Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009; asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan pernah belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari). Bukunya tunggalnya, di antaranya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ibu Mana yang Sudi Menerima Anaknya Difitnah?

11 Februari 2019   21:50 Diperbarui: 12 Februari 2019   00:40 95 2 1

"Kalau ada yang mengatakan 'Sandiwara Uno' itu adalah sesuatu yang mungkin dia (Sandi) tidak apa-apa, tapi yang sakit hati itu ibunya," kata Mien Uno di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Senin (11/2), seperti yang saya baca melalui berita CNN dengan judul "Ibu Sandiaga Tuntut Penyebar Sandiwara Uno Minta Maaf".

Menurut saya, Mien Uno atau lengkapnya Rachmini Rachman Uno sebenarnya bukanlah satu-satunya ibu yang sakit hati karena sebelum Pilpres 2019, kampanye hitam dengan fitnah yang massif memang paling jelas mencuat pada 2014.

Jokowi merupakan "korban" fitnah yang hingga 2019 masih mengendap dalam alam bawah sadar sebagian orang Indonesia. Fitnah itu seputar "Jokowi PKI", "Jokowi Anti-Islam", "Jokowi Capres Boneka", dan seterusnya.

Lantas, bagaimana perasaan ibunya Jokowi atas fitnah se-Indonesia raya ketika itu (2014)?

Saya belum pernah membaca,  pasca-kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014 itu ibunya Jokowi mengumbar rasa "sakit hati" ke media. Di samping itu, istrinya Jokowi, Iriana, pun tidak mengumbar rasa "sakit".

Saya menduga, kedua perempuan berhati baja tersebut sudah siap terhadap dinamika politik yang dirusak oleh kaum Machiavellianis. Kedua perempuan tersebut tidak juga "memanfaatkan" posisi politik Jokowi yang sangat strategis.

Apakah hanya ibu-ibu itu yang boleh mengalami "sakit hati" karena fitnah?

Keluarga kami juga lho. Pertama, yakni Mbah Putri alias ibunya bapak saya. Ketika bapak saya, Slamet Sudarto, difitnah "PKI" oleh oknum di Kab. Bangka pada 1970-an. Bapak saya "di-PHK" sebagai PNS fungsional (guru Sekolah Teknik Negeri Sungailiat) dan status sekaligus gaji sebagai pensiunan veteran perang langsung terhenti, sehingga perekonomian keluarga kami langsung kacau-balau, padahal orang tua saya juga menghidupi beberapa anak angkat yang berbeda agama (semuanya muslim). Hanya gara-gara bapak saya orang Madiun. 

Kedua, jelas, ibu saya yang setiap hari mengetahui siapa bapak saya. Ibu saya yang paling mengerti bahwa bapak saya berangkat ke Sungailiat pada 1950 seusai "pensiun" dari Tentara Pelajar divisi Malang dan lulus PGSLA (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Atas)  untuk memenuhi tugas dari Presiden Soekarno sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada 1987 bapak-ibu saya malah diundang oleh Presiden Soeharto ke Jakarta dalam rangka KB Lestari, padahal rezim Soeharto paling anti-PKI. Lalu pada 2004 kakak kandung saya menjadi PNS di Provinsi Babel.

Ya, fitnah yang keji! Karena dasarnya fitnah sejati, jelas, tidak pernah bisa terbukti. 

Sementara saya juga menjadi "korban" fitnah sejak 2006. Fitnah terkait dengan ulasan-ulasan kritis secara tertulis, baik terhadap kartun-mengartun maupun tulis-menulis, bahkan hingga 2019 ini. Ibu saya pun pernah "meminta" saya berhenti menulis atau mengamati dunia sosial-budaya di Babel.

Saya bergeming karena saya telanjur jatuh cinta pada tulis-menulis, dan menulis bukanlah sekadar mengumbar rasa. Saya semakin serius mendalami kegiatan tulis-menulis dan beberapa kali menguji mental saya dalam kompetisi penulisan, selain gambar-menggambar.

Saya biarkan saja umbaran fitnah sampai ke mana-mana karena bapak-ibu saya lebih menderita akibat fitnah daripada saya, dan saya yakin, bahwa saya para pemfitnah akan menuai hasilnya sendiri kelak. Ya, saya selalu yakin itu pasti terjadi, entah kapan "kelak" itu. Dan, ternyata Tuhan memberkati niat dan kegiatan saya, saya  berjodoh dengan orang luar Babel, istri saya sangat mendukung pilihan saya dalam berkarya, menjauhi komunitas-komunitas berisi kasak-kusuk (fitnah), dan saya bisa mengembara ke daerah-daerah yang jauh dari Babel.

Jadi, pada dasarnya, tidak seorang ibu pun sudi menerima anaknya menjadi objek fitnah, meskipun di luar ranah politik praktis yang miris nan sadis apalagi dalam rangka Pemilu Serentak 2019. Demikian pula dengan istri yang baik, yang merupakan manifestasi berkat Tuhan. Fitnah bisa disebarluaskan atau ditularkan, tetapi tidak satu fitnah pun yang akan lolos dari pertanggungjawaban hidup si pemfitnah sekaligus penyebarnya. Yakinlah itu, Bu Mien Uno! Gusti Allah boten sare.

*******
Balikpapan, 11 Februari 2019