Mohon tunggu...
Ahmad AdiPrawiradika
Ahmad AdiPrawiradika Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Do the best for your life

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Kemacetan Takkan Berakhir

15 Juni 2019   14:13 Diperbarui: 17 Juni 2019   13:43 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kemacetan Takkan Berakhir
img-20190526-060909-5d04b6d5c01a4c22024219a7.jpg

Kata diatas saya rasa layak untuk menggambarkan kondisi jalanan kota serang saat ini. Kemarin sore ketika saya naik angkot dari ciracas menuju terminal pakupatan, kemacetan kembali terpampang nyata dihadapan saya. Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh selama kurang lebih setengah jam tersebut pada akhirnya memakan waktu kira-kira satu jam.

Ekspresi para penumpang pun nampak begitu kesal, bosan dan sedikit jengkel saja ketika gerombolan pengguna sepeda motor berkendara seenaknya dengan menyulap ruang pejalan kaki menjadi jalur khusus sepeda motor. Mereka silih berganti menyalip kendaraan yang ada didepannya dengan angkuhnya tanpa pernah berpikir bahwa prilakunya itu bisa membahayakan dirinya sendiri dan pengendara lain.

Wajah jalanan kota serang yang kian hari kian suram ini tentunya membuat saya merasa perihatin. Pasalnya upaya pemerintahan untuk mengurangi kemacetan malah menghasilkan buah yang sebaliknya. Bukannya berkurang kemacetan di kota serang malah semakin bertambah. Fenomena kemacetan di kota serang ini seakan mematahkan opini publik selama ini yang menyatakan bahwa dengan bertambahnya luas jalan maka kemacetan akan bisa dikurangi. Namun fakta membuktikan bahwa bertambahnya luas jalan nyatanya diikuti dengan bertambahnya luas jumlah kendaraan yang membuat kemacetan tetap menggurita bahkan semakin bertambah.

Penambahan luas jalan seolah menjadi pemantik dan penyemangat masyarakat untuk membeli dan menambah kendaraan pribadinya. Celakanya lagi yang bertambah bukan hanya kendaraan pribadi namun juga angkutan umum semisal angkot, taksi,dan gojek

Berpijak pada fakta diatas maka saya tanpa sungkan menyatakan bahwa kemacetan di kota serang tidak akan pernah berakhir. Apapun upaya yang dilakukan pemerintah tanpa adanya perubahan prilaku masyarakat yang rakus akan kendaraan dan jalanan maka kemacetan akan tetap awet. Kalau kita mau mengubah kondisi ini maka budaya yang menjadikan kendaraan pribadi sebagai simbol status sosial yang selama ini telah menyandera jalanan kota serang sudah selayaknya di hilangkan.

Begitu juga dengan para penyedia jasa angkutan umum sudah selayaknya tidak terus menerus menambah murni dan asli yang selama ini membuat jalanan kota medan semakin semrawut. Kalau hal ini tidak dilakukan, jangan pernah berharap kota serang akan terbebas dari kemacetan. Bahkan bila dalam 10 tahun kedepan wajah jalanan kota serang tak juga berubah, maka bersiaplah nantinya jalanan kota serang akan semakin padat, bahkan mungkin tidak bisa di gunakan oleh para pejalan kaki. Mari bersama-sama membangun kota serang menjadi lebih baik lagi. Pemerintah melakukan apa yang menjadi tugasnya dan kita melakukan apa yang menjadi kewajiban kita.