Mohon tunggu...
Agustina Purwantini
Agustina Purwantini Mohon Tunggu... Sang Pembelajar

Pengelola www.tinbejogja.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pesan Keharmoni(s)an dari Sound of Borobudur

4 Juli 2021   07:33 Diperbarui: 4 Juli 2021   20:15 141 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pesan Keharmoni(s)an dari Sound of Borobudur
Trie Utami dan Dewa Budjana (Dokumentasi KJog-Riana Dewie)

Pagi itu saya terharu biru oleh lagu kebangsaan "Indonesia Raya", yang sama-sama kami lantunkan untuk mengawali serangkaian acara International Conference Sound of Borobudur. Tak seberapa lama kemudian, lagu wajib nasional berjudul "Indonesia Pusaka" (yang dibawakan oleh tim musisi dari Sound of Borobudur Movement) juga mengharu biru perasaan saya.

Begitulah adanya. Bukankah "Indonesia Raya" memang selalu syahdu bilamana dinyanyikan sembari diresapi isinya? Demikian pula "Indonesia Pusaka", yang kebetulan merupakan salah satu lagu nasional favorit saya.

Alhasil, pada seremonial acara pembukaan International Conference Sound of Borobudur tempo hari, saya sempat terhanyut dalam perasaan. B-a-p-e-r. Katakanlah, saya pagi itu lagi-lagi dibuat sangat bucin kepada tanah air Indonesia.

Terlebih lagu nasional "Indonesia Pusaka" disajikan dengan cara tak biasa alias istimewa. Liriknya dilantunkan sepenuh perasaan oleh musisi/penyanyi Trie Utami. Diiringi permainan musik oleh para koleganya di tim Sound of Borobudur Movement. Di antaranya Dewa Budjana, Vicky Sianipar, Samuel Glenn, Amoris, dan Flavius Nestor Embun.

Lalu, di mana letak keistimewaannya? Tentu saja keistimewaannya terletak pada alat-alat musik yang dipergunakan (dimainkan). Yup! Alat-alat musik yang mereka pergunakan adalah alat-alat musik yang direkonstruksi dari deretan relief yang terdapat pada dinding Candi Borobudur.

Dokumentasi KJog-Riana Dewie
Dokumentasi KJog-Riana Dewie
Jadi, dapat dikatakan bahwa tim Sound of Borobudur telah berhasil menghidupkan kisah bermusik yang terdokumentasikan di sebagian relief Candi Borobudur. Itulah sebabnya tak mengherankan, kalau perwujudan fisik alat-alat musik tersebut terasa kurang lazim bagi audiens zaman now; manusia abad ke-21. Sementara alat-alat musik yang dimainkan berasal dari masa silam. Beberapa abad yang lalu.

Kalaupun sekarang di beberapa daerah masih ada jejaknya, belum tentu bentuknya persis sama. Sangat mungkin sudah terjadi modifikasi seiring perkembangan zaman.

Dokumentasi KJog-Riana Dewie
Dokumentasi KJog-Riana Dewie
Demikianlah semuanya bermula. Berawal dari rasa kepo terhadap "penampakan alat-alat musik" yang terpahat dalam serangkaian relief Candi Borobudur, Tri Utami (sebagai inisiator) dan kawan-kawan kemudian mereka-reka bentuk beserta bunyi masing-masing alat musik tersebut.

Kiranya itulah yang kemudian memantik ide untuk menamai aktivitas atau gerakan tersebut dengan Sound of Borobudur. Suara-suara atau bebunyian yang terinspirasi oleh Candi Borobudur. Yang bersumber dari kandungan informasi yang tersimpan dalam deretan relief indahnya.

Jangan berpikiran bahwa proses yang dilalui tim Sound of Borobudur adalah proses yang mudah dan cepat. Perlu diketahui bahwa kerja-kerja intensif dalam meneliti dan merekonstruksi bermula pada tahun 2016. Hasilnya, setelah kurang lebih lima tahun berkutat serius dengan relief-relief yang menghiasi Candi Borobudur, terciptalah beberapa alat musik dan aransemen-aransemen yang ciamik.

Termasuk yang dipakai untuk mengiringi Mbak Iie (Trie Utami) saat mendendangkan "Indonesia Pusaka", dalam pementasan di hadapan peserta International Conference Sound of Borobudur. Sebuah konferensi penuh makna yang menegaskan betapa Wonderful Indonesia, yang memiliki destinasi wisata super keren seperti Candi Borobudur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN