Adica Wirawan
Adica Wirawan karyawan swasta

Founder of Gerairasa Mempunyai passion yang kuat sebagai seorang pelajar, pengajar, penulis, penyunting, dan praktisi yang terus mengembangkan wawasannya dalam bidang pendidikan, bahasa, kreativitas, grafologi, numerologi, hipnosis, kecerdasan emosi, yoga, bisnis ritel, keorganisasian nonprofit, dan spiritual. Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Menakar "Jurus Averaging Down" dalam Membeli Saham

8 Januari 2019   10:09 Diperbarui: 9 Januari 2019   19:08 2092 5 0
Menakar "Jurus Averaging Down" dalam Membeli Saham
sumber foto: barclays.co.uk

Sewaktu harga saham Apple tergerus beberapa pekan lalu, alih-alih cemas, Warren Buffett justru merasa senang. Pasalnya, "investor legendaris" dari Omaha tersebut bisa membeli lebih banyak saham Apple dengan harga murah. Sebelumnya, Buffett memang telah memiliki 252 juta lembar saham Apple pada tahun 2018, dan kalau jadi mengoleksi saham Apple lagi, total sahamnya tentu akan bertambah melampaui angka 5% dari miliknya sekarang.

Strategi yang dilakukan Buffett disebut sebagai averaging down. Strategi ini biasanya dilakukan manakala saham yang sudah kita beli ternyata malah anjlok. Agar nilainya kembali lebih cepat, kita membeli lebih banyak saham tersebut dengan harga lebih rendah. Nanti nilai rata-rata pembeliannya akan mendekati harga terkini, dan begitu harganya "pulih", kita akan lebih singkat memetik keuntungan.

Biarpun bisa "memangkas" jarak harga, strategi averaging down tidak bisa diterapkan pada sembarang saham. Strategi ini hanya boleh dipakai untuk saham-saham tertentu yang "menjanjikan" rebound begitu harganya jatuh. Saya ingat pernah menggunakan strategi ini manakala saham perusahaan elektronik yang saya miliki nilainya jatuh dalam beberapa hari.

Alih-alih menjadi panik dan segera melepas saham tersebut, saya justru melihat penurunan harga itu sebagai sebuah peluang untuk membeli lebih banyak saham tersebut.

Saya merasa yakin bahwa setelah jatuh sekian persen, harganya akan "mantul" lebih tinggi daripada sebelumnya. Makanya, begitu harganya rontok sekitar 4% dari harga beli sebelumnya, tanpa ragu, saya langsung menyambar beberapa lot lagi untuk menambah pemilikan saham saya.

Keyakinan itu muncul bukan tanpa dasar. Sebab, saya mengetahui dari laporan keuangannya bahwa saham perusahaan itu punya fundamental yang kuat. Laba per saham alias earning per share-nya terus bertumbuh dalam empat tahun terakhir. Laba perusahaan di laporan keuangan kuartal III tahun 2018 juga menunjukkan peningkatan 14,75% dari periode sebelumnya.

Belum lagi, manajemen perusahaan tersebut berencana melakukan ekspansi bisnis, mengoptimalkan gedung baru, dan menggelontorkan lebih banyak modal kerja. Bisa diperkirakan kalau labanya akan terus bertumbuh sepanjang tahun ini.

Jadi, kalau semua data itu menunjukkan bahwa bisnis perusahaan sedang cerah, mengapa saya mesti takut menggenggam sahamnya lebih lama hanya karena sentimen negatif yang sifatnya sementara? Atas dasar itulah kemudian saya mantap menambah saham tersebut, dan kini, saat tulisan ini dibuat, harganya sedang berbalik naik.

Strategi averaging down umumnya cocok diterapkan pada saham-saham bluechip. Sebab, selain punya fundamental yang bagus, saham tersebut juga biasanya mampu bangkit lebih cepat setelah harganya jatuh.

Saham INDF (PT Indofood Sukses Makmur Tbk) bisa menjadi contoh. Sepanjang tahun 2018, kinerja saham INDF kurang begitu memuaskan. Di laporan keuangan kuartal I, II, dan III, perusahaan mencatatkan laba yang lebih rendah daripada periode sebelumnya. Makanya, jangan heran, harganya pun luruh perlahan sejak tanggal 8 Januari hingga 11 November 2018.

pergerakan saham indf yang berbalik naik setelah sempat luruh sepanjang 2018 (sumber: dokumentasi adica)
pergerakan saham indf yang berbalik naik setelah sempat luruh sepanjang 2018 (sumber: dokumentasi adica)
Namun, tren negatif itu ternyata tidak berlangsung lama. Sebab, sejak tanggal 12 November 2018, INDF menemukan titik balik. Pada periode itu, ada begitu banyak investor yang mulai mengoleksi sahamnya dan harganya terus "menggelembung".

Hal itu boleh disebut sebagai sebuah "anomali". Sebab, kalau kinerja perusahaan kurang "tokcer" begitu, seharusnya investor enggan membelinya. Akan tetapi, yang terjadi di bursa justru sebaliknya. Investor malah beramai-ramai memborong sahamnya.

Alasannya? Mereka terpengaruh oleh sentimen tahun pemilu yang akan berlangsung pada tahun 2019. Wajar, pada tahun pemilu, biasanya konsumsi masyarakat meningkat, dan hal itu diprediksi akan mendongkrak penjualan Indofood. Kalau penjualannya bertambah, harga sahamnya juga ikut-ikutan "terbang". Makanya, daripada telat, buru-buru investor memboyong sahamnya, sebelum harganya melonjak lebih tinggi lagi dalam beberapa bulan ke depan.

Kita bisa menggunakan strategi averaging down pada saham INDF. Biarpun harganya sedang dalam tren negatif, kita dapat mulai mengoleksinya sedikit demi sedikit. Semakin turun harganya, semakin gencar kita membeli sahamnya. Setelah pasar "lelah" menjual sahamnya, harganya akan kembali naik, dan pada saat itulah kita menuai untung.

Catatan lain yang perlu diperhatikan sewaktu kita akan menerapkan strategi averaging down ialah mencermati sektor usaha. Biarpun sama-sama tergolong saham bluechip, tetapi kalau sektor usahanya berbeda, bisa berbeda pula "nasib" sahamnya.

Sebut saja saham-saham di sektor consumer goods. Saham-saham unggulan di sektor ini rata-rata punya prospek yang bagus. Sebab, produk yang dihasilkannya selalu dibutuhkan dan cepat diserap pasar. Hal itu tentu berimbas pada kinerja perusahaan dan stabilistas harga sahamnya di bursa.

Makanya, jangan heran, saham-saham "jagoan" di sektor ini, seperti INDF, ICBP, UNVR, dan KLBE, menjadi langganan para investor. Investor menilai bahwa saham demikian menjanjikan pertumbuhan yang tetap dan kuat. Biarpun harganya jatuh, itu hanya sementara. Dalam waktu singkat, saham yang bersangkutan bisa naik lagi.

Beda kasusnya, kalau kita bicara tentang saham-saham di sektor pertambangan. Saham-saham jenis ini biasanya punya daya tahan yang "rapuh". Pendapatan perusahaan labil dari tahun ke tahun, seiring dengan berubahnya harga komoditas tambang.

Perhatikanlah saham-saham di sektor pertambangan, seperti INDY, BUMI, dan ADRO. Selama lima tahun belakangan grafiknya menyerupai roller coaster, yang naik-turunnya sangat tajam, dan besar kemungkinan lima tahun berikutnya pun akan terus begitu. Saham jenis ini bisa dibilang tidak punya prospek yang jelas pada masa depan.

Jadi, kalau membandingkan sektor usaha, kita tentu memilih saham di sektor consumer goods, yang jelas mempunyai pertumbuhan yang stabil. Strategi averaging down pun bisa diterapkan untuk saham di sektor ini. Sebab, harga sahamnya bisa langsung membaik begitu jatuh dalam waktu dekat. Tidak seperti saham-saham di sektor pertambangan yang belum tentu akan kembali naik, biarpun sekian lama kita terus menunggunya.

Salam.
Adica Wirawan, founder of Gerairasa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2