Agung Han
Agung Han wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Semarah Apapun, Jangan Mengumpat pada Anak!

12 September 2017   18:47 Diperbarui: 12 September 2017   20:37 2036 4 1
Semarah Apapun, Jangan Mengumpat pada Anak!
theasianparent(dot)com

"Hiiiiih, Kamu Nakal Ya", suara ibu mehanan emosi.

Kalimat diucapkan terdengar dengan suara gemas, bibir terbuka tapi tiidak bergerak, hanya suara keluar dari sela gigi rahang atas dan rahang bawah yang sedang beradu. Tekanan suara terkesan ditahan, dengan harapan tidak terdengar orang di sekitarnya.

Pada satu minggu pagi, di sebuah sudut taman Kota yang ramai. Saat orang sedang berolah raga, sebagian membawa anak bermain di bawah rerimbunan hijau daun.

Saya sedang pemanasan sebelum jogging, supaya kaki tidak keselo dan otot tidak kram. Tiba-tiba mendengar kalimat kurang mengenakkan, sekilas menoleh pada sumber suara.

Mungkin Kompasianers, pernah mengalami hal yang sama, mendengar kata tidak pantas diucapkan orang dewasa pada anak. Bahkan pernah terjaadi, anak kecil mengucap "B*d*h" atau "G*b**k" ditujukan pada teman sebaya.

Miris dan Ironi, kata kata seperti ini diucapkan bibir mungil anak anak itu.

Pagi di akhir pekan, seorang ibu bertubuh tambun, tampak menggandeng anak kecil. Satu anak laki-laki usia sembilanan tahun, asyik bermain bola di sekitarnya. Saya menebak, bahwa dua anak ini adalah kakak beradik.

Entah apa musababnya, ibu marah-marah pada anak yang besar. Tentu saya tidak ingin menelisik musababnya, yang pasti kemarahan ibu itu tertangkap telinga saya.

Beberapa saat keadaan kembali normal, anak dan ibu berinteraksi seperti tidak terjadi apa-apa. Si kecil umur empat tahunan berlari, mengejar si kakak yang asyik main bola.

Entah bagaimana ceritanya, adik yang ada di samping kakak terjatuh. Saya sempat melihat sekilas, si abang sempat menggoda adiknya. Bola plastik ditendang, coba ditangkap si kecil dan akhirnya terpleset. Otomatis pecah tangis, kemarahan sesi keduapun dimulai

"Aduuuh, Nakal Banget sih sama adiknya"

Ketika Ibu mendekat, sontak si kakak berlari menjauh. Setelah agak jauh, sikap isengnya muncul. Lidah bocah kelas empatan dijulurkan, menyusul mulut dimonyongin menggoda. Si kecil berada di gendongan tambah menangis, tangan kanan ibu mengepal diacungkan ke arah si kakak.

"Nakal ya"

Bayangkan, belum ada setengah jam, sudah tiga kali kata 'Nakal' terucap. Mirisnya, kata ini diucapkan ibu dan ditujukan kepada anaknya sendiri.

-0o0-

Orang tua mana bersedia, punya anak dicap nakal. Setiap ayah dan ibu pasti ingin, memiliki anak berperilaku sopan dan penurut. Tidak suka membantah kalau dinasehati, cepat sadar dan mau merubah sikap.

Masalahnya, hidup tidak seideal kisah dalam dongeng. Apa yang indah dalam bayangan, kerap kali jauh dari kenyataan dialami. Semua keadaan nyaman harus serba diupayakan, butuh perjuangan dan pembelajaran.

anak adalah guru bagi orang tuanya -dokumentasi pribadi
anak adalah guru bagi orang tuanya -dokumentasi pribadi

Terus, Bagimana Solusinya?

Orang tua musti terus belajar, belajar menjadi orang tua yang baik dan bijaksana. Sekedar ngomel dan marah marah, siapa saja bisa tanpa harus menjadi orang tua lebih dulu.

Ingat lho, anak baik pasti dilahirkan dari orang tua yang baik juga. Pengaruh orang tua relatif besar, terutama pada masa tumbuh kembang anak anak. Satu lagi perlu dicatat, bahwa omongan orang tua (apalagi ibu) bisa menjadi doa.

Tidak pantas, kalau kita marah pada anak sambil keluar kalimat umpatan. Sejatinya tidak ada anak nakal dan atau bodoh, untuk alasan apapun, tidak pantas orang tua memberi cap tidak baik pada anak sendiri.

Ada kalanya, anak protes dengan keadaan sekeliling. Ada masanya, anak pengin mencoba ini mencoba itu karena penasaran. Semua fase musti terjadi dan dilalui, tugas kita para orang tua mengarahkan bukan memarahi.

Kalau sesekali dibantah, kita orang tua musti memaklumi. Siapa tahu, anak sedang punya masalah. Atau kalau anak masih sering membantah, orang tua koreksi diri mungkin ada yang salah dengan pola pengasuhan.

Saya yakin, setiap anak diciptakan bersih dan suci. Bagimana kita orang tua membentuk, terutama pada saat anak usia 0- 7 tahun atau golden age. Tak bisa dipungkiri, kebiasaan anak anak dibentuk dari rumah. Pengaruh paling kuat adalah orang terdekat, tidak lain dan tidak bukan yaitu ayah dan ibunya.

Kalau dalam masa tumbuh kembang, kerap 'dinakalkan' oleh orang tua dan lingkungan sekitar. Bukan mustahil dia akrab dengan kata kata 'kasar', akhirnya dia akan 'menakalkan' orang lain. Kalau hal ini terus berkesinambungan, saat dewasa sangat mungkin berkata 'Nakal' pada anaknya. 

So, Jangan gampang mengumpat atau bilang 'Nakal' pada anak.

---

-salam-