Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Founder of Gerairasa | "Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Founder of Gerairasa | "Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Harga Setara UMR, Adidas Yeezy Punya "Profit Margin" Tinggi?

8 Juni 2019   10:09 Diperbarui: 9 Juni 2019   08:36 0 7 2 Mohon Tunggu...
Harga Setara UMR, Adidas Yeezy Punya "Profit Margin" Tinggi?
Antrean Sepatu Adidas di Grand Indonesia, MH Thamrin, Jakarta Pusat (7/6/2019).| Sumber: Kompas.com/Cynthia Lova

Sekelompok orang yang mayoritas didominasi anak muda tampak berkerumun di pintu masuk Grand Indonesia. Mereka datang bukan untuk berunjuk rasa. Bukan pula untuk "berlebaran" di mal. 

Mereka rela berdesak-desakan di situ sejak pagi hari untuk satu tujuan, yaitu membeli Adidas Yeezy 350 V2 Black. Ya, pada Jumat kemarin (7/6/2019), Store Our Daily Dose yang berlokasi di Grand Indonesia resmi menjual sepatu hasil kolaborasi antara Adidas dan Kanye West tersebut.

Seperti dilansir dari Kompas, ada beragam alasan yang menyebabkan orang-orang rela antre hanya untuk memiliki sepatu tersebut. Di antaranya adalah kerena mereka ingin mengoleksinya. 

Wajar, produk teranyar Adidas tersebut memang hanya dijual terbatas alias limited edition. Makanya, bagi kolektor sepatu, produk tadi tentu jadi incaran. Asalkan bisa menambah koleksi sepatu yang dimiliki, mereka ikhlas menunggu antrean selama berjam-jam.

Alasan lainnya adalah karena mereka mau menjual kembali sepatu tadi. Kehadiran produk tersebut bisa menjadi "tambang emas" bagi reseller sepatu. Pasalnya, harga jualnya diperkirakan akan naik beberapa bulan ke depan. 

Jadi, meskipun sepatu tersebut sekarang dibanderol dengan harga yang cukup mahal, yakni Rp 3,6 juta, besar kemungkinan, harga jualnya nanti akan jauh lebih tinggi lagi.

Oleh sebab itulah animo masyarakat untuk memiliki sepatu tadi sangat tinggi. Pengelola Our Daily Dose pun sempat dibuat kewalahan melayani pembeli. Pasalnya, sepatu Adidas Yeezy yang tersedia di toko jumlahnya di bawah 100 pasang, sementara pembeli yang datang sekitar 400! Jadi, jangan heran kalau pengelola sampai memberikan nomor antrean untuk menghindari kekisruhan!

sumber foto: https://akcdn.detik.net.id
sumber foto: https://akcdn.detik.net.id
Profit Margin Tinggi
Penjualan Yeezy 350 V2 yang laris manis tentu akan menambah pundi-pundi Adidas. Lewat produk tadi, apparel asal Jerman ini sepertinya akan menuai untung besar. 

Dengan profit margin yang tinggi atas penjualan produknya, laba yang diperolehnya diperkirakan akan terdongkrak, dan hal itu tentu akan berdampak baik bagi pergerakan harga sahamnya.

Saat tulisan ini dibuat, harga saham Adidas (ADS) menyentuh angka 265 Euro per lembar saham. Sejak Februari 2019, harga sahamnya telah "terbang" sebesar 31%! Dengan penjualan Yeezy, boleh jadi, harga sahamnya akan "meroket" lebih tinggi lagi.

Hal itu tentu bisa dimaklumi. Sebab, Adidas tergolong emiten yang punya fundamental yang bagus dan sering jadi langganan investor saham. Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip dari Yahoo Finance, Adidas mempunyai profit margin tahunan yang lumayan bagus, yakni 8%.

Profit margin kerap menjadi "barometer" untuk mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan. Profit margin diperoleh dari selisih antara pendapatan dikurangi beban. Untuk lebih jelasnya, silakan lihat tayangan video berikut.

Para investor sering berpatokan pada besaran profit margin untuk memilih saham. Perusahaan yang punya profit margin yang besar dianggap layak investasi dan punya fundamental yang kokoh. Apalagi kalau itu didukung oleh kondisi lain, seperti rendahnya tingkat utang dan bertumbuhnya laba perusahaan dari waktu ke waktu.

Di Bursa Efek Indonesia, terdapat sejumlah perusahaan yang punya profit margin yang besar. Sebut saja ICBP alias PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Setiap tahun, anak usaha Indofood ini sukses mencetak profit margin di atas 10%. Dengan menekan ongkos produksi, perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yang tinggi.

Terlebih, manajemen juga menjalankan perusahaan dengan efisien. Beban operasionalnya bisa dibatasi sedemikian sehingga untung yang masuk ke kas perusahaan jauh lebih banyak. Dengan demikian, jangan heran, kalau perusahaan bisa bertumbuh dari waktu ke waktu dan dapat bertahan manakala krisis ekonomi datang menghantam pasar.

Bandingkan dengan saham MYOR alias PT Mayora Indah Tbk. Meskipun berada di sektor yang sama, yakni Consumer Goods, dan punya ROE (Return on Equity/laba bersih atas modal) tahunan sebesar 20%, profit margin yang dicetak MYOR lebih kecil dari ICBP. 

Pada 2018, misalnya, profit margin MYOR sebesar 7% saja, beda dengan ICBP yang membukukan keuntungan bersih sebesar 11%.

Atas dasar itulah, saham ICBP dinilai lebih menarik dikoleksi. Dengan profit margin yang besar, perusahaan bisa berkembang lebih cepat dan mampu bertahan pada situasi sulit. Makanya, jangan heran, investor nilai, seperti Warren Buffett, sering memerhatikan profit margin dalam menyeleksi saham.

Sebab, investor legendari asal Omaha itu tahu bahwa besaran profit margin memberi "ruang" bagi perusahaan untuk bertumbuh. Kalau mencetak untung besar, perusahaan bisa memanfaatkan keuntungan tadi untuk menambah modal kerjanya sehingga keuntungan yang diperoleh sebelumnya diputar untuk menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar.

Makanya, dalam memilih saham, investor juga mesti mencermati profit margin yang dihasilkan perusahaan. Sebab, besaran profit margin biasanya berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Ibarat mesin pencetak uang, semakin besar profit marginnya, semakin cepat pula pertumbuhannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2