Mohon tunggu...
Agus Setiadi Sihombing
Agus Setiadi Sihombing Mohon Tunggu... Stay Humble!

Mewujudkan impian dengan menghadirkan mimpi bagi banyak orang.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Umpasa untuk Pembangunan Karakter Bangsa

7 Desember 2019   11:35 Diperbarui: 7 Desember 2019   11:54 56 0 0 Mohon Tunggu...

Umpasa (pantun dalam bahasa Indonesia) merupakan salah satu ragam sastra lisan yang dimiliki masyarakat Batak Toba. Umpasa merupakan pantun dari orang tua atau nenek moyang etnik Batak terdahulu yang berisikan pesan atau nasihat kehidupan, yang di dalamnya juga terdapat nilai-nilai karakter, budaya, dan kemanusiaan.

Umpasa yang dituturkan umumnya berisi kebaikan seperti doa restu, nasihat dan permohonan yang disampaikan kepada Tuhan. Umpasa yang dituturkan tersebut diharapkan dapat menjadi berkah bagi orang yang menerimanya.

Tradisi marumpasa (berpantun) masih berkembang di masyarakat Batak Toba. Umpasa merupakan kebudayaan yang diwariskan kepada setiap etnik Batak sekalipun etnik tersebut telah meninggalkan daerah etnik Batak atau berada pada etnik yang bukan mayoritas masyarakat Batak.

Hal itu disebabkan keyakinan masyarakat Batak tentang isi dari umpasa tersebut. Bila memakai umpasa, masyarakat mengganggap suatu pesan akan lebih baik dan lebih bijak dalam penyampaiannya (R.C. Simamora, 2016:2). Nilai estetik dan keunikan dari umpasa adalah sebuah nilai tinggi dalam bahasa Batak Toba. Umpasa memiliki makna di setiap konteks yang berbeda (R.C. Simamora, 2016:3).

Tradisi bertutur umpasa juga terdapat di daerah suku Batak lainnya seperti Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Pak Pak, dan Batak Mandailing. Di masyarakat Batak Simalungun, umpasa disebut sebagai berkat bagi orang yang menerimanya; di masyarakat Batak Karo, umpasa disebut dengan ndung-dungen; di daerah Batak Pak Pak, umpasa tetap disebut umpasa atau uppasa; sedangkan di daerah Batak Mandailing, umpasa disebut pantun. Perbedaan nama atau penyebutan umpasa yang terdapat di masyarakat Batak (Toba, Simalungun, Karo, Pak Pak, dan Mandailing) terletak pada bahasa yang digunakan (Jonpiter Manurung, 2017:9).

Lebih lanjut, umpasa terindikasi memiliki nilai-nilai budaya yang sinergis dan integratif terhadap pembangunan butir-butir nilai karakter bangsa. Umpasa memiliki beberapa nilai budaya yang terintegrasi dengan fondasi pembangunan nilai-nilai karakter bangsa seperti religius, jujur, kerja keras dan rasa ingin tahu, demokratis, bersahabat (komunikatif), cinta damai, peduli sosial, dan tanggungjawab. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan di bawah ini.

1. Religius  

Umpasa mengandung nilai budaya yang terintegrasi dengan karakter bangsa berupa religius, yaitu yang berbunyi (T.M. Sihombing, 1989:177):
 "Ia disi sirungguk, disi do sitata;
(Jikalau di situ Sirungguk, di situ juga Sitata)
ia disi hita juguk, disi do Ompunta Debata."
(jika di situ kita duduk, di situ juga Tuhan kita berada)

Artinya, di manapun manusia (kita) berada, tetaplah harus takut untuk melakukan segala hal yang jahat (tidak sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan). Namun sebaliknya, kebaikanlah yang seharusnya bersama-sama kita lakukan. Jika Tuhan senantiasa beserta kita, seharusnya tidak ada lagi rasa takut terhadap apapun juga, sebab kita selalu dalam lindungan tangan-Nya.  

2. Jujur

Umpasa menyebutkan (T.M. Sihombing, 1989:9): "Ndang piga halak sigandai sidabuan, alai godang sigandai hata." Artinya, tidak begitu banyak orang yang dapat menggandai takaran beras, namun banyak orang yang menjadi pengganda kata (berbicara tidak jujur). Oleh sebab itu, orang tua dahulu mengajarkan berbicara yang baik dalam umpasa-nya (T.M. Sihombing, 1989:5):
"Niarit lili bahen pambaba;
(Mengikis lidi untuk dibuat perajut benang tenunan)
jolo nidilat bibir asa nidok hata."
(terlebih dahulu pastikan kebenarannya sebelum mengucapkan kata)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x