Mohon tunggu...
Caesar Naibaho
Caesar Naibaho Mohon Tunggu... Guru - Membaca adalah kegemaran dan Menuliskan kembali dengan gaya bahasa sendiri. Keharusan

Pengajar yang masih perlu Belajar...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Selamat Natal Pak Jokowi

25 Desember 2015   20:34 Diperbarui: 25 Desember 2015   20:34 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Selamat Natal Buat Kita Semua, Damai Natal menyertai Kita.."][/caption]

Selamat Natal, maaf bagi kaum yang mengharamkan Ucapan maupun segala bentuk pernak-pernik Natal, tulisan ini bukan untuk memancing adrenalin anda, bahkan emosi hingga tensi anda naik. Maaf juga bagi kaum yang masih menyebut dirinya haters Pak Jokowi, ini tulisan bukan untuk menyadarkan anda atau bahkan untuk lebih menyulut api kebencian di hati anda akan keberadaan seorang pemimpin yang begitu dicintai, tapi juga dibenci. Bahkan, Maaf juga bagi Pak Jokowi sendiri, karena tulisan ini bukan untuk caper (cari perhatian), tapi sekedar Ucapan Natal yang tulus dan iklas dari seorang kaum awam yang melihat sosok Pak Jokowi yang sudah menjadi pemimpin ke–7 di Indonesia dari sudut pandang yang sederhana.

Juga, tulisan ini untuk mengapresiasi setahun sudah Pak Jokowi memimpin negeri ini dengan gaya yang sangat berbeda dari para pendahulu pemimpin tanah air. Setelah melakukan riset, penelitian, oalah...kok jadi serius sekali? Memang betul, setelah saya pikir-pikir, timbang-timbang, maka saya memutuskan bahwa hasil riset ini harus dipublikasikan di moment yang tepat untuk mengapresiasi, sekali lagi untuk menginformasikan (karena saya guru TIK), betapa pentingnya hasil kajian ini agar diketahui publik betapa banyaknya kesamaan antara nasib, gaya kepemimpinan Pak Jokowi dengan Anak Manusia yang telah dilahirkan ke dunia ini, kurang lebih 2000 (dua ribu) tahun yang lalu yang selalu diperingati oleh Seluruh Umat Kristiani di dunia ini setiap tanggal 25 Desember.

Bahkan, jika mengacu pada perkataan pak GusDur, Presiden RI ke-4 yang pernah di muat di Koran Suara Pembaharuan 12 tahun yang lalu, seharusnya bisa menjadi acuan NKRI adalah negara Pluralisme yang saling menghormati antar Umat Beragama. “Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih." Mengisyaratkan bahwa kelahiran Anak Manusia ini adalah kelahiran yang wajar yang perlu diucapin oleh siapapun, karena prosesnya juga wajar, sama seperti kita, anda, bahkan Pak Jokowi sekalipun ketika dilahirkan oleh seorang Wanita ke dunia ini.

Nah, Tepat di moment hari Natal ini, juga setahun Pak Jokowi memimpin negeri ini, cukup begitu banyak kesamaan sikap, proses, keadaan, dan nilai-nilai yang dapat saya petik dan tuliskan untuk memberikan pencerahan dari kedua tokoh lintas generasi ini. Penasaran? Ini penjelasan saya :

Anak Tukang Kayu

Dalam Kitab Suci diceritakan bahwa kala itu Maria (Maryam) adalah seorang wanita yang sederhana, tulus, iklas, paras cantiknya, keibuan, bertanggung jawab terhadap pekerjaannya mengurusi dapur, dan pasrah ketika mengucapkan “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut PerkataanNya” ketika menerima Roh yang akan menjadi daging dalam kandungannya. Pun ketika Yoseph (Yusuf), lelaki sederhana, dengan pekerjaan Tukang Kayu menerima keadaan Maryam yang mengandung Anak Manusia yang kelak akan menjadi pembawa perubahan bagi dunia yang sudah kelam oleh karena dosa asal oleh Adam dan Hawa. Singkat cerita, jadilah Anak Manusia lahir ke dunia ini di malam yang sunyi-senyap, hanya ditemani oleh bintang, para gembala beserta hewan gembalannya. Jadilah Anak Manusia kecil dengan sebutan Anak Tukang Kayu, karena Yusuf adalah Tukang Kayu.

Pemimpin kita sekarang, Pak Jokowi adalah anak seorang tukang kayu. Banyak literatur yang saya baca bahwa Pemimpin kita memiliki Ayah (alm. Noto Mihardjo) dan Ibu Sujiatmi yang menjual kayu gergajian dan bambu di sekitar sungai Bantaran Kali Anyar Solo. Pak Jokowi juga membantu menggergaji kayu, bahkan sukses menjadi pengusaha Mebel kelas atas yang sukses hingga ke luar negeri. Inilah alasan persamaan pertama antara pemimpin Indonesia yang hidup dengan penuh kesederhanaan, penuh cobaan, hingga sukses menjadi pemimpin 240 warga negara. Kisah ini menginspirasi kesamaan dengan Anak Manusia yang berulang tahun hari ini. Dia dilahirkan dan hidup dengan penuh kesederhanaan, mengajarkan kebajikan, kedamaian, dan harus merasakan penderitaan dalam mengubah paradigma dalam hal kerajaan tidak hanya persoalan kekuasaan, tetapi mengajarkan bagaimana Pemimpin itu bukan untuk dilayani, tetapi harus melayani.

Bintang Terang Menyelimuti Istana Negara

Ada satu kebanggaan besar, disamping kebanggaan-kebanggaan lainnya ketika membaca “Pohon Natal ada di Istana Negara untuk pertamakalinya sejak Indonesia Merdeka”. Bayangkan sejak 70 (tujuh puluh) tahun yang lalu, baru sekarang ada Pohon Natal dengan bintang di ujung pohon natal menunjukkan di Istana Negara ada pemimpin yang membuka hatinya untuk menerima siapa saja berkunjung kesana. Adalah Pak Jokowi yang menginisiasi bahwa Istana Negara itu adalah tempat yang ramah menerima semua kalangan untuk sharing bersama, disamping gaya blusukan yang sudah mendarah daging.

Paradigma bahwa Istana Kepresidenan adalah untuk kalangan tertentu, kalangan ningrat, untuk para tamu kenegaraan, telah diubah Pak Jokowi dijamannya. Istana Negara sudah terbiasa menerima kalangan-kalangan menengah kebawah. Perlu bukti? Kalangan Go-Jek, tukang ojek, sopir busa dan angkutan umum diundang ke Istana untuk sharing bersama. Para pedagang, anak-anak, PKL, Guru, hingga budayawan, komedian sudah diundang ke Istana Presiden untuk ramah tamah, bahkan membahas agenda-agenda penting. Bahkan anggota Komisi Yudisial dilantik di Istana Negara, tidak sampai disitu, baru-baru ini Kepala Sekolah yang berintegritas tinggi dalam menjaga Kejujuran pelaksanaan UN dalam kurun waktu lima tahun terakhir diundang untuk menerima penghargaan di Istana. Ratusan Kepala Sekolah tersebut mendapatkan kesempatan langka ini. Inilah salah satu bukti Pak Jokowi sangat peduli pendidikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun