Mohon tunggu...
Aqiella Fadia Rizqi
Aqiella Fadia Rizqi Mohon Tunggu... Freelancer - Imperfect Zero Waste Fighter

Bumi, yang kuat ya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Simpati dan Empati, Apakah Benar Masih Ada?

10 Februari 2019   22:55 Diperbarui: 13 Februari 2019   23:41 90
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Simpati : menggambarkan perasaan belas kasih dan sayang atas kejadian yang menimpa seseorang. Empati : dapat menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan berbagi secara langsung kesedihan mereka. (Jurnas.com)

Dua kata yang aku dapatkan definisinya di bangku Sekolah Dasar. Yang mana kata bu guru Bahasa Indonesiaku, sering dirasakan oleh kita (baca : orang Indonesia). Ketika bertemu orang menuntun motor mogok, misal, meski tidak dikenal, kita dengan ramah menegur "kenapa motornya mbak/mas/pak/buk/dst?". Ketika sudah tau, segera mencarikan bensin atau tempat tambal ban terdekat. Tergantung masalah. Juga tergantung tingkat kesibukan Kita(calon penolong) tentunya. 

Maksudnya, kalau misal dalam perjalanan ke kampus/kantor dengan jarak yang masih lumayan, sisa waktu tinggal beberapa menit saja. Mungkin sedikit orang yang akan bersimpati dan melakukan hal tadi. Atau malahan, saking terburu-burunya, kita tidak menyadari ada orang yang sedang menuntun motornya.

Namanya juga keburu-buru. Panik. Wajar sih

Tapi beda lagi kalau yang baru-baru ini aku alami. 

Di semester yang menginjak tua ini (baca : semester genap ketiga), ada seorang kawanku yang terpaksa menunda kuliahnya karena masalah finansial. Masalah ini 11  12 denganku. Tapi Alhamdulillah aku tidak perlu mengambil cuti karena dibatas akhir hari pembayaran, kakak-kakak sepupuku mau patungan untuk kubayarkan uang kuliah dahulu, dan orangtuaku juga lega meski harus terbebani karena harus segera melunasi hutang ke keponakan-keponakannya. Yang penting anaknya tidak putus pendidikan di tengah jalan kata mereka ;(

Dalam beberapa hari kebelakang itu, ponselku rusak. Aku tidak memiliki akses dan informasi terkait persiapan kuliah dan sulit komunikasi dengan semua orang. Singkat cerita, setelah dapat pinjaman(lagi) hp, aku baru tau kabar kawanku tadi. Dia hanya memberitahu beberapa teman kalau dia ambil cuti. Tanpa keterangan, dan seketika ia memilih 'menghilang'. Meski nomor dan semua akunnya aktif, tidak ada chat dan panggilan dari teman-teman yang dijawabnya.

Orang-orang tidak tahu kenapa, bagaimana, dan di mana kawan ini sekarang.

Kucoba datang ke kosnya. Itu malam sebelum masuk kuliah perdana semester genap. Ya, malam senin seperti ini. Padahal aku tidak pernah keluar malam. Alasannya ada di sini. Tapi hari itu rasanya tidak ada 'halangan' untuk niatku ini.

Aku sampai ke kosnya sekitar jam 8 kurang. Ini kali pertamanya aku masuk, biasanya akan hanya di luar pagar dan ia melambai dari lantai dua, depan kamarnya. Aku naik, dan benar, dia ada di kos. Ada sandalnya di depan kamar, pintu kamarnya terbuka sedikit, sebelum aku melihatnya aku sudah mendengar suaranya membaca ayat suci Al-Qur'an-meski pelan. Ya, itu memang dia, masih lengkap menggunakan mukena. Aku putuskan untuk menunggunya di kamar sebelah yang juga terbuka. Aku kenal dengan pemilik kamar itu? Tidak! Saat aku masuk itulah kami berkenalan_^

 Setelah beberapa menit dan bahan obrolan kami menipis, aku coba menguping ke kamar kawanku. Tidak ada suara, sepertinya sudah selesai. Segera aku pamit dari kamar sebelah dan masuk nyelonong tanpa suara tanpa salam ke kamar sang kawan. Ya bingung juga sih, beberapa saat awal agak hening. Aku masih merangkai kata-kata untuk 'kawan tanpa kabar' ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun