Humaniora Pilihan

Temuan Dermaga Kuna Masa Sriwijaya di Bangka

11 Agustus 2018   00:07 Diperbarui: 11 Agustus 2018   03:20 817 7 2
Temuan Dermaga Kuna Masa Sriwijaya di Bangka
Foto Sisa Dermaga Kuna | dok. pusat penelitian arkeolog nasional

Pulau Bangka adalah sedikit pulau penting di kawasan selat Malaka yang cukup popular sejak awal millennium pertama. Berita paling tua yang menyebut Bangka diperoleh dari sebuah karya sastra Buddha yang ditulis pada abad ke-3 Masehi (Mhniddesa) menyebutkan sejumlah nama tempat di Asia, antara lain tentang Swarnnabhmi, Wangka, dan Jawa. 

Nama Swarnnabhmi dapat diidentifikasikan dengan Sumatra sebagaimana disebutkan juga dalam kitab Milindapaca, sedangkan Wangka mungkin dapat diidentifikasikan dengan Bangka (Damais 1995, 85).

Berita Cina dari sekitar abad ke-3 M juga menyinggung tentang aktivitas masyarakat Bangka kuna pada masa itu,  "....Teluk Wen dan para penduduknya di daerah P'u-lei yang berlayar ke laut untuk memotong perjalanan kapal dan menukar bahan makanan dengan benda-benda logam....".  

Teluk Wen dideskripsikan oleh Wolters verada di utara Karawang. Wolters yakin bahwa yang disebut sebagai Wen adalah toponim; yang merujuk kepada bukit Menumbing di baratlaut pulau Bangka dan menjadi daerah yang penting untuk orang orang Tamil pada sekitar abad ke-11 M (Wolters,1979 : 29). 

Pulau Bangka menjadi penting karena pantai barat Bangka merupakan wilayah yang strategis pada masa lalu karena posisinya yang berhadapan langsung dengan pantai timur Sumatra Selatan, yang diketahui sebagai pusat kerajaan Sriwijaya pada sekitar abad ke-7 Masehi.  

Di samping itu, terdapat Selat Bangka yang bersambung dengan Selat malaka yang merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan India - Nusantara -- Cina pada masa itu.  

Pulau Bangka mulai dipandang penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara setelah satu prasasti ditemukan di sana.  Adalah Prasasti Kota Kapur yang merupakan  salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiya, seorang penguasa dari Kadtuan rwijaya. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak. Batu kutukan ini ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno.

 Prasasti Kota Kapur adalah prasasti rwijaya yang pertama kali ditemukan tahun 1892 oleh J.K.van der Meulen, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada tanggal 29 November 1920, dan beberapa hari sebelumnya telah ditemukan Prasasti Talang Tuo pada 17 November 1920. Orang yang pertama kali membaca prasasti ini adalah H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. 

Pada mulanya  ia menganggap "rwijaya" itu adalah nama seorang raja (Kern 1913, 214). Kemudian atas jasa Cds, mulailah diketahui bahwa di Sumatra pada abad ke-7 Masehi ada sebuah kerajaan besar bernama rwijaya (Cds dan L. Ch. Damais 1989, 1-46).

Meskipun Prasasti Kota Kapur telah ditemukan sejak 100 tahun yang lalu, penelitian arkeologi di kawasan ini baru dilakukan pertama kali oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1993 yang melaporkan adanya benteng tanah di kawasan situs Kota Kapur  (Tim Pelaksana.2007: 11).  

Dalam perkembangannya, penelitian arkeologi juga menghasilkan informasi tentang adanya permukiman di tepi pantai barat dengan sejumlah temuan penting seperti  reruntuhan candi, benteng tanah, dan fragmen arca Wisnu yang mungkin berasal dari abad ke-6/ 7 Masehi.

Penelitian terakhir Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 2013 di utara kawasan situs Kota Kapur. Areal ini tampaknya dahulu merupakan rawa belakang yang berada kurang dari satu kilometer dari Selat Bangka.  

Saat ini kawasan  sudah mengalami sedimentasi sehingga menjadi daratan yang luas. Sebagian lahan dijadikan perkebunan sawit dan sisanya menjadi semak belukar yang cukup rapat.  Salahh satu aliran sungai yang melewati areal ini adalah sungai Air Pancur yang bermuara di Selat Bangka. 

Dan, di aliran Sungai Pancur inilah penggalian arkeologi dilakukan, dengan membuka 11 kotak ekskavasi seluas 30 meter persegi. Selama penggalian berlangsung, aliran sungai terpaksa dipindahkan terlebih dahulu karena itu jauh lebih mudah dibanding membendung aliran sungainya (dan itu tentunya mustahil). Penggalian baru menampakkan hasilnya yakni sisa dermaga kuna, setelah menggali hampir sedalam 110-140 cm dari permukaan tanah sekarang.  

Sebuah dermaga kuna yang diusung oleh dua deretan tiang kayu nibung (Oncospermatigilarium) [1] yang mengarah dari timur ke barat.  Jarak antar tiang cukup rapat sekitar 20 - 30 cm.  

Jika dihitung, panjang seluruh deretan tiang kayu ini mencapai  panjang 6.7 meter dengan lebar sekitar 1 meter. Di ujung barat deretan tiang nibung ini terdapat susunan lantai kayu yang dibuat dari gelondongan kayu pelangas (aporoso aurita) yang dijajarkan timur-barat sebanyak lima buah.  

Untuk memperkuat susunan lantai kayu gelondongan agar tidak goyang maka pada masing masing kayu ditancapkan tiang-tiang kayu dan pada beberapa bagian kayu terutama sisi utara diikat dengan tali ijuk.  

Tampaknya susunan lantai kayu ini adalah tempat pijakan pertama orang setelah turun dari kapal, lalu melalui jembatan sepanjang 6.7 meter menuju daratan.

 Foto 2 Proses ekskavasi di Sungai Pancur | dok. pusat penelitian arkeolog nasional
 Foto 2 Proses ekskavasi di Sungai Pancur | dok. pusat penelitian arkeolog nasional
Hasil pertanggalan mutlak terhadap sampel tiang kayu dengan metode C14 diketahui bahwa tiang kayu ini berasal dari masa sekitar 480-620 M (abad ke-5-7 M), dan sampel ijuk berasal dari sekitar 250-590 M (abad ke 3-6 M), yang berarti sejaman dengan temuan prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 M (Coedes, 2010:126),  Arca Wisnu Kota Kapur yang dipertanggalkan sekitar abad ke 6/7 M

[2] dan sisa candi yang dipertanggalkan 532 M (Dalsheimer dan Manguin tt, 14). Dengan demikian jelas bahwa dermaga tersebut merupakan bagian dari kelengkapan komponen permukiman di situs Kota Kapur pada masa lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2