Mohon tunggu...
Subarja Wahdini
Subarja Wahdini Mohon Tunggu...

semangat dan jangan pernah menyerah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Aktif Berorganisasi, Jangan Lupa Pekerjaan Pokok

29 Oktober 2018   10:23 Diperbarui: 29 Oktober 2018   11:02 0 7 1 Mohon Tunggu...

Sebagai makhluk individu manusia juga merupakan makhluk sosial, membutuhkan orang lain untuk melakukan berbagai kegiatan. Hidup dalam kelompok dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kemudian terbentuklah yang namanya organisasi.

Bermacam ragam organisasi, ada organisasi politik, ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, atau organisasi-organisasi lain sesuai dengan visi-misi yang diemban. Dalam organisasi resmi terdapat struktur dan tata hubungan kerja, masing-masing memiliki fungsi maupun peran dalam bekerjasama mencapai tujuan yang dicitakan.

Bagi mereka yang tergabung dalam organisasi atau lembaga berorientasi profit seperti perusahaan/ekonomi dan bisnis tidaklah menjadi masalah, karena ini merupakan pilihan profesi. Namun menjadi anggota organisasi non-profit misalnya organisasi sosial kemasyarakatan (orsos/ormas), sukarelawan tergabung dalam kelompok/grup berdasar kesamaan minat, bakat dan hobi -- ada kalanya perlu mempertimbangkan banyak hal bilamana menginginkan keseimbangan dalam menapak hidup.

Berdasar pengalaman penulis, bergabung menjadi anggota/pengurus ormas atau orsos memang telah menjadikan kita semakin kaya wawasan dan pengetahuan, menambah relasi, belajar menghadapi/memecahkan masalah bersama, bergotong-royong.

Disamping itu aktif dalam berorganisasi juga membawa keasyikan tersendiri, apalagi sesuai minat dan talenta/bakat yang kita miliki -- semakin menambah gairah dan semangat untuk lebih meningkatkan fungsi organisasi secara optimal. Kemampuan yang kita miliki (pikiran, tenaga, fasilitas, dll) tercurah demi tercapainya rencana kerja yang telah ditetapkan.

Dalam sebuah operasi bantuan penanganan bencana, seperti menolong korban kecelakaan sungai -- penulis bersama tim segera melakukan arung jeram untuk mencari para korban. Demikian halnya dalam menolong korban erupsi Gunung Merapi di Sleman Yogyakarta -- tim segera berangkat dengan persiapan yang telah disusun sesuai perencanaan untuk membantu dan menolong para korban di sana, termasuk menyumbangkan kebutuhan logistik seperlunya.

Tidak terkecuali seperti halnya apa yang terjadi belakangan ini, banyak diantara kita yang bersedia menjadi relawan, simpatisan partai politik tertentu menjelang pemilihan umum (Pileg dan Pilpres 2019), siang-malam selalu terlibat dalam diskusi, menyusun taktik dan strategi untuk memeriahkan pesta demokrasi. Aktivitas lapangan banyak menyita waktu seringkali terabaikan hanya terfokus pada banyak program terkait yang  tak pernah habis mengingat fenomena politik akan terus berkembang.

Sekilas contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa terjun dalam suatu organisasi telah menjadikan kita semakin dewasa dalam bekerjasama menyelesaikan masalah yang dihadapi secara nyata. Ini merupakan suatu modal sosial yang tak ternilai harganya, perlu terus ditumbuh kembangkan seiring dengan budaya yang melekat dalam kehidupan kita.

Aktif dalam berorganisasi memang membawa kepuasan tersendiri. Kita dapat bekerja sekaligus belajar menghadapi persoalan untuk dipecahkan bersama-sama, dapat berinteraksi dengan orang berlainan karakter, melatih jiwa kepemimpinan. Disini kita menjadi semakin dewasa dalam bersikap, berperilaku sehingga banyak nilai positif yang bisa diperoleh dalam berorganisasi.

Namun demikian, di tengah keasyikan berorganisasi bukan berarti semuanya tercurah hanya pada program yang seringkali menyita waktu tanpa batas sehingga cenderung melupakan pekerjaan pokok yang juga harus dilakukan.  

 Disinilah kita perlu melakukan evaluasi diri, mengelola waktu kapan saatnya yang tepat untuk aktif berorganisasi, dan kapan pula saatnya kita harus membagi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan pokok kita masing-masing. Semuanya perlu dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan tetap terjaga, jangan sampai pekerjaan pokok (termasuk kehidupan rumah tangga sendiri) terabaikan dan menjadi korban. Demikian sekedar berbagi pengalaman. (Subarja W).