A.I
A.I Mahasiswa

Senang membaca, sepakbola, juga bertualang. Saat ini sedang menjalani tahapan industrialisasi pendidikan sebagai: Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) Semester IV

Selanjutnya

Tutup

Muda highlight headline

Copy-Paste ala Mahasiswa di Mata Penerima Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2014

17 Februari 2017   20:00 Diperbarui: 19 Februari 2017   19:14 619 15 12
Copy-Paste ala Mahasiswa di Mata Penerima Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2014
Faisal Oddang. Sumber gambar: blogdivapress.com

“Membaca adalah menabung, sementara menulis adalah membelanjakan isi tabungan”. –Faisal Oddang

Ada fenomena menarik yang terjadi pada mahasiswa (Indonesia) saat ini: ketidakmampuan untuk menulis. Lebih tepatnya kemampuan menulis sesuai khazanah penulisan yang benar.

Tak bisa dipungkiri jika saat ini mahasiswa mengalami sindrom 'alergi buku'. Di dunia yang serba praktis—saat ini—informasi semudah memainkan jari di layar smartphone. Buku seyogyanya merupakan alat perang bagi seorang mahasiswa dalam mengarungi belantara pendidikan. Namun, saat ini peran buku telah terganti oleh gadget—yang membuat mahasiswa saat ini lebih senang berselancar di dunia maya, tinimbang duduk di sudut rak buku perpustakaan.

“Mahasiswa saat ini, lebih senang melakukan saling-rekat (copy paste) dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen,” ujar Faisal Oddang.

Faisal Oddang adalah penulis “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon”—cerpen yang meraih penghargaan sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2014—dan menyisihkan penulis kenamaan seperti: Djenar Maesa Ayu, Sapardi Djoko Darmono, Agus Noor, Budi Darma serta masih banyak penulis lainnya. Hebatnya lagi, Faisal Oddang memenangkan penghargaan itu saat usianya baru menginjak 20 tahun.

Pria bertubuh subur ini, lahir di Wajo, 18 September 1994. Saat ini, Faisal Oddang tengah tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin Makassar.

Penulis secara tak sengaja bertemu dengan Faisal Oddang, di foodcourtGraha Pena Makassar. Sangat tepat jika problem baca-tulis yang membelenggu mahasiswa saat ini, ditanyakan kepada seorang Faisal Oddang. Sebab, selain sebagai penulis, ia juga masih berstatus mahasiswa. Berikut ini kutipan wawancara dengan penulis novel “Puya ke Puya” ini:

Bagaimana kuliahnya?
(Sembari tersenyum) Yah, begitulah. Sekarang sudah semester 10.

Bagaimana perasaan Anda, saat mengetahui bahwa “Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon” berhasil mengalahkan cerpen lain yang ditulis oleh penulis-penulis kenamaan negeri ini?
Harus diluruskan di sini. Saya tidak merasa mengalahkan mereka. Mungkin saat itu, juri lebih senang dengan tulisanku. Tidak menutup kemungkinan jika juri lain yang menilai, hasil yang berbeda bisa saja terjadi.

Sumber gambar: print.kompas.com
Sumber gambar: print.kompas.com

Sejak kapan senang menulis?
Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya sudah menulis. Namun, untuk lebih serius menulis itu saat masuk di Sastra Indonesia, Unhas. Faktor lingkungan di bangku kuliah, membuat saya semakin intens menulis.

Ada sebuah idiom yang berbunyi “Seorang penulis yang hebat, berarti seorang pembaca yang baik”. Bagaimana dengan Anda?
Ya, tentu saja. Kembali lagi ke lingkungan. Di kampus, saya diharuskan membaca serta menganalisis bacaan tersebut, baik novel, cerpen, atau puisi. Tapi, jauh sebelum masuk kampus, saya sudah senang membaca.

Di luar Fakultas Sastra —yang setiap hari bersentuhan dengan bacaan dan kepenulisan— bagaimana pandangan Anda, terhadap minat baca mahasiswa saat ini?
Jujur saja angkatan saya berjumlah 30 orang, namun, yang memiliki minat tinggi untuk membaca hanyalah lima orang. Jadi bisa dibayangkan jika di sastra —yang notabene bergelut dengan dunia kesusastraan— minat baca masih minim, bagaimana dengan (jurusan) yang lain?

Sejak Sekolah Dasar (SD), kita telah diajarkan tentang menulis maupun mengarang. Lalu, ketika di duduk di bangku kuliah, banyak mahasiswa yang kesulitan saat harus mengerjakan tugas yang berupa tulisan. Apa faktor yang menyebabkan hal itu?
Hmm... Penyebab yang membuat mereka kesulitan menulis, yah?

Ya, benar!
Ada hubungan sebab-akibat dalam hal ini. Menulis dan membaca adalah Dua mata rantai peristiwa yang saling berkaitan. Bayangkan saja, kita buang air kecil tapi tidak minum. Atau, mau BAB tapi tidak pernah makan.

Dengan membaca, kita menyuplai ide dan pemikiran ke dalam otak. Lalu, saat kita tidak membaca, apa ide/pemikiran yang bisa kita tuangkan menjadi tulisan? Ibaratnya, membaca adalah menabung. Kemudian menulis adalah membelanjakan isi tabungan. Jadi, penyebab dari kesulitan menulis yang dialami oleh mahasiswa saat ini, dikarenakan mereka kurang membaca.

Adakah kecenderungan, media sosial memengaruhi menurunnya minat baca buku seorang mahasiswa?
Dalam kasus ini media sosial tidak salah. Ini hanyalah soal bagaimana kita memanfaatkan media sosial itu. Saya pikir media sosial tidak serta-merta bisa dipandang negatif. Toh, banyak berita maupun hiburan yang bisa kita dapatkan lewat media sosial. Saya menggunakan media sosial, sekadar hiburan semata. Jika kemudian banyak mahasiswa yang menjadikan media sosial sebagai sumber pengetahuan utama (tanpa membaca buku), itu yang salah.

Budaya salin-rekat atau copy paste, kini kian menjamur. Tak dipungkiri jika fasilitas internet yang semakin mudah, turut ambil andil akan hal ini. Tanggapan Anda?
Saya sebagai mahasiswa juga tak jarang menemukan teman-teman yang melakukan hal itu (copy paste). Menurut saya, ini adalah tantangan bagi seorang dosen—bagaimana ia harus teliti memeriksa tugas dari mahasiswanya—meski pada kenyataannya, banyak dosen yang kecolongan.

Budaya copy paste sendiri tak melulu diakibatkan oleh internet. Seperti yang saya utarakan sebelumnya —minat baca yang kurang— membuat suplai ide dan pikiran berkurang. Tak ayal jika banyak (mahasiswa) yang memilih jalan pintas: meng-copy paste karya milik orang lain.

Apakah dosen juga berperan dalam kasus (copy paste) ini?
Jika pencuri berhasil membobol rumah di dalam sebuah kompleks perumahan, lantas apakah kemudian kita serta-merta harus menyalahkan satpam perumahan? Tentu tidak, bukan? Meski tak bisa dipungkiri juga, bahwa pada kasus ini dosen yang kurang kontrol pada (tugas) mahasiswanya.

Apa tips Anda, agar mahasiswa saat ini dapat lebih gemar membaca?
Hal yang perlu saya sampaikan di sini, bahwa saya tidak ingin menyalahkan teman-teman (mahasiswa) yang malas membaca. Sebab, saya terkadang berpikir bahwa sistem di kampus yang membuat mereka menjadi malas membaca.

Maksudnya?
Apakah kampus telah membuat perpustakaan menjadi nyaman? Ataukah, berapa lama perpustakaan di kampus, buka dalam sehari? Perpustakaan di kampus, buka dari pukul 10-12. Kemudian, buka lagi pukul 13-16. Hanya dalam rentan waktu itu, kita (mahasiswa) diberi akses untuk meraup ilmu dan informasi di perpustakaan kampus. Tapi itu di kampus saya.

Ya, memang hampir di seluruh kampus menggunakan sistem seperti itu!
Kenapa harus ada jeda waktu istirahat di kampus? Kenapa tidak diberlakukan sistem shift,agar mahasiswa juga tidak terganggu. Terkadang saat saya sedang membaca, lalu jam istirahat perpustakaan tiba—kita terpaksa (harus) meninggalkan perpustakaan.

Itu di perpustakaan kampus. Di luar perpustakaan kampus—perpustakaan daerah—juga beroperasi di jam mahasiswa/pelajar, sedang berada di kampus/sekolah. Perpustakaan daerah buka di jam kantor pada umumnya—pagi-sore—sehingga sulit bagi mahasiswa maupun pelajar untuk bertandang ke perpustakaan daerah.

Ada pesan khusus untuk mahasiswa saat ini?
Apayah?
Hmm... Saya bukan orang yang senang/suka untuk memberi pesan (nasihat). Tapi, yang perlu teman-teman (mahasiswa) ketahui bahwa: Kemampuan membaca itu berpengaruh pada kemampuan berpikir seseorang. Kenapa kita harus rajin membaca? Karena kita harusnya sadar bahwa pemikiran-pemikiran yang baik itu, lahir dari bacaan-bacaan yang bagus.