Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Wiraswasta - Blogger Biasa

Kompasianer of The Year 2019 | Fruitaholic oTY 2016 and 2018 | Instagram @agunghan_ | agungatv@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Tentang Kopi Dulu dan Kini

16 Mei 2015   09:51 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:55 356 3 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

[caption id="attachment_417818" align="aligncenter" width="557" caption="ilustrasi- dokpri"][/caption]

Saya termasuk kategori bukan maniak kopi, namun juga tidak anti sama sekali dengan kopi. Di lemari dapur di rumah tetap menyediakan stock kopi instan, berjaga jaga kalau sedang timbul keinginan ngopi. Kopi bagi keluaga kecil saya bukan keharusan, tapi juga tidak untuk dihindari dijauhi. Kopi instan masa kini telah berinovasi, memberi keleluasan memilih bagi konsumennya. Sayalumayan gemar bereksperimen aneka cita rasa kopi, baik yang kopi murni (black coffe) atau kopi dicampur susu. Kopi hadir dengan banyak pilihan campuran, mulai dari Cremer, Karamel, Mocca, Jahe, Gingseng, Cappucino dan pilihan rasa lain. Kopi yang dulu identik nikmat diminum saat panas, paradigmanya perlahan mulai bergeser. Ada satu produk kopi yang menawarkan, cara minum justru dicampur es batu. Bahkan pembuatan juga unik dengan shake (kocok),terbaca jelas dari panduan yang tertera pada bungkusnya. Nescafe sendiri juga menghadirkan produknya dalam kemasan praktis, tak perlu menyeduh dan tak harus panas demi menikmati kopi. Kemasan kotak atau botol esensinya kepraktisan, menawarkan kemudahan pada penikmatnya.

Khusus kopi dengan campuran Cream dan Mocca, dua anak saya tidak mau ketinggalan menikmati. Mungkin karena rasanya enak dan akrab di lidah, membuat mereka berdua menggemari. Kadang pada saat tertentu mereka minta dibuatkan, satu gelas khusus untuk diminum sendiri. Atau kalau saya sedang membuat kopi, tak segan nimbrung menyruput kopi ayahnya. Maka tak mengherankan segelas kopi lekas berkurang, jika saya tinggal ke belakang sebentar. Bahkan bisa jadi ludes tak bersisa, mengingat dua buah hati saya terpincut rasanya. Dalam mengkonsumsi kopisaya selang seling, bisa seminggu tiga atau empat kali. Biasanya memilih waktu di pagi hari atau malam, didampingi makanan ringan seperti roti atau gorengan.

[caption id="attachment_417819" align="aligncenter" width="549" caption="Nescafe kemasan kotak (dokpri)"]

14317444001091045673
14317444001091045673
[/caption]

Perkembangan kopi di masa kini sudah berevolusi, menjadi bagian dari gaya hidup modern. Kaum urban dengan lingkup pergaulan kelas atas, menjadikan kopi dan cafe sebagai jujukan. Dari sekedar nongkrong menghabiskan waktu, membuat janji dengan partner kerja. Mengadakan meeting dengan client, bahkan sekalian membuat deal suatu pekerjaan. Meski untuk secangkir kopi di cafe ternama, musti rela merogoh kantong lebih dalam tak menjadi masalah. Rasanya kaum eksekutif tak perlu pikir panjang, bisa jadi nilai pekerjaan dengan client lebih signifikan.

Kampung Halaman ( medio 1980 - 1990 an )

Kebiasaan meminum kopi sudah saya jumpai sejak kecil, dari rumah sederhana di kampung halaman tercinta. Ibu rutin menikmati kopi saban pagi, sembari mendengarkan pengajian di radio frekuensi AM. Kegiatan ini kerap saya temui, biasanya setelah beres kegiatan memasak sarapan. Kursi dan meja kayu yang catnya sudah tak jelas warnanya, menjadi saksi peristiwa pagi yang penuh nostalgi. Wajah ibu yang terlihat kecapekan, ditemani dengan segelas kopi hangat. Hanya segelas kopi hitam pekat cenderung pahit (dilidah saya), namun tak mengurangi aroma dan cita rasanya. Kopi yang dikonsumsi ibu adalah olahan tangan sendiri, digoreng dengan wajan tanah (wingko) sekaligus ditumbuk sendiri. Setelah SMP saya mendapat tugas seminggu sekali, menumbuk kopi di rumah mbah. Konsumsi kopi hanya satu gelas sehari, ayah terbilang jarang minum kopi (hanya sesekali). Selain itu di rumah relatif jarang ada tamu, ibu tinggal berdekatan dengan rumah adik adiknya. Tak mengherankan stock kopi bubuk awet, toplesdari plastik di rak dapur jarang dibuka. Biasanya ibu menikmati kopi dengan gorengan, yang paling digemari adalah pisang goreng. Atau kalau sedang panen dari kebun, singkong atau ubi menjadi teman ngopi. Kopi dan pagi di rumah adalah kenangan, menjadi penumbuh kangen pada tanah kelahiran.

Kegiatan ngopi juga kerap saya jumpa, di rumah mbah yang berdekatan dengan rumah kami. Bahkan khusus almarhumah mbak wedok (putri) cukup unik, bubuk kopinya sering diminum juga. Mendekati akhir menikmati segelas kopi, mbah sering melarutkan bubukan kopi dengan airnya. Dengan cara digoyang goyang gelasnya, ketika bubuk kopi berbaur air langsung ditenggak masuk ke mulut.

[caption id="attachment_417820" align="aligncenter" width="492" caption="Kopi hitam kegemaran ibu (dokpri)"]

1431744535105430086
1431744535105430086
[/caption]

Sementara di warung kopi sederhana dekat pasar, kerap terlihat bapak bapak bercengkrama. Mereka biasanya blantik (pedagang) sapi dan kambing, sedang berbagi rasa dan cerita.Kebanyakan berasal dari luar desa, sehingga tiba menjelang adzan subuh bergema. Sruputan demi sruputan kopi menemani para blantik, menyusuri waktu sampai fajar merekah. Saya kebetulan sekedar melintas usai subuh dari masjid, menangkap sejenak suasana yang ada. Percakapan seru samar tertangkap gendang telinga, ditingkah tawa lepas tak berkesudahan. Betapa kebahagiaan hadir di mana saja, pun dalam kebersahajaan ruang dan situasi sekaligus.

Sebuah warung kecil dengan jajanan seadanya, dipadu sebatang rokok dan secangkir kopi beraroma menumbuhkan ceria. Beban kehidupan yang disandang sejenak ditanggalkan, memberi ruang suka cita pada diri sendiri. Kepulan asap dari sebatang rokok klobot (buatan sendiri), berpadu dengan kepulan uap panas secangkir kopi.

Guratan di wajah sederhana lelaki paruh baya, baju dengan bahan kasar dan warna seadanya. Topi warna hitam atau coklat bak film coboy, dengan benang yang sudah keropos di pinggirnya. Bahasa jawa ngoko (standart) sehari hari berhamburan, memecahkan pagi yang belum terlalu utuh. Bapak bapak pedagang ternak sapi dan kambing, bersua dengan bahagia melalui caranya sendiri. Romantika kesederhanaan yang sempurna, saya tangkap dan saya rasakan dari sudut sebuah desa.Warung kopi lengkap dengan suasana, lebur bersama pribadi pribadi tangguh kehidupan.

Jakarta dan sekitarnya (medio 2010 - sekarang)

Ketika nada dering handphone berbunyi, terpampang di layar nama yang sudah kenal. Rasanya nyaris tak pernah lepas dari keseharian,alat komunikasi membuntuti kemanapun saya berada. Mulai dari pagi sampai ke pagi lagi, prosentase waktu dominan pada benda canggih ini. Segera saya meraih dan mengucap salam pembuka, berbincang menanggapi suara dari ujung sana. Akhirnya sebuah kesepakatan tercetus, janji bertemu di satu cafe kenamaan si Mall Premium daerah Senayan.

[caption id="attachment_417821" align="aligncenter" width="493" caption="Sebuah Cafe di Mall (dokpri)"]

1431744592524829766
1431744592524829766
[/caption]

Sebagai marketing sudah tak terhitung, berapa kali meeting dan melakukan presentasi. Saya pernah meeting di sebuah kantor sederhana, ketemu seorang staff yang tidak bisa mengambil keputusan. Pernah presentasi di ruang meeting standart, bertemu level menengah yang akan menyampaikan ke penentu keputusan. Pun pernah langsung bersua dengan pucuk pimpinan, saat itu juga bisa menentukan iya atau tidak. Bahkan pernah punya pengalaman, sudah menunggu lama ternyata pertemuan dibatalkan.

Masalah tempat meeting cukup beragam, mulai dari ruangan kantor, kantin biasa, cafe, pernah juga di restaurant mahal. Pada saat tertentu menghadapi keterbatasan waktu, cukup di teras demi sebuah tanda tangan pimpinan sebuah kantor. Pernah juga seharian dari Mall ke Mall, berpindah dari cafe ke cafe menemui orang berbeda. Mengingat yang saya jumpai posisi jabatan lebih tinggi, saya yangmarketing biasa sebagai orang yang ditraktir.

Siang itu saya menepati janji bersua, dengan seseorang yang sudah beberapa kali ketemu. Dengan seorang pemilik agency periklanan dan sudah kenal, lumayan hapal dengan kebiasaannya. Namun saya tetap menjaga sikap, tetap bertutur sopan menghormati beliau. Selalu kalau ada perlu beliau mengajak, mengatur pertemuan di pusat keramaian premium. Sebuah Cafe dengan ornamen khas, menghadirkan suasana berkelas nan exclusive. Posisi saya lagi dan lagi, sebagai orang yang dibayari.

Saya biasanya cukup tahu diri, memilih pesan minuman yang harganya paling rendah. Tapi biasanya yang nraktir memilihkan, dengan jenis minuman yang lebih mahal. Beliau yang seorang perokok memesan kopi, saya akhirnya memilih pesanan yang sama. Kopi jenis mocha expresso menemani kami ngobrol, membahas sebuah project iklan yang akan dieksekusi. Saya sebagai pelaksana untuk pemasangan iklan, kebetulan memiliki network di media yang akan dituju. Sruputan demi sruputan mengisi celah diskusi, membuat suasana dan ide terus mengalir. Kekakuan yang terjadi mulai cair, bersama nikmatnya segelas panjang kopi. Obrolan kami berlangsung dua arah, beliau banyak minta masukkan tentang pemasangan iklan. Saya yang sudah belasan tahun berkecimpung, memberi referensi sejauh pengalaman dan pengetahuan.

Kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan gengsi, bapak yang mengajak bersua nyaman dengan prestise. Pilihan baju, sepatu, jam tangan, bahkan sampai pulpen sangat terlihat, semua serba branded. Maka tak mengherankan dari kesan yang saya tangkap, beliau ringan hati mengeluarkan nilai rupiah relatif besar demi segelas kopi.

******

Kopi hadir dalam sebuah sudut tempat bergengsi, dinikmati dalam sajian dan cita rasa berkelas. Saya hanya diam menikmati regukan, berusaha mengeja suasana cafe yang istimewa. Teringat pada warung di sudut pasar kampung halaman, bapak bapak blantik yang sederhana. Mereka tertawa lepas dengan bahagia, dengan suasana yang bersahaja.

Akankah dua tempat yang berbeda, sama sekali tak mengurangi esensi istimewa. Akankah keistimewaan sepenuhnya bergantung, pada ruang dan waktu yang tersedia. Ataukah hanya soal mengelola perasaan saja, artinya dimanapun dan kapanpun istimewa bisa dihadirkan.

Manusia berjalan dengan pikiran dan hati sendiri sendiri, berhak memutuskan apa yang akan dijalani. Dalam kesederhanaan atau kemewahan, sebenarnya muaranya adalah bahagia. Secangkir kopi ternyata sanggup menyertai, dalam balutan gengsi atau justru dengan bungkusan bersahaja.

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan