Mohon tunggu...
Agus Suwanto
Agus Suwanto Mohon Tunggu... Engineer

Pekerja proyek yang hanya ingin menulis di waktu luang.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tidak Ada Aliran Sesat, yang Ada Hanya Berbeda

7 Februari 2018   08:41 Diperbarui: 7 Februari 2018   08:52 1780 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tidak Ada Aliran Sesat, yang Ada Hanya Berbeda
Ilustrasi:radarsarko.com

Banyak orang masih mengira bahwa ajaran sesat itu adalah kelompok yang melakukan ritual ajaran pemujaan yang aneh, jahat dan sadis. Bahkan ada yang berpikiran bahwa mereka adalah pemuja Setan. Namun kenyataannya, kebanyakan ajaran yang dianggap sesat malah kelihatan wajar-wajar saja, tidak ada yang salah pada mereka.

Dalam istilah yang sederhana, ajaran atau aliran sesat bisa diartikan sebagai sebuah pandangan atau doktrin teologis atau keagamaan yang dianggap bertentangan dengan keyakinan atau sistem keagamaan mainstream, yang diposisikan sebagai ajaran benar.

Dengan demikian, penilaian ajaran sesat atau benar sangat tergantung juga dari jumlah pengikut di daerah atau negara tertentu. Ajaran atau aliran yang memiliki pengikut mayoritas, secara otomatis akan memposisikan sebagai yang benar. Jika kemudian muncul ajaran lain yang bertentangan, di mana pengikutnya masih minoritas, maka penyematan 'sesat' akan dilakukan oleh yang mayoritas tersebut.

Jadi, sebenarnya bahwa "ajaran sesat" tidak mempunyai arti yang sepenuhnya obyektif. Stempel sesat bersifat subyektif dan bisa dari dua arah. Semua agama dan ajaran bisa saling menyesatkan satu sama lainnya. Tentunya, jika terjadi hal seperti ini akan mudah menimbulkan konflik.

Kategori ajaran sesat hanyalah sebagai kebalikan dari posisi suatu ajaran yang sebelumnya telah didefinisikan sebagai yang benar. Selain jumlah pengikut yang mayoritas, kekuatan politik dan kekuasaan juga bisa menjadi penentu terhadap sesat atau tidaknya suatu ajaran. Bisa jadi, ajaran atau aliran A diberi stempel sesat oleh aliran B di suatu daerah atau negara tertentu, namun bisa terjadi sebaliknya untuk daerah atau negara lain.

Sering juga tradisi-tradisi lokal yang sudah ada sebelumnya, dicap bidah dan sesat karena dianggap tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Padahal, yang sering terjadi bukan tidak sesuai dengan ajaran agama, namun hanya tidak sesuai dengan tafsir mereka saja.

Pelabelan sesat terhadap suatu ajaran, tidak mempunyai alasan yang benar-benar obyektif dan bisa diterima oleh semua pihak. Hal ini karena turunan ajaran adalah keyakinan individu yang sifatnya hubungan pribadi seseorang dengan Tuhannya, sehingga orang lain tidak punya hak untuk menilai benar atau salah. Yang berhak menilai sekaligus menghakimi hanyalah Tuhan.

Karena bersifat pribadi dan hanya berhubungan secara vertikal dengan Tuhan, sebenarnya keyakinan sesorang tidak ada pengaruhnya bagi sesama dan lingkungan sekitar. Yang mempunyai pengaruh dan manfaat adalah perbuatan dan amalan dari si individu tersebut, sekaligus akan dinilai baik-buruk atau benar-salah oleh orang lain.

Maka dari itu, ajaran yang dianggap sesat tersebut, bukanlah sesat, yang ada hanyalah ajaran yang berbeda.Yang bisa sesat adalah manusia itu sendiri. Manusia dikatakan sesat bukan karena ajaran atau keyakinan yang dianutnya, melainkan karena perkataan dan perbuatan jahatnya.

Seseorang, apapun agamanya, dikatakan sesat manakala dia telah kehilangan kemampuan untuk mendengar dan menuruti suara hatinya, sehingga mudah berbuat kejahatan, tanpa tahu lagi bahwa yang dilakukan itu adalah jahat. Itulah sesat yang sesungguhnya.

Dalai Lama, tokoh spiritual Budha dari Tibet, ketika ditanya tentang agama apa yang terbaik di dunia ini, beliau menjawab bahwa agama terbaik adalah yang bisa lebih mendekatkan seseorang pada Sang Cinta (Tuhan), yaitu agama yang membuat penganutnya menjadi orang yang lebih baik. Dalai lama juga mengatakan bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x