Agung Han
Agung Han Wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Manfaat Mengajari Sikap "Siap Kalah" pada Anak

20 April 2019   13:05 Diperbarui: 23 April 2019   20:15 635 13 8
Manfaat Mengajari Sikap "Siap Kalah" pada Anak
Ilustrasi

"Anak yang tidak belajar bagaimana rasanya gagal, maka tercipta energi neurotik yang disebut perfeksinisme. Mereka terjebak dalam lingkaran sempurna  dan kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman"  (Annamari Neal, Psikolog)

Dulu, sewaktu anak saya masih si mbarep saja, semua perhatian dan rasa sayang, tercurah pada satu-satunya buah hati. Pendek kata, apa yang diminta nyaris kami turuti, lagian anak-anak yang diminta palingan seputar mainan atau jajanan, harganya masih masuk akal.

Kalau saya mendengar anak sudah nangis, maka si ayah menjadi orang yang paling pertama "gupuh" (bergegas) mencari tahu penyebabnya. Anak pun menjadi begitu tergantung, ke mana ayah pergi (kecuali ngantor) si mbarep dipastikan mengekor -- dan saya menikmati hal ini.

Pada saat anak mulai masuk sekolah taman kanak-kanak, (baru saya sadari ternyata) kebiasaan di rumah terbawa di sekolah. Apa-apa maunya anak dimenangin, kalau berkegiatan apapun di sekolah maunya dinomor satukan tidak mau nomor dua apalagi terakhir.

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sumber: Dokumentasi pribadi
Saya mengetahui hal ini, ketika gurunya ngobrol dengan istri, dan hal ini tentu menjadi masukan sekaligus introspeksi buat saya. Betapa perilaku memanjakan anak, ternyata berakibat sangat tidak baik, apalagi ketika anak dihadapkan pada dunia yang sebenarnya.

Saya berterima kasih kepada bu guru, telah menyadarkan kekeliruan kami perbuat, sehingga tidak sampai berlarut-larut. Sejak saat itu saya dan istri segera merubah sikap, agar anak tidak berlanjut dengan sikap manja dan maunya menang sendiri.

Saya memberi pemahaman pada anak, bahwa temannya di sekolah juga punya hak yang sama, untuk mendapat nomor satu dan punya kesempatan menang. Bahwa semua yang diingini (kemenangan) musti diperjuangkan sendiri dengan benar, tidak bisa didapatkan karena egois dan kemauan sendiri.

Saya suka senyum senyum sendiri, kalau mengingat masa-masa (yang saya anggap) berlebihan tersebut -- hehehehe. Beruntung pada tahun kedua si mbarep masuk kelas B taman kanak-kanak, lahir anak kedua yang membuat perhatian kami orangtua mulai terbagi.

Sumber: Dokumentasi pribadi
Sumber: Dokumentasi pribadi
Sikap siap kalah musti diajarkan pada anak sejak dini, hal ini menjadi tugas orangtua untuk mengajarkan pada buah hati. Bahwa perasaan orangtua dalam menyayangi anak, bukan berarti ditunjukkan dengan selalu mengabulkan keinginan anak tanpa memikirkan dampak jangka panjang.

Sebab kehidupan, tidak selalu memberi ruang pada kemenangan saja, ada ruang dan waktu lain yang musti ditunjukkan dan dipahami anak (yaitu kalah).  Bahwa suatu saat, anak akan mengalami kekalahan, sehingga sikap siap menang dan siap kalah adalah sikap yang harus ditanamkan.

Menang dan kalah adalah keniscayaan, tinggal bagaimana orangtua mengajari bagaimana anak menyikapi dua kondisi tersebut. Mengajari anak siap kalah, berarti mengajari anak menerima kekalahan dan mengakui kemenangan orang lain (dalam sikap dan tindakan) tanpa prasangka buruk.

Manfaat Mengajari anak Sikap Siap Kalah

Memperkenalkan kehidupan dengan Utuh
Seperti halnya senang dan sedih, suka dan duka, kaya dan miskin, bahagia dan lara, maka menang dan kalah adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup ini. Setiap manusia dijamin mengalami dua hal yang berbeda, dan kehidupan memiliki maksud mulia atas dua hal berbeda tersebut.

Sedih, duka, miskin, lara dan kalah, bukan hal yang tabu dan memalukan, semua terkandung hikmah yang baik untuk manusia itu sendiri. Ibarat ikut sebuah kompetisi, perhatikan saja, yang sekarang menang, belum tentu pada kompetisi berikutnya menang (kalau dia terlena dan tidak waspada). Hal yang sama berlaku pada peserta yang kalah, suatu saat akan menang kalau mau belajar lebih dari kekalahan yang pernah dialami.

Belajar dan Merasakan bagaimana kalah itu
Psikolog Annamari Neal, mengatakan "Anak yang tidak belajar bagaimana rasanya gagal, maka tercipta energi neurotik yang disebut perfeksinisme. Mereka terjebak dalam lingkaran sempurna dan kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman."

Serem ya, menyimak pernyataan psikolog Annamari Neal, maka sebenarnya banyak hal bisa dipetik dari kekalahan. Semangat dan atau tekad untuk bangkit, hanya bisa dilakukan dan dialami oleh seorang yang pernah kalah atau terpuruk sampai titik nadir. Perasaan tidak enak tersebut, niscaya bisa bisa menjadi pelecut bagi anak untuk berbenah diri, kalau tidak ingin mengalami hal serupa di kemudian hari

Anak mbarep saya (sekarang sudah SMP), di akhir semester pernah mendapat nilai tidak memuaskan pada mata pelajaran tertentu. Tanpa saya suruh-suruh, ternyata dia belajar dua kali lebih keras daripada sebelumnya, pada semester berikutnya mendapat nilai yang bagus.

Menumbuhkan Sikap Empati dan Menghargai
Berada pada kondisi kalah, akan menumbuhkan sikap empati pada orang yang kalah (karena pernah merasakan sendiri) Pun ketika suatu saat anak berkesempatan menang, dia akan tetap menahan diri untuk tidak merayakan besar-besaran yang membuat pihak lain (yang kalah) merasa merana.

Memang dan kalah adalah hal wajar yang terjadi, yang membuat berbeda adalah bagaimana menyikapi kemenangan atau kekalahan tersebut. Kalah akan mengajak Anak belajar bertanggung jawab dan mempersiapkan diri meraih kemenangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2