Mohon tunggu...
Agus Setiadi Sihombing
Agus Setiadi Sihombing Mohon Tunggu... Stay Humble!

Mewujudkan impian dengan menghadirkan mimpi bagi banyak orang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Luka Nestapa di Kampung Khatulistiwa

27 Januari 2020   06:00 Diperbarui: 27 Januari 2020   06:18 31 0 0 Mohon Tunggu...

Sebuah Pesan Untuk Negeriku

***

Pagi hari ketika fajar masih malu-malu menampakkan wujudnya ke bumi, Torang telah bersiap-siap untuk memulai perjalanan menuju kediaman tempat bekerja para pejabat kampungnya; Kampung Khatulistiwa. Entah apa yang mendorongnya pergi, yang pasti ia terlihat menggebu-gebu untuk dapat sampai di kediaman para pejabat kampungnya itu. Tampaknya, ada sesuatu yang sepertinya perlu segera ia udarakan di hadapan pejabat kampung.

Ia mulai memantapkan langkahnya menyusuri jalan berlumpur kampungnya itu. Kakinya terlihat begitu kejam menapak jalan berlumpur itu, hingga menyisakan telapak-telapak kaki yang terbentuk sempurna di sepanjang jalan. Membentuk jarak antartelapak kaki yang cukup jauh. Terlihat benar Torang sangat terburu-buru.

Ia tidak pergi sendirian. Ibu Marta, seorang ibu dari dusun kampung paling Timur dan Yabes, seorang pelajar yang biasa memimpin pergerakan turut serta mengikutinya. Masing-masing dari mereka juga memboyong sekelompok orang yang cukup banyak. Mereka memiliki tujuan yang sama: memperjuangkan nasib hidup di kampung yang dikata kaya dan sudah tujuh puluh empat tahun merdeka.

"Lihatlah kondisi kesehatan anak ibu ini!" seru ibu Marta sembari menunjuk anak kurang gizi di gendongannya. "Apakah karena ibu tinggal di pelosok kampung sehingga ibu dan teman-teman ibu lainnya dikesampingkan?" tambahnya kemudian menunjuk sekelompok orang yang turut bersamanya.

 "Alasan yang membuat kami datang ke sini adalah untuk memastikan bagaimana nasib dusun dan sekolah kami. Jalan dusun kami sangatlah buruk, apalagi saat hujan deras datang. Sementara untuk bersekolah, kami harus melalui sungai dengan ombak yang kuat. Adapun jembatan, hanyalah jembatan gantung yang ketika dilewati bergoyang dan mengumbar rasa takut di dalam benak kami. Sementara abdi kampung katakan, pendidikan adalah syarat utama memajukan kampung. Saat dimintai realisasinya, mereka hanya bisa memberi janji, janji, dan janji. Bahkan kerap terkesan fatamorgana dan hanya memberi ekspektasi yang menyakitkan kepada kami," sela Yabes menimpa dengan panjang lebar, seperti membumihanguskan kekesalannya.

"Ya sudah kalau begitu. Mari kita menghadap para pejabat kampung! Semoga segala aspirasi dan keluhan kita dapat didengarkan oleh mereka," seru Torang seraya melangkahkan kaki. Langkahnya tampak lebih bersemangat berkat kedatangan mereka.

Torang sebagai pemimpin barisan, berjalan paling depan dan menjadi penunjuk arah bagi rombongannya. "Ternyata bukan cuma saya yang mempertanyakan perihal nasib hidup di Kampung Khatulistiwa ini. Nyatanya masih banyak warga yang meminta belas kasihan dan pertanggungjawaban kepada para pejabat kampung. Itu artinya aku harus bisa meyakinkan para pejabat kampung untuk mau membantu hidup kami," gumamnya sembari berjalan dengan langkah seribu kaki.    

Namun menyedihkan, cuaca hari ini tak bersahabat. Mengusik langkah dan asa mereka. Petir berulang kali mendentum diikuti kilat yang turut menjalari langit pagi. Seketika awan putih bak kapas berubah menjadi awan cendawan hitam berbisa. Laksana hujan tumpah dengan lebatnya. Sementara, baru setengah perjalanan yang Torang dan rombongannya lalui.

"Ibu Marta, sebaiknya ibu beristirahat saja!" seru Torang seraya menghampiri bu Marta yang terlihat memaksakan dirinya untuk terus berjalan di tengah lebatnya hujan. Berlagak kebal terhadap hantaman rintik hujan. "Atau, kembalilah ke rumah Ibu! Sepertinya anak ibu menggigil kedingingan dan butuh tempat berteduh," tandasnya lagi.

"Tidak, nak! Ibu tidak apa-apa," jawab ibu Marta spontan. "Kamu juga tidak apa-apa kan, nak?" tambahnya meyakinkan Torang sembari menanyai anak yang ia gendong. Anaknya itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ke bawah, pertanda ia juga baik-baik saja. Meskipun sebenarnya, air muka mereka tertangkap tengah berbohong.

Begitu juga dengan para pelajar yang ikut dalam rombongan. Kerap kali mereka menyilangkan kedua tangan mereka ke bahu, pertanda tubuh mereka yang juga menggigil kedinginan. Akan tetapi, hal itu tidak cukup kuat untuk melerai mereka. Mereka tetap bersikukuh untuk tiba di kediaman pejabat kampung hari itu juga.

Raut wajah bahagia seketika terpancar di wajah Torang dan rombongannya. Sebab kini mereka telah tiba tepat di depan kediaman mewah para pejabat kampung. Cuacapun lekas membaik; hujan reda dan panas mentari datang menyinar dengan teriknya. Tampak pula segerombolan burung yang memulai aktivitasnya setelah dilerai hujan. Berterbangan ria mencari makanan ke hilir atau sekadar menikmati anugerah Tuhan dari atas cakrawala. Yang pasti, mereka telah menambah kehangatan hari itu.

Namun tidak demikian dengan kondisi batin Torang dan rombongannya. Di depan kediaman pejabat kampungnya itu, Torang melihat dengan jelas jalan menuju pintu kediaman yang sangat bagus. Tidak seperti jalan menuju rumahnya; berlumpur di musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Akan tetapi, Torang tidak mau berlama-lama melihat pemandangan kediaman yang amat menyeket hatinya itu. Sebagai pemimpin pergerakan, ia maju ke depan dengan sangat percaya diri. Dengan tegas dan lantang ia memperdengarkan teriakan aspirasi dan nasib hidup mereka di depan kediaman pejabat kampungnya itu.

 "Tuan, lihatlah bagaimana nasib kami, tuan! Ketidaknyamanan, ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, diskriminasi dan masalah lainnya selalu menghantui hidup kami. Tolonglah hidup kami, tuan! Janganlah kiranya tuan hanya memikirkan hidup tuan sendiri hingga kami menjadi dilupakan. Kami juga bagian dari kampung ini, bukan?"

Namun beberapa saat Torang membaca orasinya, tak kunjung ada yang keluar dari kediaman itu. Torang yang penasaran langsung berjalan mendekati kediaman. Benarlah rupanya, tidak ada lagi pejabat kampung yang berada di dalam kediaman itu. Lantai dan dinding kediaman terlihat berdebu dan usang. Pintunya pun sudah terkunci dengan rapat. Namun Torang terus mengitari kediaman itu, berharap ada pejabat kampung yang akan ia temui.

Bukannya pejabat kampung, malah seorang bapak pekebun berusia renta dengan janggut panjang yang terlihat olehnya. Bapak renta itu sedang menyapu halaman belakang kediaman dengan amat bersihnya. Segera Torang bertanya kepada bapak pekebun itu; pak Sutardjoko.  

"Pak, apakah kediaman ini tidak lagi dihuni oleh para pejabat kampung?" tanya Torang memulai perbincangan.

"Oh, perihal kediaman ini," jawabnya merespon cepat. "Sebenarnya ada cerita menyedihkan di balik kediaman ini, nak," tambahnya kemudian seraya menggiring Torang ke teras kediaman.

"Kalau boleh tahu, bagaimana ceritanya, pak?" tanya Torang lagi setelah duduk berhadapan dengan pak Sutardjoko.

"Begini ceritanya: Pada suatu pagi yang cerah di saat para pejabat kampung hendak bekerja, tiba-tiba langit pagi berubah mencekam. Wabah menakutkan datang dari atas langit melanda kediaman ini. Para pejabat kampung seketika menjadi kejang-kejang. Ada yang menahan sakit di perutnya dan ada pula yang mulutnya merintih kepanasan yang teramat perih. Bahkan, sebagian dari mereka didapati tewas dengan perut yang terkoyak-koyak dan berlubang menganga. Anehnya lagi, di dalam perut mereka ditemukan kepingan-kepingan uang yang bercampur dengan darah mereka."

 "Serius, pak? Benar begitu ceritanya?" sontak Torang menanya dengan nada tak percaya setelah mendengar cerita yang diperdengarkan pak Sutardjoko kepadanya.

"Ya. Seperti itulah pemandangan tragis lagi memilukan yang tersimpan diingatan bapak. Terdengar miris, bukan?" ujar pak Sutardjoko. "Dalam benak bapak juga berkata, apakah itu hanya sebuah wabah? Atau, murka dari Tuhan? Syukurnya, masih ada sebagian dari pejabat kampung yang selamat dari peristiwa kelam itu, lalu pergi meninggalkan Kampung Khatulistiwa. Tetapi hingga saat ini, mereka tak kunjung kembali," tandas pak Sutardjoko meyakinkan Torang.

"Bagaimana jadinya ini, pak? Padahal kami hendak memperdengarkan nasib buruk kami kepada mereka, tetapi mereka tidak ada. Lalu kepada siapa lagi kami harus mengadu?"

"Perihal itu bapak tidak tahu. Bapak hanyalah seorang pekebun yang harus memastikan pekarangan kediaman pejabat kampung tetap bersih, agar bapak dapat terus dipercaya bekerja di kediaman ini. Sebaiknya kalian pulang saja! Bapak juga takut wabah itu akan kembali melanda kediaman ini. Datanglah kembali pada waktu yang tepat!"

Mendengar hal itu, segera Torang menghampiri rombongan yang ia tinggalkan di depan kediaman. Ia menceritakan semua yang terjadi di dalam kediaman pejabat kampung sama seperti yang telah didengarnya dari pak Sutardjoko.

"Tidak. Kami akan terus menunggu di sini hingga segala yang mengganjal di hati dan pikiran kami dapat tersalurkan," ujar ibu Marta tegas.

"Setuju! Setuju! Setuju!" sorakan anggota rombongan lainnya membenarkan ucapan ibu Marta.  

Meski sudah larut malam, Torang dan rombongannya tetap menunggu di depan kediaman pejabat kampung. Kemah-kemah sederhana mereka dirikan dengan bergotong royong. Unggun api dinyalakan untuk menghangatkan dan menerangi kemah sederhana milik mereka. Malam itu sungguh sunyi, seperti tengah tidur panjang. Suasana kampung malam itu bak sebuah kampung mati. Kediaman mewah persis di depan kemah mereka lebih tampak seperti gedung besar yang kehilangan arti. Kehilangan ruh sejatinya.

Perjuangan merekapun terpaksa memakan tumbal. Anak yang ibu Marta gendong meregang nyawa. Begitu juga dengan Yabes, mati akibat sakit maag kronis yang dideritanya.

Hingga pada akhirnya, badai datang memborbardir kediaman pejabat kampung untuk kedua kalinya. Lantas rombongan yang Torang bawa berhamburan pergi meninggalkan kediaman. Ibu Marta bersama anaknya berlari terbirit-birit menghindari terjangan badai. Begitu pula dengan Yabes, ia diangkat oleh para pelajar dalam rombongan agar tidak terseret amukan badai. Begitu pun dengan Torang, seketika asanya menjadi pupus. Di dalam benaknya menjadi berkecamuk dan campur aduk. Sekarang yang paling ia pikirkan hanyalah bagaimana agar nyawanya dapat selamat.

"Aspirasi dan keluhan kita ini adalah shaman. Pasti kelak akan terdengar oleh mereka jua. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini! Berdoalah agar peristiwa ini tidak akan pernah terjadi pada anak, cucu, dan cicit kita di masa yang akan datang!" seru Torang kepada rombongannya, mengisyaratkan untuk segera meninggalkan kediaman.

Langkah kaki Torang semakin cepat menyusuri jalan setapak menuju rumahnya, sebab badai seakan-akan membuntutinya dari belakang. Akan tetapi, kakinya terasa sangat sulit ia gerakkan, apalagi jika berlari. Kaki dan badannya hanya bisa berjalan dan bergerak tertatih-tatih, sementara badai semakin mendekat dan hendak menerkamnya.

Hingga akhirnya..., "Torang..., bangun, Rang!" seru ibu Torang dari dapur, membangunkan Torang dari buah tidur yang melelapkan matanya. "Apakah kamu tidak sekolah hari ini? Lihatlah sudah jam berapa sekarang! Nanti kamu bisa telat, nak."

 "I..., i..., iya, bu," jawab Torang dengan napas terengah-engah. "Sebentar lagi, bu. Torang bermimpi buruk, bu."

"Mimpi apa sih, nak? Sampai-sampai kamu bercakap-cakap dalam tidurmu," tanya ibu Torang dengan senyuman tipis. Menanggap lucu juga penasaran.

Torang segera beranjak dari tempat tidurnya. Menyisihkan selimut dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya yang sepertinya sedikit pegal. Torang turun dari kasurnya dan lekas menceritakan semua mimpinya itu kepada ibunya.

Mendengar cerita dari mimpi anaknya itu, ibu Torang hanya berkata: "Pergilah ke sekolah dan gagalkan mimpi burukmu itu!"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x