Afrianto Daud
Afrianto Daud

penikmat buku, pendidik, pembelajar, dan pemulung hikmah yang terserak di setiap jengkal kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Sepenggal Kisah Bersama Burmalis

12 September 2013   08:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:01 448 0 0
Sepenggal Kisah Bersama Burmalis
1378949453757038275

Oleh: Afrianto Daud

Saya akan sedikit becerita tentang pengenalan saya pada anak muda bernama Burmalis Ilyas (Eh, si doi benaran masih muda kan ya, hihi). Belakangan nama ini mulai akrab di beberapa kalangan, terutama warga Pesisir Selatan. Selain karena Burmalis saat ini adalah salah seorang pengurus pusat Ikatan Keluarga Pesisir Selatan (IKPS), juga karena Burma (ini adalah panggilan Burmalis yang lebih ngetop belakangan ^^) berniat maju bertarung memperebutkan tiket wakil rakyat di DPR RI dari daerah pemilihan Sumbar 1 pada pemilu 2014. Keseriusannya untuk maju memberikan alternatif pilihan pada masyarakat pada pemilu mendatang bisa dilihat dari mulai menyebarnya foto, stiker, dan atau spanduk dengan wajah Burma di beberapa tempat publik di Pesisir Selatan dan sekitarnya. Namun perlu saya sampaikan disclaimer sejak awal, bahwa tulisan ini tidaklah bermaksud ikut mengkampanyekan sosok Burmalis ini, namun yang saya lakukan lebih pada posisi memberikan terstimoni, tentang siapa Burma, bagaimana sepak terjangnya, dan apa kelebihannya. Testimoni ini didasarkan pada sependek pengenalan saya setelah hampir 20 tahun berinteraksi dengannya. Selain itu, tulisan ini juga saya niatkan sebagai media saya menyampaikan pesan dan harapan pada sosok Burma yang telah terjun ke gelanggang politik yang (kabarnya) keras dan penuh intrik itu. Perkenalan saya pertama sekali dengan Burma adalah ketika kami ditakdirkan sama-sama bersekolah di MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang pada sekitar tahun 1991. Persisnya ketika kami bertarung dalam lomba cerdas cermat yang diadakan panitia Ospek MAN/MAPK mewakili kelompok kami masing-masing pada kegiatan orientasi berupa perkemahan itu. Walaupun tidak langsung akrab, namun setelah itu saya tahu bahwa anak muda jangkung itu berasal dari daerah yang sama dengan saya, Pesisir Selatan. Burma lebih beruntung dari saya, karena di generasi kami dia adalah satu-satunya siswa Pesisir Selatang yang diterima pada Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) itu. Saya sendiri pernah berniat untuk ikut tes program MAPK ini, namun karena keterbatasan akses informasi saya sebagai anak kampung waktu itu, saya terlambat mendaftar. Namun, saya tetap bergabung dengan MAN Koto Baru yang notabene satu atap dan satu manjemen dengan MAPK, walau dengan program agak berbeda. FYI, MAPK adalah proyek unggulan Departemen Agama di bawah kepemimpinan (alm) Tarmizi Taher yang memadukan kurikulum madrasah plus program khusus berupa pendalaman kajian keIslaman. Program ini pertama kali dilaunching pada tahun 1988 dan sepertinya diniatkan Mentri Agama untuk mempersiapkan calon-calon ulama masa depan di Indonesia dengan memilih siswa cerdas berprestasi dari berbagai daerah di tanah air. Mereka yang lulus seleksi diberi fasilitas khusus, bebas uang sekolah, berasrama, dan diberi uang saku selama sekolah. Pada tahun 1991 itu, setahu saya, hanya ada tiga MAPK di tanah air – dua lagi di Ciamis dan Jogyakarta. Karenanya tak heran, mereka yang bersekolah di MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang berasal dari hampir semua provinsi di sepanjang Sumatera, mulai dari Aceh sampai Bandar Lampung. Karena keberagaman daerah inilah, plus siswa/siswi dengan bakat dan kecerdasan di atas rata-rata, adalah diantara alasan yang membuat MAN/MAPK Koto Baru Padang Panjang itu spesial dan pernah menjadi sekolah favorit di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya (saya nggak tahu lagi bagaimana sekarang). Kembali ke topik Burma, setelah masa-masa Ospek itu, saya terus berinteraksi dan memperhatikan bagaimana Burma di sekolah. Bisa dikatakan bahwa Burma adalah siswa multi talenta. Secara akademik, Burma termasuk siswa MAPK yang disegani. Walaupun kata sebagian teman-temannya Burma tergolong anak yang ‘pemalas’ (sehingga sebagian temannya memplesetkan namanya dengan ‘Burmalas’ hehe), namun Burma tetap stand out sebagai pemuncak di kelasnya. Dia hampir selalu menjadi the top three di generasi MAPKnya. Bersamanya, saya pernah ikut beberapa lomba cerdas cermat, termasuk menjadi juara lomba fahmil Quran di MTQ Sumatera Barat sekiatar tahun 1993 (saya lupa tahun berapa persisnya). Burma bahkan mewakili provinsi Sumatera Barat untuk lomba yang sama ke tingkat nasional setelah itu. Burma tidak hanya prestatif di bidang akademik, tetapi juga jago dalam banyak bidang, seperti olahraga dan seni. Di bidang olahraga, Burma bisa memainkan hampir semua jenis cabang olahraga dengan sangat baik, mulai dari sepak takraw, bola voli, tenis, bulu tangkis, sampai basket. Bisa dikatakan jika ada perlombaan olahraga di sekolah (atau mewakili sekolah untuk lomba ke luar), maka Burma akan menjadi salah satu bintangnya. Fisiknya yang jangkung plus berwajah keren menambah added value dia sebagai seorang bintang sekolah, dan karenanya juga mungkin banyak ditaksir oleh siswi MAN ^_^ (Saya nggak tahu apakah si Burma punya pacar saat di Koto Baru, haha). Multi talenta anak pengusaha ayam di Salido ini terus terlihat setelah dia tamat dari Koto Baru. Di bidang akademik, dia kuliah di dua tempat berbeda pada saat yang sama, sesuatu yang tidak banyak dilakukan oleh orang lain. Ini bisa dilihat dari deret panjang gelar akademiknya yang memadukan perguruan tinggi agama dan umum. Tidak berhenti si situ, Burma tidak hanya menjajal perguran tinggi dalam negeri, namun juga merasakan langsung atmosfir akademik di negara maju, seperti Italia. Saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa program doktoral di political science, University of Seina, Italia. Tapi, saya tidak tahu kapan Burma akan menyelesaikan studinya, karena dia sedang sibuk menjadi caleg. Hehehe. Burma juga mengukir prestasi di bidang olahraga dan seni. Walaupun tidak tahu persis detail lomba yang pernah dia ikuti, namun saya tahu dia bersama timnya pernah menjadi juara beberapa event lomba basket dan tenis di Jakarta. Hebatnya, Burma juga punya telenta luar biasa di dunia seni. Terus terang, untuk bakat yang satu ini luput dari perhatian saya ketika saya bersama dengannya sekolah di Koto Baru ^^ Bakatnya di bidang seni dia buktikan dengan memenangkan lomba uda Sumatera Barat tahun 2000 dan finalis pemilihan abang none jakarta tahun setelahnya. Dia bahkan pernah menjadi bintang iklan beberapa produk di televisi dan reklame. Karena bakatnya di bidang olahraga dan seni ini, dia pernah nanya kepada saya, “Anto, baiknya saya ni gimana. Jadi atlet, jadi artis atau jadi akademisi?”. Kami berdiskusi bahwa kalau jadi atlet (atau juga jadi artis) itu biasanya ‘jam tayang’nya singkat. Karenanya, menjadi akademisi mungkin pilihan yang lebih tepat buat dia. Karenanya, setelah menyelesaikan studi S2nya, dia bergabung dengan Universitas Nasional Jakarta, dengan menjadi salah seorang tenaga pengajar di sana. Namun, dasar Burma yang dianugrahkan Tuhan dengan banyak kelebihan itu, Burma tidak terus berdiam diri di Jakarta. Dia terus berkeliling negeri ke berbagai belahan dunia. Saya dengar dia juga berbisnis. Walaupun saya belum nanya, persisnya bisnis apa. Mudah-mudahan bisnis yang halal ya hehe J Belakangan, keliling Burma sedikit berbelok dari manca negara ke keliling kampung di Pesisir Selatan dan sekitarnya. Karena, dia telah memutuskan masuk gelanggang politik melalui partai Gerindra. Selain multi telenta di atas, di mata saya Burma adalah juga sosok teman yang mudah bergaul, baik dan rendah hati. Pergaulannya luas, mulai dari kami teman-teman satu sekolah, sampai dengan artis, akademisi, pengusaha, dan politisi. Anda bisa mentrack sebagian cerita pertemanannya ini di akun facebooknya. Kebaikan Burma sebagai teman, misalnya, bisa terlihat ketika dia selalu berinisiatif menjadi ‘juragan’ yang mentraktir teman-temannya jika bertemu. Karena murah hatinya inilah, wajar jika rizkinya terus melimpah :-)) Terus terang, saya terkesan dengan caranya menjaga persahabatan. Saya masih ingat ketika dia menelpon dari Jakarta ke tempat kos saya di Padang saat kami terpisah jarak setelah kami tamat dari Kota Baru. Kami bercerita cukup lama tentang kuliah saya di Padang dan kuliahnya di Jakarta. Kami tetap menjaga komunikasi dengan berbagai medias setelah itu, termasuk berkunjung dan bertemu dengannnya di Jakarta. Komunikasi itu tetap intens kami lakukan ketika saya sekolah di Australia, atau ketika dia di Siena, Italia. Pada saat yang sama, saya lihat dia juga melakukan dengan banyak teman-teman yang lain - menjaga silaturrahim. Hmm, mungkin tidak adil jika saya hanya menyorot sisi baik dari Burmalis Ilyas, dan tidak menyampaikan sisi lemahnya. Well, satu-satunya ‘kelemahan’ Burma yang saya tahu adalah dia termasuk tipe cowok yang ‘takut’ sama istri (perhatikan tanda kutip). Itu terlihat ketika dia tidak berani lagi melirik cewek lain segera setelah dia menikah. Hahaha. (becanda diing , soale saya tidak punya data tentang sisi lemah ini ^^) Terakhir, ijinkan saya menutup testimoni ini dengan beberapa pesan kepada Burma terkait niatnya maju dalam pileg mendatang. Sebagian pesan ini adalah copast dari status facebook saya sebelumnya. 1. Saya mengapresiasi keputusanmu, kawan, untuk menjadi pemain ril dalam kancah politik tersebut. Ini adalah keputusan besar, yang belum tentu semua orang bisa melakukannya. Walaupun politik bukanlah segalanya, namun saya percaya bahwa akselerasi perubahan besar di tingkat negara biasanya akan lebih efektif dilakukan melalui jalur politik. Karenanya, keputusanmu untuk menjadi 'pelaku politik' melalui menjadi caleg, saya pahami sebagai niat untuk ikut berperan aktif dalam perubahan itu. Oleh sebab itu, sekali lagi, saya sangat menghargai keputusan itu. 2. Seperti yang kamu juga tahu, bahwa keputusan menjadi caleg hari ini adalah keputusan besar di tengah suasana politik yang tidak menguntungkan. Karena beberapa hal, ada banyak orang yang kecewa dan atau bahkan antipati dengan apa saja terkait politik. Tidak sedikit orang yang sinis dengan mereka yang bermain di politik praktis - betapapun mereka sadar bahwa politik itu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Dengan kondisi psikologi massa seperti ini, saya membayangkan bawa menjadi aleg hari ini akan lebih banyak susahnya daripada senangnya. Anda harus siap mental menerima ribuan keluhan atau bahkan sumpah serapah dan caci maki dari jutaan masyarakat yang anda wakili. Karenanya saya ingatkan pentingnya memperbaiki dan membetulkan niat sejak awal - bahwa pencalonan ini benar-benar bentuk keputusan untuk ikut berjuang dan menjadi pelaku perubahan itu. Perjuangan ini pasti tak akan mudah, atau bahkan mungkin bisa 'berdarah-darah'. Dan saya yakin, hanya mereka yang ikhlaslah yang akan selamat sampai pada tujuan. Jadilah diantara sedikit aleg yang berangkat ke senayan dengan niat 'menghidupkan lilin' - penerang jalan kita menuju masa depan yang lebih baik. Seseorang yang menjadi 'wakil rakyat' dalam makna sesungguhnya, bukan hanya menjadi wakil partai atau bahkan menjadi wakil diri sendiri. Hanya dengan begitulah, anda bisa menulis sejarah yang baik untuk dirimu sendiri dan anak cucu kita kelak. Selamat berjuang, kawan! Jabat erat! *ditulis dalam perjalanan Melbourne – Singapura, 10 September 2013.