Agung Darmawan
Agung Darmawan Honorer. Seniman

Sederhana. Blog: blogagungoke.blogspot.co.id | Twitter: @AGGDoke | Facebook: Agung Darmawan (fb_darmawanagung@yahoo.co.id) | Instagram: agungdarmawanoke

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen │Mukena buat Mbok Inem

12 Juli 2018   12:15 Diperbarui: 12 Juli 2018   12:19 344 0 0
Cerpen │Mukena buat Mbok Inem
Ilustrasi: tangis-airmata.blogspot.com

Panas di tengah hari bolong begini sudah biasa buatku. Hari itu adalah hari yang sibuk, yakni hari rabu. Banyak orang berlalu lalang, juga berbagai kendaraan. Hampir tiap hari aku memulung botol bekas, juga barang bekas lain yang bisa ku jual. Satu persatu tempat kulalui, jalan ratusan kilometer kujalani. Ku cari di setiap tempat barang bekas untuk kumasukkan ke dalam karung yang selalu ku pegang, dan juga ku taruh di belakang punggungku. 

Waktu itu ku putuskan untuk menyeberang di jalan raya itu, karena di seberang ku lihat tempat sampah yang ku pikir sangat bisa barang-barang bekas yang ada untuk ku uangkan. Setelah sampai seberang jalan ku cari barang bekas itu. Dengan teliti aku mencarinya. Namun setelah beberapa saat ku mencari barang itu, tidak ada satupun barang bekas yang kudapat. Rasanya sangat menyakitkan buatku, yang rasanya dicubit orang jahat, tapi aku harus tetap bersabar dan tetap mencari barang bekas itu.

Terus kulalui setiap jalanan. Saat ku lalui jalanan, setiap orang dan kendaraan terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku juga seakan-akan tidak memperdulikan mereka, namun dalam hati kecilku menyayangi mereka. 

Selagi aku berjalan, datang seorang perempuan muda berkulit putih dan bermata sipit, dia memperkenalkan dirinya dengan nama Cherly, "Selamat siang adik, apa kabar? Nih kakak bawakan sebungkus nasi dan minuman untuk adik." Kata kakak itu yang kemudian memberikanku sebuah nasi bungkus dan minuman. 

Lalu kucium tangannya, terlihat kakak itu tersenyum, juga terlihat ada kalung salib yang menggantung di lehernya. Setelah memberikanku makanan dan minuman itu, kakak itu kembali masuk ke mobil berwarna merah menyala. Aku berterimakasih sekali kepadanya dan tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah SWT, Tuhanku. Kemudian aku kembali berjalan kembali. Beberapa meter kemudian, aku membuka makanan pemberian kakak cantik dan baik itu, yang kemudian kumakan. Rasanya nikmat sekali. Kemudian untuk melepas haus dan rasa seret di tenggorokanku akibat makanan itu, kemudian air hasil pemberian kakak cantik itu pun kuminum. 

Bahagia sekali rasanya. Setelah makan dan minum kuputuskan untuk kembali lagi berjalan untuk mencari barang bekas untuk kujual. "Agung, gimana hasilnya hari ini?" sapa temanku yang tak sengaja kutemui di sebuah jalan kecil perumahan itu. "Lumayan." jawabku. Kemudian kami berjalan bersama mencari barang bekas kembali. Temanku itu seperti aku nasibnya yang miskin juga tidak bersekolah. 

Kami hanya bekerja dari hari ke harinya untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup. "Agung, ibumu lagi sakit ya?" tanya temanku itu. Lalu aku menganggukkan kepala. Memang benar ibuku sejak tiga hari yang lalu sedang sakit. 

Kata dokter di puskesmas ia terkena penyakit thypus. Hari sudah terlihat sore. Aku harus pulang ke rumah untuk menemui ibuku. Setelah mendapatkan beberapa kilo barang ini, sekitar 3 kiloan, aku harus segera menjual barang bekas ini. Setelah barang bekas ini ku jual, ku mendapatkan uang sekitar 15.000 rupiah. Kemudian ku berjalan pulang. Temanku yang tadi pun sudah berjalan ke tempat lain untuk mencari barang bekas lagi setelah menjualnya.

Di jalan pulang ku teringat dengan ibuku yang sedang sakit. Lalu ku ingat-ingat hasil tabunganku di rumah. Setelah ku hitung-hitung ada sekitar Rp. 30.000. Niatku dengan uang itu untuk membelikan makanan untuk ibuku. Sampai ke rumah, aku bertemu dengan ibuku. Ia terlihat sedang tertidur. Ku dekat dia, lalu ku cium keningnya. Makanan yang baru ku beli ku hantarkan kepadanya dan ku taruh di sisi meja makan. 

Aku kemudian keluar rumah untuk membeli obat buat ibuku. Di jalan malam itu ramai walaupun gelap. Ku melewati sebuah pasar. Ada seorang ibu-ibu yang menjual mukena murah. Ku lantas membelinya, walaupun di benakku tahu aku harus membeli obat buat ibuku. Aku kemudian berjalan kembali pulang ke rumah. Kemudian ku melewati sebuah kolong jembatan yang di situ ada beberapa orang yang tinggal. 

"Ada Mbok Inemnya?" ku tanya seseorang pria setengah tua. "Ada." Jawabnya. Kemudian aku masuk ke rumah itu. "Apa kabar Mbok Inem?" Aku bertanya padanya sambil bercium tangan. "Baik," jawabnya. Lalu kuberikan mukena yang baru kubeli tadi buatnya. 

"Apa ini?" tanyanya. "Mukena, Mbok." Jawabku. Aku kemudian berbicara kepadanya bahwa mukena itu seperti yang kujanjikan kepadanya beberapa hari lalu. Ia kemudian bersyukur kepada Tuhannya. Setelah selesai memberikan mukena itu, kemudian aku pamit kepadanya. 

Di jalan aku masih kebingungan, uang dari mana untuk membeli obat buat ibuku, namun ibuku selalu berpesan untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri kita sendiri.