August Hnedri
August Hnedri

Menyatukan kekuatan budaya daratan/pedalaman & lautan/pesisir, mjdi sebuah kekuatan yg mendasar utk semua kalangan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Masalah Ingatan, Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kiri

13 Februari 2018   22:21 Diperbarui: 15 Februari 2018   07:26 177 0 0

Kurikulum berganti, bukupun berganti. Saat SD saya menjalani dua kurikulum, 75 dan 84. Kurikulum 1984 (CBSA) berlanjut hingga SMP dan SMA. Sempat beberapa kali perbaikan GBPP, sebagai update kurikulum. Kini saatnya bukan diajar lagi, tetapi sudah mengajar, mulai dari kurikulum 2004, KTSP, dan kini K13 dengan sekian revisi yang tak sampai. Konon untuk menyongsong kehidupan abad 21 yang serba otentik.

Masih ingat saat SD dan SMP beli buku paket harganya 700 rupiah per buku. Saat SMA dari harga 1700 hingga 2300 per buku. Bayar SPP saat itu 250 rupiah, saat SMA 600 rupiah per bulan tahun 1990an. Ingat juga penerbit buku kala itu.

Ada Tiga Serangkai, Intan Pariwara, Ganeca, sampai Balai Pustaka. Ingat juga model sampul dan jenis kertasnya. Juga masih ingat di mana saya membelinya, padahal puluhan tahun berlalu. Entah naluri dari mana, keinginan beli buku datang dari diri sendiri. Masih pendidikan dasar, sudah memahami pentingnya buku dan koran sebagai sumber ilmu.  (Prihatinnya, anak sekarang banyak tidak menghargai buku, menyampulnya saja tak mau).

Bicara soal ingatan, selagi itu bermakna dan berkesan, akan sulit dilupakan seumur hidup. Saat membutuhkan informasi itu langsung keluar dengan cepat, seolah seperti kita mengklik link web di hape atau komputer, sekali klik langsung muncul. Apakah masih ada kita yang dewasa mampu mengingat kejadian saat kita berumur 3 tahun? Tentu ada. Ada juga kita yang tidak ingat siapa nama guru SD kelas 1 kita hingga kelas 6. Mengapa guru SD kelas satu kita sampai terlupakan?

Beberapa orang dengan sekali baca mereka bisa mengingat semua apa yang dibacanya dengan sempurna. Bahkan plot, paragraf, sampai di bab berapa mereka baca bisa diingat dengan baik. Tapi kebanyakan orang, apa yang dikonsumsi dari hasil membacanya seperti mengisi bak mandi.

Bak berisi dipakai buat mandi, kemudian air itu habis lagi, agar berisi harus diisi kembali, terus begitu. Dulu, kita dengar dari guru kita, apa yang disampaikannya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Itulah mengapa bagi orang kebanyakan harus rajin mengulang. Bak peribahasa, hafal kaji karena selalu dibaca, hafal jalan karena diturut.

Ada juga, sih yang berbekas di bak mandi kita tadi, yaitu kerak air, namun tidak kuat bila kerak itu kita gunakan untuk menyatukan dan menguatkan pemahaman untuk diaplikasikan saat diperlukan. Bagi murid misalnya, untuk menjawab soal-soal ujian, Ia membutuhkan kepastian dari pemahaman lengkap dari yang pernah ia baca untuk menjawab soal. Bukan sepotong-sepotong, tapi mesti paripurna ingatnya, sehingga bisa menjawab betul.

Menurut Faria Sana, asisten profesor psikologi di Universitas Athabasca, Kanada. Memori kita umumnya memiliki keterbatasan intrinsik (pemahaman yang saling bertalian), adakalanya memori kita macet mengingat pasti apa yang pernah kita baca; tidak jelas, ada yang persis, dan ada tidak tepat kutipannya. 

Kita sadari, manusia tempat silap dan lupa, karena setiap orang memiliki "Lengkungan lupa" (forgetting curve) dalam dirinya. Seperti namanya lengkungan, pasti ada curam dan naiknya. Oleh karena itu, selama 24 jam pertama setelah kita mempelajari sesuatu rawan lupa dan tak berbekas maknanya, bila tidak dicamkan atau diulang kembali. Persis seberapa banyak ingat, begitu juga yang lupa.  Bervariasi tergantung pada kebijaksanaan masing-masing kita dalam membuat kesan saat membaca.  

Presumably, seperti itulah daya ingat kita. Ada ingat selamanya, hanya beberapa hari, lupa-lupa ingat, dan sebagainya. Namun, Jared Horvath, seorang peneliti di University of Melbourne, mengatakan bahwa cara orang sekarang mengkonsumsi informasi dan hiburan berbeda dengan orang terdahulu yang kebanyakan informasi berasal dari buku dan media cetak lainnya. Dengan perbedaan itu, memory otak kita mengalami evolusi kemanjaan. Penghargaan terhadap informasi dari hasil baca tidak sedalam dulu dari satu alur ke alur lainnya dengan lebih teliti dan saksama diikat.

Di era internet, di mana aneka 'mesin pencari' (google, bing) membumi, kemampuan mengingat mengalami penurunan. Keinginan untuk memanggil informasi yang pernah ada di otak secara spontan dan detail menjadi kurang penting dan makin jarang dilakukan.

Paling kita hanya memanggil hal-hal sepele, mengingat daftar tugas, atau mengingat daftar belanjaan, namun sebagian besar kita mengabaikan mengingat hal yang berat-berat. Itulah Horvath memberi saran, mengingat memori pengenal itu lebih penting (recognition memory). Yakni, ada kata-kata kunci tertentu yang memudahkan penjabaran ingatan menjadi lebih detail dan benar saat dikeluarkan. Tahu tempat informasi itu berada dan tahu cara mengaksesnya. Bila kita mampu  metempatkan apa yang ingin kita ingat demikian, kita tak perlu mengingatnya kembali karena sudah berkesan selamanya.  

Sekarang internet berfungsi semacam 'memori eksternal' otak kita. Kata sebuah studi penelitian ,  "When people expect to have future access to information, they have lower rates of recall of the information itself,"  Ketika orang mengharapkan akses informasi saat dibutuhkan, mereka memiliki tingkat daya panggil informasi yang lebih rendah dari ingatannya.

Bila ia  tidak tahu atau pasti informasi yang hendak dibutuhkan, tinggal memainkan jemari di mesin pencari. Seperti itulah orang sekarang. Peran guru sebagai pengingat pun makin berkurang, murid bertanya menjadi berkurang, karena bisa bertanya ke mesin. Cuma ada resikonya, yaitu informasi yang tidak valid menjadi konsumsi. Ini yang perlu hati-hati.

Padahal sebelum internet ada, hanya produk hiburan seperti kaset dan piringan cakram yang berfungsi sebagai penyimpan kenangan eksternal. Bila kita lupa plot atau alur cerita sebuah filem tinggal memutar atau menontonnya kembali.  

Kini banyak orang tidak perlu mengingat kutipan dari buku jika kita bisa mencarinya di internet. Streaming, youtube, dan artikel Wikipedia, menyediakan segalanya.

Internet telah menurunkan taruhan kita untuk meningkatkan kebiasaan mengingat dan konsumsi informasi di masa lalu ke otak kita.  Namun, masih ada orang mampu mengingat segala kutipan dengan baik.  Contohnya adalah kemampuan Ustad Abdul Somad, Lc. MA dalam setiap ceramah dan kajiannya sehingga Ia cepat dikenal luas akan kemampuannya itu.

Plato termasuk yang terkenal keras dalam mengingatkan  kita menghadapi bahaya eksternalisasi ingatan. Dalam dialog yang ditulis Plato antara Socrates dan Phaedrus aristokrat, Socrates menceritakan tentang sebuah cerita tentang Tuhan Theuth yang menemukan "penggunaan huruf." Raja Mesir Thamus berkata kepada Theuth: "Penemuan Anda ini akan menciptakan kelupaan pada jiwa peserta didik, karena mereka tidak akan menggunakan kenangan mereka agar berkesan dan bermakna; mereka akan percaya pada karakter tertulis eksternal dan tidak mengingat dirinya sendiri adalah jiwa penghafal".

(Lucunya, tentu saja, gagasan Plato hanya bisa diakses oleh kita hari ini karena dia mencatatnya.)

Socrates membenci penulisan karena menurutnya akan membunuh ingatan. Itulah kontroversi di zaman itu. Tulisan dari hasil menulis, menulis yang merupakan kerja ingatan dianggap membunuh memori. Kini internet dikuatirkan menjadi penyebab hal yang sama.  Yang mana sumber informasi dan hiburan bisa diakses kapan dan di mana saja sesuai apa yang kita inginkan. Memanjakan kemauan otak kita untuk mengingat lebih kuat, lama, dan penuh renungan.  

Penelitian yang dilakukan di University of Melbourne menemukan bahwa mereka yang menonton acara TV  dari acara satu ke acara lainnya secara beruntun, tanpa upaya lain untuk mengingatnya, akan melupakan konten yang  mereka lihat dan dengar lebih cepat (bahkan setelah mereka selesai menonton) daripada orang-orang yang menonton satu episode dalam seminggu.

Para pengamat tersebut mendapatkan skor tertinggi dalam kuisionernya tentang hal itu, namun setelah 140 hari, skor mereka lebih rendah dari penonton mingguan. Mereka juga menjelaskan kurang menikmati pertunjukan daripada orang-orang yang menontonnya sekali sehari, atau seminggu sekali.

Selain pada tontonan dan hiburan, orang juga bingung pada kata-kata tertulis dalam teks. Pada tahun 2009, rata-rata orang Amerika mengeja 100.000 kata per hari. Namun setelah itu menurun dalam sembilan tahun terakhir. Dalam "Binge-Reading Disorder," sebuah artikel untuk The Morning News, Nikkitha Bakshani menganalisis arti penurunan statistik ini. "Membaca adalah kata yang bernuansa," tulisnya. Itu berarti membaca itu seharusnya memberi makna. Bukan membaca seperti orang pada umumnya, hanya sebagai konsumsi kesenangan belaka. Di mana kita membaca, terutama di internet, hanya untuk mendapatkan informasi asal sudah tahu saja. Informasi yang tidak ada kemungkinannya menjadi pengetahuan baru, persis terputus seperti sepotong tongkat atau barisan shaf yang terputus.

Bila demikian, dapat diibaratkan mereka membaca hanya untuk kepuasan batin sesaat, seolah-seolah kita sudah tahu atau belajar sesuatu, ya sudah, tetapi hanya tahu kulit luarnya saja, tidak ada usaha lain, seperti mengingat sambil menulis, meringkas, membaca di bawa pohon, sambil membuat peta pikiran, menggarisbawahi, membuat jembatan keledai dan sebagainya. 

Untuk hebat dalam mengingat hal-hal yang kita tonton dan baca, kita memang harus sungguh-sungguh. Perlu melibatkan konsentrasi, dan mencoba menghubung-hubungi dari apa yang pernah kita tonton atau baca sebelumnya dengan daya kritis. Perlu juga mengatur tempo dan waktunya.

Persis seperti kita mau olahraga berat diperlukan pemanasan dan peregangan. Itu agar informasi yang kita dapatkan bisa disimpan sepanjang waktu agar kita tidak mengulang kembali. Selain itu,  bila informasi itu dibutuhkan cukup kita akses ulang dari ingatan kita (reaccessing) dengan mudah.

Selama ini kita membaca seolah lancar tapi tertipu dan palsu. Informasi itu mengalir masuk, kita memahaminya, sepertinya ia menyusun dirinya dengan mudah ke dalam forlder untuk ditempatkan di rak memori otak kita. Tapi itu sebenarnya tidak menempel kecuali kita melakukan usaha ke dalamnya, tanpa strategi tertentu yang akan membantu kita mengingatnya.

Sama saat kita touring atau berwisata ke sebuah destinasi, agar mampu mengingat kenangan di sana, kita berfoto. Beberapa tahun nantinya, bila kita melihat lagi foto tersebut kita dapat mengingat apa-saja kegiatan kita di lokasi tempat kita berfoto. Setiap foto-foto lain yang kita lihat akan memunculkan ingatan yang mungkin telah hilang atau kabur seiring berjalannya waktu.

Meski begitu, tidak semua kenangan dan informasi yang mengembara dalam ingatan kita hilang. Beberapa dari informasi dan kenangan itu mungkin hanya bersembunyi, main petak umpet saat kita mencarinya. Saat kita butuhkan tidak dapat diakses (kita menyebutnya lupa), sampai kita dapat isyarat yang tepat membuat mereka bangkit kembali (teringat). Untuk segera teringat dan keluar dari rak memori otak kita tentu butuh bantuan, setidaknya ingat saat kita membacanya di bawa pohon atau saat pesawat terbang mengudara. Ini termasuk trik psikologis dan geografis.

Karena itu dikatakan inti memori adalah semua asosiasi, yakni  ketertautan dalam ingatan pada orang atau benda lain di suatu waktu. Pembentukan hubungan atau pertalian antara gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindra kita bersatu padu untuk suatu ingatan.

Dalam sebuah artikel untuk The New Yorker yang berjudul "Kutukan Membaca dan Melupakannya," Ian Crouch menulis, "Membaca memiliki banyak aspek, yang salah satunya mungkin adalah perpaduan antara pemikiran, emosi dan manipulasi sensorik yang terjadi. Pada saat itu ada yang bersemi dan kemudian memudar. Sebagai sosok apa saat kita membaca. Apakah sebagai sosok peneliti, penulis, atau pendidik. Narsisme ini dibutuhkan mengolah teks yang kita baca untuk dipikirkan lebih dalam sesuai kebutuhannya.  

Tanpa membaca otak kita tidak berkembang, begitu juga ingatan kita. Baca sajalah apa yang bisa dibaca. Otak kita yang dinamis memang tidak seperti memori komputer atau penyimpanan awan (cloud computing). File apa saja seperti Buku, animasi, film, dan lagu yang begitu mudah kita simpan atau upload. 

Berbeda dengan otak dalam menyimpan segala filetersebut yang merupakan bagian dari permadani kehidupan, ditenun, diwarnai, dengan segala hal lainnya. Dari kejauhan, mungkin menjadi lebih sulit untuk melihat satu benang dengan jelas, tapi tetap di sana, di otak kita. Baca saja, otak kita insyaalah merekamnya otomatis. Inilah yang harus selalu ingatkan pada anak didik kita dan para pendidik itu sendiri. Kenangan akan membantu mengeluarkannya kembali pada saat dibutuhkan.