Mohon tunggu...
adinugroho
adinugroho Mohon Tunggu...

pecinta masakan padang dan selalu rindu dengan rendang buatan ibunda tercinta. suka jalan-jalan di tempat baru, tapi tidak suka tersesat.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Membedah Sisi Linguistik Kalimat Ahok (Katanya)

19 Oktober 2016   08:15 Diperbarui: 19 Oktober 2016   08:44 85 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membedah Sisi Linguistik Kalimat Ahok (Katanya)
Ahok di Kepulauan Seribu. Sumber: belitung.tribunnews.com

Sebenarnya saya malas menulis bahasan ini, tetapi rasa penasaran saya terhadap salah satu postingan seorang ahli bahasa dan penulis sekian buku, rupanya bisa menahan kantuk untuk sementara. Beliau ini diundang di acara ILC 11 Oktober 2016 untuk berbicara mengenai isu dugaan penistaan agama oleh Ahok – Gubernur DKI Jakarta, dalam aspek linguistik. Memperhatikan kosa kata yang digunakan begitu tertata, sungguh mengesankan beliau ini orang terpelajar. Terlebih lagi dengan penjelasan mengenai struktur kalimat SPOK, saya yakin ilmu kebahasaannya sudah tinggi.

Ketertarikan saya bermula saat menemukan kata linguistik yang dijadikan alat untuk membedah pernyataan Ahok. Saya menjadi ingat kata-kata guru SMA saya dulu (maaf saya tidak pernah kuliah bahasa), yang mengatakan bahasa adalah produk kemajuan budaya manusia yang paling berharga. Bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi, namun lebih jauh sebagai instrumen/alat yang menjembatani dunia internal manusia dengan dunia eksternalnya. Bahasa begitu kompleks. Nah, terus apa kaitannya dengan linguistik ? Linguistik bisa diartikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’.

Saat googling soal linguistik, saya menemukan banyak nama seperti Bloomfield - An Introduction to Linguistic Science, Noam Chomsky - Syntactic Structures, R. Jakobson-Quest for the Essence of Language, T. Givon, hingga W. Croft. Dari beberapa artikel kajian tersebut, saya menjadi ngeh alias sadar luasan linguistik sebagai ilmu bahasa. Linguistik memiliki banyak cabang ilmu yang terbagi berdasarkan pendekatan dan objek kajiannya. Linguistik terbagi menjadi mikrolinguistik dan makrolinguistik. Pada makrolinguistik ada pembagian berdasarkan terapan dan non terapan, di sana kita bertemu dengan fonetik, psikolinguistik, sosiolinguistik, etnolinguistik, semiotika, hingga grafologi dan mekanolinguistik. Wuih...ternyata begitu luas.

Kemudian, pada konteks postingan ahli bahasa dan penulis buku terkenal tadi yang berusaha membedah pidato Ahok dari sisi linguistik dan ternyata hanya menghadirkan analisa struktur kalimat SPOK saja, bagi saya (setelah tahu sedikit apa itu linguistik) seperti memahami apa itu gajah namun hanya memegang ekornya saja. Saya mengatakan demikian, karena dalam postingan dan paparannya, beliau menggunakan label umum (yang wah...) yaitu linguistik namun analisanya tidak komprehensif. Lain hal bila sejak awal mengatakan membedah sedikit pernyataan (dalam pidato) Ahok dengan analisa struktur kalimat SPOK (atau lebih keren lagi menggunakan kata Sintaksis). Nah..bila itu, pastinya saya akan langsung tidur, dan malas menulis bahasan ini.

Sekali lagi, saya bukanlah ahli bahasa, karena pelajaran bahasa saya dapatkan dari guru SMA saya saat bersekolah di sebuah kota kecil. Kajian bahasa adalah kajian yang kompleks, terlebih dalam hal  menganalisa sebuah wacana / pernyataan. Wordatau kata adalah bagian terkecil dalam sebuah kalimat, namun sadarkah anda, bahwa kata sebenarnya bersifat netral. Sebuah kata baru bermakna saat ada konsensus bersama yang melekatkan arti pada kata tersebut.

Sebagai contoh: kata meja. Nah, bagi kita, kata meja memiliki makna, yaitu benda / perkakas yang memiliki permukaan datar dan disokong oleh penyangga. Kata mejasangat berbeda dengan kursi, itu karena telah diletakan arti dan parameter tertentu yang membedakannya dengan kata lain. Coba pada saat 20 tahun lalu, apakah ada yang mengerti kata galau ? Saya yakin, bila saat itu ditanya, pasti tidak ada yang tahu artinya. Itu baru berarti setelah ada konsensus bersama yang melekatkan arti pada kata galau.

Makna sebuah kata bisa berubah-ubah sesuai perkembangan jaman ataupun perspektifnya. Itulah mengapa ada makna denotatif, konotatif, leksikal, peyorasi, ameliorasi, penyempitan maupun perluasan makna. Sebagai contoh : amplop yang bisa berarti kertas pembungkus, bisa juga berarti uang suap/sogokan. Itulah mengapa, mengartikan sebuah kalimat tidak semudah makan kacang goreng (hm...artinya apa ya ?).

Mengartikan sebuah pernyataan/wacana dalam sebuah pidato, tidak cukup hanya me-break downnya dalam struktur kalimat S-P-O-K saja. Bila setiap kalimat di dunia ini memiliki satu makna, dan berdiri sendiri (tidak dipengaruhi oleh aspek sosial, history, dllnya), pastinya tidak akan pernah ada ilmu tafsir, linguistik, dan prodi bahasa dari S1 – S3. Nah, berhubung manusia itu kreatif yang bisa kedele – tempe (pagi kedele sore jadi tempe), memahaminya juga harus lebih kreatif. Coba lihat bagaimana pidato Bung Karno saat menyampaikan gagasan mengenai Pancasila, pastinya tidak lepas dari konteks sosio-history saat itu, seperti imperialisme dan human right.

Alih-alih mengkritisi pernyataan Ahok yang sepotong (yang oleh salah satu pejabat negara dianggap sah-sah saja – jadi heran saya ?) dari pidato panjangnya, justru tidak mengesankan sebagai ahli bahasa (atau mungkin saya yang salah ?). Bila menganalisis sebuah pidato, mengapa tidak menggunakan pendekatan analisa wacana / discourse analysis ? Menggunakan paradigma dialektika,  menghadirkan cakupan teks dan konteks serta relasi bahasa dengan konteks yang ada. Bukankah bila hendak disederhanakan, dalam setiap pidato / wacana yang dilontarkan, ada 4 komponen di dalamnya: struktur gagasan, proses pikiran pembicara, pilihan bahasa dan situasi.

Nah mengapa tidak ublek-ublek saja di sana. Saya rasa bukan pertama kali ini, ayat-ayat suci agama dipergunakan dalam politik. Dalam sejarah reformasi, pernah ada wacana penolakan presiden wanita dengan alasan kajian agama. Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang discourse analysis, karena saya bukan orang terpelajar (serahkan pada ahlinya), apalagi dalil-dalil agama.

Saya tidak dalam posisi memihak salah satu kandidat Pilkada DKI Jakarta, namun gelisah dengan penggiringan opini yang tidak fair. Bagi saya, kebenaran mutlak hanya milik Khalik Sang Pencipta. Bila ada permasalahan yang membutuhkan sebuah ilmu sebagai tools, maka lakukanlah dengan fair, komprehensif, jangan sebagian saja yang dianggap menguntungkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x