Mohon tunggu...
Agus Netral
Agus Netral Mohon Tunggu... Administrasi - Kemajuan berasal dari ide dan gagasan

Peneliti pada YP2SD - NTB. Menulis isu kependudukan, kemiskinan, pengangguran, pariwisata dan budaya. Menyelesaikan studi di Fak. Ekonomi, Study Pembangunan Uni. Mataram HP; 081 918 401 900 https://www.kompasiana.com/agusnetral6407

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Visi Saudi 2030 dan Indonesia Emas 2045

14 November 2022   19:32 Diperbarui: 14 November 2022   19:36 435
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Riyadh, Saudi Arabiya (Kompas.com/Shutterstock )

Visi Saudi 2030 (Saudi Vision 2030) dari pemerintah Arab Saudi merupakan rencana pembangunan yang cukup dikenal luas selama ini, disorot oleh media global serta menjadi bahan kajian dari para akademisi di berbagai universitas. Untuk visi seperti itu di Timur Tengah dan hususnya pada negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC), sebenarnya juga sudah memilikinya, diantaranya Visi 2020 dari UAE yang mungkin juga menginspirasi Saudi Arabia, ada lagi Qatar dengan "National Vision 2030", lalu Kuwait "Vision 2035," dan Oman "Vision 2040". Tetapi dibanding dengan visi dari negara anggota GCC yang lainnya itu, visi dari Saudi Arabia sepertinya yang paling banyak jadi perbincangan.

Kalau dicermati paling tidak ada 2 penyebab yang membuat Visi Saudi 2030 yang dikendalikan oleh pemimpin de facto disana yaitu Pangeran Muhammad bin Salman atau yang dikenal luas dengan inisial MBS, menjadi terkenal;

Pertama adalah karena rencana pembangunan dari sejumlah mega proyek yang diharapkan menyukseskan visi itu yang membuat banyak orang berdecak kagum dan penasaran akan kemampuan dari pemerintah Saudi untuk mencapainya. Ada lebih dari 15 mega proyek yang digadang untuk menyukseskan Visi 2030 dengan berbagai target yang ditetapkan. Giga proyek dan mega proyek dengan pembiayaan mencapai ribuan triliun rupiah itu menyebar di berbagai lokasi di Arab Saudi.

Ambil satu contoh yaitu Neom, yang merupakan sebuah rencana pembangunan kawasan ekonomi yang berlokasi di provinsi Tabuk sekitar 600 km arah utara kota suci Madinah serta 1400 km dari ibu kota Riyadh.

Dari semua mega proyek di Saudi Arabia, Neom merupakan proyek yang paling diprioritaskan untuk diselesaikan oleh pangeran MBS, sesuai rencana tahun 2030. Tidak tanggung-tanggung proyek ini direncanakan akan berbiaya sampai 500 milyar dolar atau sekitar 7.500 triliun rupiah yaitu sekitar 17 kali biaya rencana pembangunan IKN (bu kota negara) baru di Indonesia yang hanya 450 triliun rupiah.

Proyek Neom merupakan kawasan ekonomi yang terdiri dari kawasan pemukiman bernama The Line, lalu ada Oxagon yang merupakan kawasan industri khusus (Neom Industrial City), Neom International Airport, Trojena (areal ski outdoor di daerah pegunungan dekat Teluk Akaba), stadiun olah raga, kawasan pertanian seluas 16 ribu hektar yang akan mengubah gurun tandus serta berbagai rupa peruntukan. Semuanya berada di areal seluas 26.500 km2 yaitu kurang lebih 40 kali luas provisi Jakarta yang luasnya 661,5 km.

Yang menghebohkan, The Line yang merupakan proyek pembangunan kawasan pemukiman di proyek Neom itu, direncanakan akan mampu menampung 9 juta penduduk kalau sudah selesai. Lebar dari pemukiman ini memang hanya 200 meter saja, akan tapi tinggi bangunanya didesain mencapai 500 meter yang akan membentang sepanjang 170 km, dengan ditutupi kaca.

Nantinya di kawasan pemukiman itu konon tidak akan ada mobil, tetapi dilayani oleh taksi terbang, dan kereta api cepat. Lalu akan ada pelayan robot dan bulan buatan. Wah!

Selain Neom ada lagi berbagai rupa proyek yang sebagian besarya adalah bergerak di industri pariwisata.

Lalu hal yang kedua yang membuat Visi Saudi 2030 menjadi sorotan adalah karena adanya 'revolusi kebudayaan' yang diberlakukan oleh putra mahkota Pangeran MBS di Saudi Arabia untuk menyukseskan Visi 2030-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun