Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno highlight headline

Satelit Telkom 3S Meretas Batas Konektivitas

15 Februari 2017   07:42 Diperbarui: 15 Februari 2017   14:16 741 10 7
Satelit Telkom 3S Meretas Batas Konektivitas
satelit telkom 3s diharapkan mampu menjangkau masyarakat luas sehingga masyarakat memperoleh kesempatan yang sama lewat akses internet/ liputan6.com

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mempunyai ambisi besar untuk menyediakan layanan internet untuk 150.000 desa terpencil. Tak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan ambisi tersebut, Pemerintah India telah menyiapkan dana sebesar 100 miliyar Rupee atau setara USD 1,4 miliyar.

Upaya itu tentunya dilakukan supaya penduduk yang tinggal di pelosok negeri dapat terhubung lewat internet sehingga mereka mempunyai kesempatan yang sama dengan penduduk India lainnya yang sudah lebih dulu menikmati fasilitas internet.

Saat ini tercatat lebih dari 400 juta pengguna internet yang terdapat di India, dan kalau proyek itu sukses diwujudkan, jumlah itu akan bertambah secara signifikan pada masa depan.

Sewaktu mendengar berita itu, pikiran saya pun “diberondong” oleh sejumlah pertanyaan. Mengapa Pemerintah India berani menggelontorkan dana sedemikian besar hanya untuk menyediakan layanan internet kepada para penduduk di daerah terpencil?

Apa pula manfaat yang bisa dipetik oleh mereka-mereka yang tinggal di pelosok negeri dengan hadirnya internet? Serta bagaimana cara mereka dalam memanfaatkan internet agar taraf hidup mereka bisa bertambah baik?

Ketika merenungkan pertanyaan itu, pikiran saya pun “tersasar” pada sebuah komentar unik yang disampaikan oleh CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, pada sebuah kesempatan.

Pada saat itu, William menyampaikan sebuah pandangan bahwa internet memberi kesempatan yang sama untuk setiap orang. Awalnya saya masih belum memahami betul maksud kalimat tersebut. Namun, begitu melihat dampak yang ditimbulkan oleh internet kepada kehidupan banyak orang, saya menjadi lebih mafhum.

Sejak diciptakan oleh Sir Tim Berners-Lee beberapa dasawarsa silam, internet telah mengubah cara kita dalam menjalani hidup. Internet tak hanya sudah merevolusi cara kita dalam berkomunikasi, tetapi juga turut memberi warna tersendiri di sejumlah bidang, seperti ekonomi, budaya, dan pendidikan.

Buktinya, kalau kita ingin membeli barang, atau bepergian ke sebuah tempat, atau mempelajari sesuatu, kita cukup mengeklik situs atau aplikasi tertentu, dan “sim salabim”, semua keinginan tersebut dapat terpenuhi dengan mudah.

Maka, jangan heran kalau sekarang terdapat ungkapan: “dunia berada di ujung jari”. Rasanya ungkapan itu tak berlebihan lantaran dengan internet, hidup kita menjadi lebih mudah dan praktis.

Kehadiran internet juga telah memberi kesempatan yang sama kepada setiap orang. Kini orang tak perlu lagi menunggu datangnya keberuntungan untuk meraih kesuksesan. Asalkan punya bakat tertentu, lewat internet, ia bisa memperoleh ketenaran dan keberhasilan.

Buktinya, kini sudah banyak orang yang tiba-tiba tersohor setelah mempertunjukkan bakatnya di youtube. Sebut saja Raisa, yang mengawali kariernya dari youtube. Setelah tayangan video yang memperlihatkan kemampuannya dalam bernyanyi diunggah di youtube, namanya kemudian menjadi terkenal.

youtube memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memperlihatkan kemampuannya/ https://www.dw.com
youtube memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memperlihatkan kemampuannya/ https://www.dw.com
Tawaran dari pelbagai produser rekaman pun berdatangan seiring popularitas yang diperolehnya. Dari situlah ia memulai karier sebagai penyanyi hingga menjadi artis top seperti sekarang ini.

Itu baru bidang hiburan, belum bidang ekonomi. Dalam bidang ekonomi, internet sudah menjadi pasar tersendiri. Asalkan punya produk yang bagus dan bisa dipercaya, kita dapat mengeruk keuntungan besar lewat perdagangan online.

perdagangan secara online akan terus bertumbuh seiring ratanya persebaran akses internet/ https://www.rnib.org.uk
perdagangan secara online akan terus bertumbuh seiring ratanya persebaran akses internet/ https://www.rnib.org.uk

Apalagi kini telah banyak bermunculan ecommerce, yang menyediakan platform kepada siapapun untuk menawarkan barang jualannya. Dengan demikian, transaksi bisnis menjadi lebih praktis, tanpa lagi dihalangi oleh jarak dan waktu.

Sementara itu, dalam ranah pendidikan, kita bisa mempelajari apapun lewat internet. Kini telah ada sejumlah lembaga pendidikan, yang formal dan nonformal, yang membuka kelas secara online.

anak-anak di afrika mengakses layanan pendidikan yang berkualitas lewat internet/ https://www.telegraph.co.uk
anak-anak di afrika mengakses layanan pendidikan yang berkualitas lewat internet/ https://www.telegraph.co.uk

Hal itu memungkinkan setiap orang untuk mengakses pendidikan tanpa harus pergi ke sekolah. Hal itu juga membikin setiap orang dapat belajar tanpa dibatasi oleh waktu, lantaran internet bekerja selama 24 jam. Hal itu pula yang membuat anak-anak yang tinggal di daerah terpencil dapat memperoleh kualitas pendidikan yang sama dengan anak-anak yang tinggal di kota besar.

Maka, pendapat bahwa internet memberi kesempatan yang sama kepada setiap orang, seperti yang disampaikan William di atas, terasa sangat relevan. Dengan demikian, rasanya masuk akal kalau Pemerintah India berambisi kuat menghubungkan 150.000 desa lewat internet karena internet membuka banyak peluang bagi para penduduk yang tinggal di situ.

Kesempatan untuk Indonesia

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Pemerintah Indonesia akan meniru kebijakan Pemerintah India sehingga setiap penduduknya mempunyai kesempatan yang sama lewat fasilitas internet? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita menengok perkembangan internet di tanah air.

Biarpun lebih sedikit daripada India, pada tahun-tahun yang akan datang, jumlah pengguna internet di Indonesia diprediksi akan bertambah. Berdasarkan data dari We Are Social, yang dikutip dari infokomputer, pada tahun 2016 tercatat bahwa jumlah pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 88,1 juta. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 5% dari tahun sebelumnya.

Menurut hemat saya, statistik itu memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia akan terus bertumbuh dari tahun ke tahun, dan itu adalah sebuah “kesempatan emas” untuk mulai mengembangkan pelbagai peluang bisnis. Apalagi kini Indonesia tengah berada dalam kondisi yang menguntungkan karena mengalami revolusi kelas menengah.

inilah prediksi pertumbuhkan jumlah kelas menengah di indonesia/ https://commonwealth.com
inilah prediksi pertumbuhkan jumlah kelas menengah di indonesia/ https://commonwealth.com

Sebagaimana diketahui, sejak akhir tahun 2010, Indonesia telah berhasil melampaui angka ambang pendapatan perkapita USD 3.000. Dengan melihat pengalaman dari negara-negara maju, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman, negara yang berhasil mencapai angka tersebut biasanya akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam jangka waktu yang lama. Angka itu juga mengindikasikan bahwa jumlah kelas menengah di indonesia bisa menjadi pendorong perekonomian secara keseluruhan.

Selain itu, Indonesia juga sedang menikmati bonus demografi, yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah peluang yang dinikmati suatu negara akibat besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya. Dengan berlimpahnya penduduk usia produktif, bonus demografi bisa menjadi pilar peningkatan produktivitas suatu negara dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui pemanfaatan SDM produktif.

Bagi suatu negara, bonus demografi adalah sebuah momentum langka yang umumnya terjadi satu abad sekali. Oleh sebab itu, momentum itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menciptakan pelbagai kesuksesan.

Salah satu langkah untuk memaksimalkan kesempatan itu adalah dengan pemerataan akses internet. Hanya saja, yang menjadi persoalan untuk mewujudkan hal itu adalah keterbatasan modal dan sarana. Oleh sebab itu, jangan heran kalau pengguna internet masih didominasi oleh penduduk perkotaan, dan belum menjangkau penduduk di pedesaan secara keseluruhan.

Satelit Telkom 3S

Untuk menjawab tantangan tersebut, Telkom meluncurkan sebuah satelit pada hari ini. Satelit yang dinamakan Satelit Telkom 3S itu akan diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.

Dalam proses pembuatannya, Telkom bekerja sama dengan dua vendor asal perancis, yaitu Thales Alenia Space untuk pembuatan badan satelit dan Ariane Space untuk proses peluncurannya. Kedua vendor tersebut dipilih karena punya track record yang baik soal pembuatan dan peluncuran satelit.

Satelit yang akan ditempatkan di 118 derajat bujur timur atau berada di atas Makassar itu membutuhkan biaya perakitan yang besar. Sebagaimana dikutip dari laman detik.com, Telkom harus menggelontorkan dana investasi sebesar 3,3 triliyun. "Untuk investasinya, harga normal satelit sekitar USD 200 juta hingga USD 250 juta untuk seukuran satelit Telkom 3S," jelas Direktur Network IT & Solution Telkom, Abdus Somad Arief.

Namun demikian, biaya investasi yang tinggi itu sebanding dengan fasilitas yang akan diperoleh telkom dalam memperluas jangkauan internet di tanah air. Meskipun tidak digunakan langsung ke pemakai akhir, satelit itu akan menjadi pendukung jaringan seluler dan serat optik. Cakupan satelit sangat luas sehingga memperkuat pengiriman jaringan telekomunikasi kepada masyarakat.

Selain itu, kehadiran satelit itu mengurangi ketergantungan dari pihak asing. Sebagaimana diketahui, sebagian besar perusahaan komunikasi Indonesia masih menyewa satelit pihak luar. Oleh sebab itu, peluncuran satelit itu bisa menjadi sebuah langkah awal yang baik untuk proses berdikari.

Sementara itu, kehadiran satelit itu juga akan memperluas akses internet, terutama kepada masyarakat yang tinggal di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Daerah itu antara lain Provinsi Aceh, NTT, Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.

Hal itu tentunya memberi dampak besar terutama di dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Dalam bidang pendidikan, misalnya, jika kita menerapkan model pendidikan berbasis Information Communication Technology (ITC), anak-anak yang tinggal di situ akan memperoleh kualitas pendidikan yang baik. Dengan demikian, mereka dapat tetap menikmati pendidikan yang setara, sehingga pengetahuan yang diperolehnya tetap aktual dan bermanfaat.

Kemudian, dalam bidang ekonomi, kehadiran satelit itu diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat. Harapan itu terasa realistis jika kita melihat hasil survei Bank Dunia pada tahun 2015. Dari survei itu disebutkan bahwa pertumbuhan 10% akses internet meningkatkan perekonomian sebesar 1,3%. Dengan demikian, jika masyarakat setempat mendapat akses internet, mereka akan memperoleh kesempatan yang sama untuk memajukan roda ekonomi daerahnya.

pertumbuhan pengguna internet bisa naik jika satelit telkom 3s dapat menjangkau masyarakat 3t/ https://cdn.techinasia.com
pertumbuhan pengguna internet bisa naik jika satelit telkom 3s dapat menjangkau masyarakat 3t/ https://cdn.techinasia.com

Namun demikian, biarpun satelit itu akan bermanfaat besar bagi masyarakat luas, menurut hemat saya, pemerintah perlu melakukan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat, supaya mereka mengetahui cara menggunakan internet untuk hal-hal yang produktif. Jangan sampai internet hanya digunakan untuk bermedia sosial, atau sekadar mencari hiburan semata.

Upaya edukasi itu tentunya butuh waktu yang panjang, lantaran ekosistem penggunaan internet di masyarakat perlu dibentuk terlebih dulu. Upaya itu bisa mencontoh program yang dilakukan Telkom pada bulan Agustus 2016.

Pada saat itu, Telkom meresmikan kampung digital di kawasan Baduy, Lebak Banten. Kegiatan itu tak hanya mengedukasi masyarakat Baduy supaya mulai memanfaatkan teknologi, tetapi juga membentuk “kantong” komunitas, yang menjadi wadah bagi pelaku UKM setempat.

keberadaan kampung ukm digital yang digagas oleh telkom turut menumbuhkan ekosistem digital tanah air/ https://www.telkom.co.id
keberadaan kampung ukm digital yang digagas oleh telkom turut menumbuhkan ekosistem digital tanah air/ https://www.telkom.co.id

Biarpun baru berjalan beberapa bulan, program tersebut diharapkan mampu membentuk ekosistem pemakai internet dengan lebih cepat. Oleh sebab itu, sudah seharusnya program yang sama diterapkan oleh pemerintah daerah, sehingga kampung-kampung serupa tersebar hingga di pelosok-pelosok.

Salam.

Adica Wirawan, founder gerairasa.com

Referensi:

  • “India planning to bring internet to over 150,000 villages”, cnet.com, diakses pada tanggal 3 Februari 2017.
  • “Satelit Telkom 3S solusi pemerataan akses informasi”, antaranews.com, diakses pada tanggal 7 Februari 2017.
  • “Alasan Telkom Pilih Prancis Garap Satelit Telkom 3S”, detik.com, diakses pada tanggal 7 Februari 2017.
  • “Baduy Kini Punya Kampung UKM Digital”, metrotvnews.com, diakses pada tanggal 13 Februari 2017.