keterbukaan antara atasan dengan karyawannya, sehingga karyawan tahu kemana mereka dapat membicarakan permasalahan di tempat kerja yang membuatnya stres.

Mencari dukungan, mendapatkan bantuan dan dukungan dari keluarga atau sahabat dapat meningkatkan kemampuan untuk memanajemen stres.

Menciptakan lingkungan kerja yang baik juga dapat mengurangi stres kerja, PayScale merilis daftar perusahaan dengan tingkat stres terendah yaitu Nokia, Yahoo!, dan Google. Google dapat menempati posisi tersebut karena Google memberikan banyak fasilitas untuk karyawannya agar nyaman saat melakukan pekerjaannya. Seperti fasilitas transportasi, olahraga, makan, game, aturan 80/20, cuti melahirkan dan punya anak, dan masih banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2