Mohon tunggu...
Agil S Habib
Agil S Habib Mohon Tunggu... Seorang pecinta literasi, pengagum psikologi science, dan pengikut nilai-nilai mulia spiritualitas

Berkarya dan hidup bersamanya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Romantisme Kebablasan

16 Agustus 2019   10:58 Diperbarui: 16 Agustus 2019   11:16 0 4 2 Mohon Tunggu...
Romantisme Kebablasan
Romantisme anak muda jaman dulu | Ilustrasi gambar : https://www.mudamudi.co.id

Jatuh cinta adalah saat-saat paling indah yang dialami seseorang. Ketika dua insan berlainan jenis saling tertarik satu sama lain, membuat seolah-olah dunia ini hanya milik berdua. Rindu, kasmaran, dan perjumpaan adalah momen istimewa yang dirasakan oleh mereka yang tengah jatuh cinta. Menjalin kasih dan hubungan saling mengasihi satu sama lain. 

Sayangnya, sesuatu yang indah itu kini seakan-akan sudah kebablasan. Dulu, orang jatuh cinta masih bisa menjaga batasan dan harga diri. Melakukan tindakan diluar batas sangatlah tabu. Jikalaupun ada, jumlahnya sangat-sangat sedikit. Sungguh jauh berbeda dengan sekarang. Mulai dari setingkat anak-anak Sekolah Dasar (SD) hingga kalangan remaja atau dewasa seolah begitu berani melakukan hal-hal diluar batas. 

Bermesraan di tempat umum, melakukan aksi tidak senonoh di hadapan publik, bahkan hingga berlanjut kepada perilaku seks diluar nikah seperti menjadi sesuatu hal yang biasa. Sebuah ironi yang membuat kita mengelus dada.

Sungguh sangat disayangkan memang sebuah bangsa yang mayoritas beragama Islam, sebuah negara dengan adat ketimuran yang semestinya menjunjung tinggi etika moral ternyata perilaku warganya banyak yang bergeser jauh dari prinsip-prinsip yang seharusnya. 

Atas nama cinta, romantisme yang ditampilkan dihadapan banyak orang justru terkesan mesum. Terlihat tidak lagi menjadi asmara yang indah dipandang mata, namun lebih kepada pengumbaran nafsu tanpa batas. Sebuah romantisme kebablasan yang menjadi potret degradasi moral dan akhlak generasi masa kini.

Publik figur yang semestinya memberikan keteladanan yang baik kepada masyarakat justru bertindak dengan "seenak jidatnya" sendiri. Dengan beranggapan bahwa itu adalah hidup mereka sendiri, membuat mereka secara sadar atau tidak sadar telah mengajak orang banyak agar mengikuti perilaku mereka. Syukur-syukur kalau perilaku yang dicontohkan adalah sesuatu yang positif, kenyataannya justru hal-hal negatif yang disebarluaskan.

Dahulu, ketika grup band Peterpan tengah berada pada puncak keemasan, sang vokalis justru terjerumus kedalam kasus video mesum. Sebagai publik figur, peristiwa ini bisa jadi "menginspirasi" orang lain untuk "mengikuti" jejak sang publik figur, meniru tindakannya, atau bahkan yang lebih buruk lagi. Terbukti, belakangan ini beredar video mesum "Garut" yang mana seseorang merekam aksi tidak senonohnya sendiri. 

Sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi kasus serupa. Gaya berpacaran para artis pun sepertinya telah menjadi "panutan" masyarakat. Anak-anak kecil saja sudah berlagak dewasa dalam asmara. 

Setelah beredarnya informasi dua orang artis muda berlainan jenis check-in di hotel, tentunya hal ini semakin menambah panjang deretan contoh negatif para publik figur yang beredar dihadapan publik. Romantisme yang dipertontonkan para publik figur sepertinya membuat banyak orang iri sekaligus tergiur untuk menirunya. Hanya saja romantisme itu tidak berada dalam batasan yang sesuai, melainkan sudah melewati batas.

Budaya kita saat ini sudah sangat jauh berubah dibandingkan dengan dimasa lalu. Peradaban luar sudah banyak merasuk dan "mengontaminasi" luhurnya budaya kita, mengotori mulianya etika kita, dan menodai sucinya moralitas kita. Hanya segelintir orang saja yang mampu menjaga dirinya dan bertahan pada kualitas budaya luhur warisan nenek moyang. Apakah dari segelintir itu ada kita didalamnya?

Salam hangat,

Agil S Habib

KONTEN MENARIK LAINNYA
x