Afif Auliya Nurani
Afif Auliya Nurani Mahasiswi

Tarbiyatul Athfal

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Mas Fahri, Dilan, dan Perempuan

12 Maret 2018   22:34 Diperbarui: 13 Maret 2018   11:29 741 4 2
Mas Fahri, Dilan, dan Perempuan
Salah satu potongan adegan di film Ayat-ayat Cinta 2. Sumber: voxpop.id

Beberapa bulan terakhir, dunia perfilman Indonesia benar-benar membuat kaum hawa berlarut-larut dalam ke-baper-an. Pasalnya, beberapa film yang release dalam jarak waktu yang cukup pendek berisi tentang cinta, cinta, dan cintahhh. 

Sebut saja film Ayat-ayat Cinta 2 yang kemudian disusul dengan Dilan 1990 dan Eiffel I'm in Love 2... Belum lagi dipenghujung bulan Maret nanti, film "Teman tapi Menikah" yang diangkat dari sebuah kisah nyata akan menyusul untuk menghujami hati para perempuan dengan belati merah jambu, terutama yang jomblo (eh).  

Jujur, saya belum pernah menonton film-film tesebut meski sudah meng-khatam-kan novelnya. Namun jika dilihat dari histeria teman se-per-gender-an, sepertinya tokoh-tokoh dalam film tersebut berhasil "membuai" para penontonnya. Yap,mas Fahri dan dek Dilan. Jangankan dalam film, novelnya saja sempat membuat angan-angan saya melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi dan terlelap dalam lautan emosi... lah, malah nyanyi.

Mas Fahri ---yang dalam film Ayat-ayat Cinta 2 diperankan oleh Fedi Nuril, menggambarkan sosok pria idaman yang begitu super-sempurna. Tampan, sholih, cerdas, dermawan, tanggung jawab, rendah hati, daaan masih banyak lagi sifat-sifat baik yang ada dalam dirinya. Bahkan hampir dua per tiga bagian novel Ayat-ayat Cinta 2 membahas tentang kebaikan mas Fahri baik terhadap siapapun tanpa terkecuali. 

Sedangkan sisanya tentu saja adalah ruang bagi kecintaan mas Fahri ke pada Aisyah. Overall, saya tidak menemukan sedikitpun kekurangan dari mas Fahri. Entah karena saya kurang jeli memaknai novel tersebut, atau karena tulisan Habiburahman El Shirazy ini memang dibuat demikian sebagai wujud do'a agar lelaki seperti mas Fahri masih bertebaran di kerak bumi? Aamiin dah...

Dilan, remaja yang super romantis yang diperankan oleh Iqbaale dalam film Dilan 1990 benar-benar meng-influence pemuda Indonesia. Parody , quotes, meme, dan screen-scene tentangnya hampir setiap hari bermunculan di berbagai media sosial. 

Meski digambarkan slengekan, tetap saja Dilan adalah idaman para remaja karena dia ganteng, romantis, humoris, dan punya gaya pendekatan yang berbeda dari orang kebanyakan. Bukankah yang unik akan selalu menarik? Tapi sayang sekali, ya, Dilan tidak menikahi Milea di ujung cerita. Yaaa, kalau bukan jodoh mau bagaimana lagi?

Dua tokoh fiktif di atas tentu membuat perempuan zaman now selalu mengeluh begini: duh... masih ada stok yang begitu nggak yaaa?

Sadar atau tidak, bahwa jika ingin mendapatkan lelaki seperti mas Fahri, maka kita juga harus se-sholihah Aisyah. Atau jika kita ingin dicintai pemuda seperti Dilan, jadilah selevel Milea. Ath-thoyyibin lith-thoyyibaat, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Kenyataan pahit yang harus diterima oleh perempuan muda Indonesia adalaaah: Memangnya, kamu adalah perempuan sesempurna itu untuk mendapatkan laki-laki sesempurna itu? Jreeenggg...

Fakta kedua yang harus ditelan bulat-bulat oleh perempuan yakni lelaki yang seperti itu hanya dan hanya ada di film, sis. Iya, mungkin masih ada segelintir laki-laki yang seperti mereka, namun tentu saja tidak akan ada yang 100% serupa. Mencarinya pun sulit apabila perempuan zaman now hanya mengandalkan khayalan dan stalking-an belaka. Sorry to say, but hal-hal yang terpampang di media sosial kini banyak sekali yang berbau pencitraan. Hati-hati, nggeh.

Film Ayat-ayat Cinta 2 dan Dilan 1990 secara tidak langsung memberikan efek psikis yang sepele namun cukup bahaya bagi mindset para pemuda, terutama perempuan. Kedua film tersebut menggambarkan seakan-akan perempuan hanya butuh dicintai dan mencintai di dunia ini. Dan lagi, seakan-akan perempuan hanya bahagia jika dinikahi oleh lelaki se-sempurna mas Fahri dan se-manis Dilan.

Oh meeen... juga seakan-akan lelaki ganteng selalu benar... betul tidak?

Come on, girls, masih banyak sumber kebahagiaan lain yang tidak harus berasal dari laki-laki. Keluarga, kerabat, teman sejati, adalah beberapa contoh sumber kebahagiaan. 

Belum lagi jika kamu adalah seorang guru, maka kamu bisa dapatkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari anak didikmu yang lugu-lugu. Memang, dalam teori kebutuhan Maslow terdapat tingkatan kebutuhan di mana setiap orang membutuhkan cinta untuk hidup. Tapi jangan lupa bahwa cinta bisa berasal dari mana saja.

Dalam buku yang ditulis oleh Abdul Hamid Al-Maslamani tentang kumpulan kisah memilukan tentang cinta juga dikatakan bahwa: "... kebahagiaan yang hakiki sesungguhnya diperoleh saat kita mengetuk pintu-pintu langit di siang dan malam hari, bukan dengan cara mengetuk pintu-pintu hati lelaki...". 

Now, I realize that bahagia bukan ketika kita mendapat sesuatu yang sempurna, tapi justru ketika kita menjadikan sesuatu itu sempurna. Intinya, bersyukurlah ---dan sadar diri-lah... hahaha.

Akhir kata, angkat mahkotamu dan jangan lupa bahagia, sis!