Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

"Kontrarian", Strategi Investasi Saham ala Rambo

5 April 2021   07:00 Diperbarui: 5 April 2021   10:17 559 18 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Kontrarian", Strategi Investasi Saham ala Rambo
Ilustrasi investasi. Sumber: SHUTTERSTOCK via KOMPAS.COM

Terkadang saya sering merasa "gemas" terhadap strategi investasi yang dijalankan oleh teman saya. Sebab, ia kerap telat menjual saham, dan sering gagal memaksimalkan keuntungan yang sudah berada di depan mata.

Contohnya, belum lama ini, ia bercerita bahwa ia ingin melepas saham BBCA yang sudah disimpannya selama berbulan-bulan. Alasannya? Karena saham tersebut sedang dalam fase downtrend (turun).

Hal ini tentu saja membikin nilai keuntungannya menjadi tipis, mengingat ketika IHSG melaju kencang sepanjang bulan November 2020-Januari 2021, nilai keuntungan dari saham BBCA yang digenggamnya sanggup tembus 5 juta rupiah.

Namun, sekarang, karena harga saham tersebut terus ambyar ke level 31 ribuan, maka potensi keuntungannya tergerus hingga tersisa beberapa ratus ribu saja!

Sekiranya kasus demikian memang sering menimpa investor yang menggunakan strategi "trend following".

Strategi yang dijalankan dengan cara "membeli saham ketika investor lain ikut membeli, dan menjual saat yang lain ikut menjual" tersebut memang hanya akan menyisakan sedikit sekali keuntungan bagi siapapun yang telat melakukan "profit taking" (ambil untung).

Alhasil, jika terlambat sedikit saja, maka potensi keuntungan besar yang sudah berada di depan mata bisa "menguap" dalam waktu yang begitu cepat.

Ilustrasi Rambo. Sumber: KOMPAS.COM
Ilustrasi Rambo. Sumber: KOMPAS.COM
Sejujurnya saya kurang menyukai strategi tersebut. Alasannya? Karena tidak ada yang tahu persis posisi terbaik untuk membeli dan menjual sebuah saham. Jika mengikuti strategi tersebut, maka bisa saja, investor salah mengambil keputusan.

Mungkin saja investor yang bersangkutan membeli saham justru di posisi puncak, sehingga tidak lama kemudian, harga sahamnya jatuh dan investor tadi rugi besar.

Mungkin pula investor tadi malah menjual saham terlalu dini. Hanya karena harga sahamnya naik cepat, maka investor tergiur cepat-cepat melepas sahamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x