Ahlis Qoidah Noor
Ahlis Qoidah Noor Writer, Educator, Researcher

trying new thing, loving challenge, finding lively life. My Email : aqhoin@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Penyakitku Hapus Dosaku

7 Desember 2018   12:36 Diperbarui: 7 Desember 2018   15:31 220 0 0

"Kulo nuwun", terdengar suara seorang laki-laki bertamu ke rumah. Masih sorean sekitar pukul 5. Aku yang sedang di kamar bersama anakku untuk mengajari Matematika bergegas keluar. 

" Monggo", kataku sambil mengamati seorang lelaku yang berusia sekitar 55 tahun dengan wajah yang agak kering, keriput , botak , tinggi besar dan bermata sipit. Spontan aku sebut sebuah nama. Dia tampak senang dan tersenyum. Kupersilakan masuk. Kutanya apakah ingin bertemu suamiku. Aku tahu dia sahabat kental suamiku yang lama tak silaturrahmi. 

Dua tahun yang lalu dan sebelumnya mereka sering menghabiskan waktu bersama di rumah. Mengobrol apa saja kegiatan yang bisa mereka berdua lakukan ataupun bisnis yang tengah dijalani. Lelaki yang di hadapanku ini dulunya gagah, berkulit kencang, tertawanya kencang dan selalu menolong siapapun yang membutuhkan. Meskipun dia beda etnis dengan kami tetapi tak menghalangi persahabatan antara kami dan dia. Dia juga memeluk agama yang berbeda dan itu pun tidak menjadikan kami jengah dalam bergaul.

" Silakan duduk,pak", kupersilahkan dia dan kusampaikan tanganku untuk menyalaminya. Dia menolak halus sambil bilang, " Maaf , saya tidak menyentuh perempuan ", katanya sambil takzim duduk.

" Kemana saja bapak selama ini. Saya dan suami baru minggu ini "rerasan" nama bapak.Kenapa lama tak berkunjung", kataku sambil mempersilahkan secangkir air putih. Dia tak minum yang manis.

" Wah, ceritanya panjang bu. Ibu pasti sudah tahu bagaimana bisnis saya yang dulu", katanya balik .

Dia dulu pebisnis handal, tembakau, madu, budidaya jangkrik, rokok sampai bisnis yang lain-lain. Aku agak susah menyebutkan saking banyaknya. Dari bisnis itu tidak semuanya lancar karena dia harus kucing-kucingan dengan petugas dan sebagian dari hartanya habis untuk kegiatan itu.

" Sampai suatu ketika bu, saya terkena kelenjar getah bening di kepala", katanya sambil memperlihatkan jahitan di kepala dari atas ke bawah.

" Saya coba berobat ke Singapura. Harta saya sampai habis untuk itu. Rumah saya jual untuk berobat. Dan tragisnya saya tak bisa pulang balik ke Indonesia. "

" Lalu, bagaimana bapak bisa sampai kembali ?".

" Ajaibnya , ada seseorang yang menolong saya kembali ke Indonesia. Dia support dana kepulangan saya bahkan dia juga memberi sedikit dana untuk saya mencari kontrakan ".

" Bukan cuma itu saja ujian saya. Setelah kepala terkena , kelanjar getah bening itu berpindah ke leher kanan , lalu ke kiri dan terakhir saya terkena glaukoma. Ibu bisa lihat foto saya ini ", dia memperlihatkan foto seorang lelaki berkacamata dan tanpa ekspresi. Dia memperlihatkan di HPnya . Sungguh foto seorang lelaki yang sangat memprihatinkan. 

" Dimana foto itu pak?", tanyaku sedikit ingin tahu, karena saya lihat di foto itu ada gambar beberapa tombak warna kuning sebagai background.

" Itu tempat dimana saya diperkenalkan dengan seseorang ", katanya agak menyembunyikan sesuatu. Aku biarkan saja dan tidak bertanya lebih lanjut.

" Baiklah saya beri nomor suami saya saja ya pak, nanti bapak hubungi" kataku sambil mengetikkan nomor suami ke HP nya , karena dia terkendala dengan penglihatannya. 

" Terima kasih bu, ibu tahu saya pada saat sakit kelenjar getah bening yang saya derita dari leher kiri, kanan dan akhirnya gloukoma itu sangat ajaib. saya tidak punya uang sepeserpun untuk berobat. Saya hanya pasrah pada yang Kuasa. Saya menyadari dosa-dosa yang saya lakukan, kesombongan saya pada Nya. Mungkin inilah cobaan terberat dalam hidup ketika istri saya pun meninggalkan saya saat saya jatuh dan sakit.Saya hidup sendiri dan akhirnya saya diperkenalkan dengan seorang perempuan sholihah yang mau menerima saya yang pada waktu itu dalam kondisi miskin, sakit dan mata saya tak bisa melihat sama sekali.", katanya beruntun memenuhi rasa ingin tahu saya.

" Jadi bapak sekarang tidak tinggal lagi di kota " P "?, tanyaku.

" Tidak bu, saya ikut istri saya. Dari dialah saya belajar banyak tentang kehidupan sampai saya menjadi agak baikan seperti ini dan saya teringant untuk menemui suami ibu, sahabat yang paling mengerti saya dalam susah dan senang".

Aku menghantarkannya ke halaman. Aku tangkupkan tanganku sebagai tanda memberi salam kepadanya. Berjalan dengan agak pincang dia. Mungkin salah satu dari efek stroke yang pernah dideritanya. 

Tetapi dari semua itu dia memang sahabat suami saya yang paling terbuka dalam urusan bisnis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2