Mohon tunggu...
Adista Pattisahusiwa
Adista Pattisahusiwa Mohon Tunggu... Time Is Running Out

I'm Journalist

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Italili Hingga Ullath, Louhatta Jangan Dilupakan

16 Januari 2018   06:32 Diperbarui: 4 Januari 2019   20:50 0 3 1 Mohon Tunggu...
Italili Hingga Ullath, Louhatta Jangan Dilupakan
Warga Ullath Memikul Bambu untuk Membantu Persiapan Pelantikan Raja Siri Sori Islam


Warga Ulath dan Sirisori Islam Menyanyikan Lagu 'Embun Pagi'. Lagu ini merupakan lagu Perdamaian antara kedua Negeri yang pernah dinyanyikan usai konflik antara Ullath dan Siri Sori islam pada 1963 silam.
Warga Ulath dan Sirisori Islam Menyanyikan Lagu 'Embun Pagi'. Lagu ini merupakan lagu Perdamaian antara kedua Negeri yang pernah dinyanyikan usai konflik antara Ullath dan Siri Sori islam pada 1963 silam.
Kala itu, Ismail Pattisahusiwa harus berjibaku di atas atap Gereja Syaloom Negeri Ullath, tanpa rasa takut lelaki paruh baya itu harus memenuhi permintaan bantuan untuk mengecat atap gereja kebanggaan negeri tetangga tersebut.

Pekerjaan berresiko tinggi berhasil dilakukan Ismail Pattisahusiwa hingga tuntas. Tete, begitu sapaan beliau, Warga Negeri Ullath mengenalnya sebagai lelaki pemberani penuh guyon. Profesinya sebagai petani yang memiliki keahlian sebagai penebang pohon itu membuat Tete sangat akrab dengan warga Negeri Ullath.

Tete sering dikunjungi para rekannya warga Negeri Ullath. Pagi, siang dan malam, begitu pun warga Ulath selalu menyembangi kediaman Tete di kawasan Banjir, Negeri Siri Sori Islam. 

Jika Tete berkunjung ke Ullath, Tete ibarat tamu special, hampir seluruh warga mengenalnya cukup dekat. Tete bisa kapan saja tidur di Ullath, keakraban tanpa batas membuat warga Negeri Ullath sudah menganggapnya bagian dari keluarga dan warga negeri.

Kedekatan Ismail Pattisahusiwa adalah potret kecil hubungan keakraban dan harmonisnya tatanan hidup orang basudara kedua negeri yakni Negeri Ullath dan Louhatta (Sirisori Islam).

Sirisori islam yang terletak di pulau Saparua, Maluku tengah. Tepatnya diseberang timur kota Ambon itu Bukan hanya negeri adat bertetangga, tapi sejarah masa lampau yang telah menorehkan kisah-kisah penuh kasih sayang yang sudah terpatri sejak zaman datuk-datuk.

Negeri Ullath adalah reinkarnasi dari sebuah negeri lama bernama Italili (Guntur kilat) yang berada di hutan Pulau Saparua berbatasan dengan Negeri Tuhaha, Itawakan dan Iha.

Italili dihuni oleh tiga datuk bersaudara Kasim, Tasim dan Abdullah Nekaulu. Moyang warga Ullath adalah Abdullah Nekaulu yang menurunkan fam Nikijuluw di Ullath serta fam Nengkewla di Kulur. Abdullah Nekaulu moyang Ullath merupakan adik dari Kasim yang merupakan moyang Iha dan Tasim yang merupakan moyang Tuhaha (menurunkan fam Aipassa).

Dikisahkan dimasa pemerintahan Gubernur Arnold de Vlamingh warga Italili kemudian diperintahkan untuk hijrah (turun) membangun negeri baru ditepi pantai. Perintah itu ahkirnya dipenuhi berkat kesepakatan ketiga moyang dan atas dan dukungan datuk-datuk di Negeri Louhatta.

Turunnya warga Italili ke tepi pantai, bagi datuk-datuk di Negeri Louhata adalah sebuah keputusan yang tepat. Karena negeri baru yang dituju berada di wilayah perbatasan Negeri Louhatta dan Negeri Lisaboli Kakelisa (Ouw). Keberadaan negeri baru, tentunya sangat menguntungnya, karena dapat meredam pertikaian antara kedua negeri (Louhatta -- Lisaboly).

Warga negeri Italili akhirnya hijrah membentuk negeri baru yang disebut dengan Beilohy Amalatu (Negeri Miring yang diperintah oleh seorang raja).

Negeri Ullath akhirnya tercatat dalam sejarah kekristenan di Maluku sebagai negeri pertama yang menerima Injil di pulau Saparua pada tahun 1670.

Perbedaan iman dan akidah, tidak serta merta menjadikan hubungan warga Ullath (Beilohy Amalatu) menjadi renggang dengan negeri tetangga Louhatta.

Ketergantungan sumber-sumber alam berupa air dan akses transportasi menjadikan warga Beilohy Amalatu sangatlah akrab dan menghormati warga Louhatta. Meski beberapa kali terjadi pertengkaran, namun warga kedua negeri ini selalu saling berdamai hingga kini.

Momentum kebersamaan, penghormatan antar sesama, kembali terlihat, setelah sekian lama menjadi vakum akibat ganasnya konflik komunal di Maluku. Dan 15 Januari 2018, sebuah tradisi dalam bentuk harmonisnya hubungan antar kedua negeri terulang kembali. Saling berpartisipasi dan saling membantu dalam momentum pelantikan Upulatu Sahusiwa.

Warga Beilohy Amalatu ikut serta membantu dalam pembangunan sabuah (tenda) menyongsong perhelatan akbar pelantikan Upulatu Sahusiwa. Mereka larut dalam alunan lagu gandong dan lagu perdamainan Beilohy --Louhatta dengan memikul beban bambu dan bahan bangunan tenda menuju pelataran rumah Upulatu Sahusiwa.

Inilah potret hubungan hidup orang basudara yang terpatri selama ratusan tahun silam. 

Sejak Italili hingga Ullath, Louhatta jangan dilupakan.

Dangke banyak basudara Beilohy Amalatu atas partisipasinya membangun keharmonisan di bumi "Sapano Rua", moga tetap terjaga untuk selamanya.

Wassalam.

By Dhino Pattisahusiwa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x