Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of "gerairasa.com" Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno highlight headline

Kasus Bunuh Diri yang Disiarkan via Medsos Menunjukkan Sifat Narsistis?

19 April 2017   09:28 Diperbarui: 19 April 2017   12:25 238 5 3
Kasus Bunuh Diri yang Disiarkan via Medsos Menunjukkan Sifat Narsistis?
Ilustrasi. Thinkstock

Diskusi yang diselenggarakan oleh Newsline Metrotv kemarin siang “menyita” perhatian saya karena topik yang diangkat adalah soal kekerasan dan aksi bunuh diri yang marak disiarkan secara live di media sosial.

Persoalan itu memang menarik dibahas lantaran tengah menjadi trend di masyarakat. Betapa tidak! Dalam setahun terakhir, tercatat sudah 55 kali aksi kekerasan dan bunuh diri yang dipublikasikan lewat media sosial, seperti facebook dan live.me.

Misalnya saja, belakangan ini, yang sempat bikin heboh adalah kasus pria yang proses bunuh dirinya disebarkan lewat facebook. Menurut sejumlah sumber, motivasi bunuh diri itu muncul setelah ia ditinggal pergi istrinya. Keduanya dikabarkan sempat cekcok sebelum peristiwa itu terjadi.

Hal itu ternyata menimbulkan depresi di dalam batinnya sehingga ia terpikir mengakhiri hidupnya. Ia kemudian menyiarkan aksi bunuh dirinya lewat facebook, dan hal itu tentunya bikin “geger” di masyarakat. Apalagi, video adegan bunuh diri itu sempat ditonton banyak orang sehingga menjadi viral di dunia maya.

Kasus serupa juga terjadi di tempat dan pada waktu yang lain. Sebut saja kasus bunuh diri seorang ABG di Amerika Serikat pada tanggal 30 Desember 2016 lalu. Ia merasa depresi lantaran ada anggota keluarganya yang berulangkali melakukan pelecehan seksual terhadapnya.

Karena tak sanggup mengatasi depresi, ia pun nekat gantung diri, yang semua prosesnya ditayangkan secara live di media sosial dan disaksikan banyak orang. Sungguh ironis memang, tetapi demikianlah yang terjadi di “lapangan”.

Narsissus Era Digital

Dari kasus-kasus di atas, kita tentu bertanya-tanya, “Mengapa seseorang merasa perlu menyiarkan aksi bunuh dirinya di media sosial?” Pertanyaan itu memang sulit dijawab sebab ada banyak motif yang membikin seseorang memutuskan demikian.

Namun, jika mencermati kasus tersebut, pikiran saya pun teringat pada kisah Narsissus. Narsissus adalah seorang pemuda yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri dalam mitologi Yunani.

Suatu hari, Narsissus pergi ke sebuah danau dan sewaktu memandangi bayangannya di permukaan air danau yang tenang, ia langsung “kesemsem”.

Barangkali itu adalah pertama kalinya ia melihat bayangannya sendiri, dan karena langsung “jatuh cinta” pada bayangannya sendiri, ia pun “hobi” menatap permukaan danau dalam waktu yang lama.

Hingga, akhirnya, ia pun mati di tepi danau itu karena rindu dendamnya sendiri yang tak sampai. Sejak saat itu, namanya kemudian diabadikan sebagai “gejala kejiwaan” berupa kekaguman terhadap diri sendiri secara berlebihan, alias “narsis”.

Walaupun disebut telah lama tiada, sifat Narsissus yang mencintai dirinya sendiri lebih daripada apapun bisa jadi telah “terlahir kembali” dalam diri banyak orang. Apalagi, sejak fenomena selfie menjadi trend di masyarakat beberapa tahun lalu, Narsissus-Narsissus era digital pun muncul dengan beragam “gaya”.

Betapa tidak! Jika dulu orang hanya berfoto untuk mengabadikan sebuah momen berharga, kini orang cenderung menjadikannya sebagai ajang “pelampiasan ego”. Bagi yang sudah kecanduan selfie, misalnya, setiap momen itu dianggap berharga.

Makanya, mereka sering mengambil foto pada momen-momen yang sebetulnya biasa saja, yaitu bangun tidur, pergi belanja, dan makan siang. Dari situ, muncullah kekaguman atas diri sendiri secara berlebihan, seperti Narssisus. Apalagi, kalau foto itu di-share di medsos dan direspon banyak orang, bisa jadi itu turut menyuburkan sifat narsis di dalam diri seseorang.

Lantas, apa hubungannya antara sifat narsis dan kasus bunuh diri sebagaimana dipaparkan di atas? Bisa jadi hal itu menunjukkan sifat “narsis” dalam diri pelaku sehingga si pelaku “merasa perlu” menayangkan perbuatannya di media sosial agar dilihat banyak orang.

Namun demikian, barangkali itu hanyalah “asumsi” belaka. Sebab, jika seseorang punya sifat narsis yang kuat, ia akan menyayangi dirinya sendiri, sehingga pikiran bunuh diri tentu tak akan terlintas di kepalanya.

Oleh sebab itu, pasti ada motif lainnya yang membikin seseorang merasa perlu menyiarkan aksi bunuh dirinya via medsos, yang sampai saat ini belum terkuak jawabannya.

Salam.

Adica Wirawan, Founder Gerairasa.com

Referensi:

“Pria Bunuh Diri Live di Facebook Dikenal Ramah,” liputan6.com, diakses pada tanggal 19 April 2017.

“Fenomena Bunuh Diri Lewat Facebook Live juga Dilakukan ABG di Amerika,” tribunnews.com, diakses pada tanggal 19 April 2017.