Irman Triharyanto
Irman Triharyanto profesional

simpel2 aja, gak mau ribet, sedikit romantis dan melankolis. Mencoba menghadirkan nostalgia masa lalu melalui tulisan...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Dia yang Tak Mungkin Kumiliki

12 Juni 2018   14:36 Diperbarui: 12 Juni 2018   14:37 464 2 1

Dan, sepenggal kalimat itu benar -- benar menusuk tepat ke jantungku, membuatnya seperti berhenti berdetak. Jleb!!!

"Kamu tahu mas, aku sempat menunggu kamu dan berharap kamu datang untuk melamarku..."

Aku hanya bisa terdiam tanpa dapat memikirkan kata-kata apa yang harus aku ucapkan sebagai balasannya.

.....

Sepintas aku masih bisa mengenalinya.

Walau sudah lebih dari dua dasawarsa tidak pernah bertemu.

Walau di tengah riuh orang ramai.

Wajahnya  masih cantik. Ayu. Senyumnya.  Tatapannya, ya tatapannya. Itu salah satu yang membuatku tak bisa melupakannya. Teduh dan menenangkan. Begitu menghanyutkan.

Dan semua itu tidak berubah sama sekali. Hanya ada tanda kelelahan yang terlihat di wajahnya, namun tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya.

....

Kuingat hari itu. Hari terakhir ulangan umum SMA. Aku tak sabar menunggunya. Di depan sekolah.

Hari ini aku ada janji makan siang dengannya. Sepulang sekolah. Kebetulan hari itu aku sudah tidak bersekolah lagi. Tinggal menunggu waktu pelaksanaan UMPTN.

Perasaanku campur aduk hari ini. Senang. Tentunya. Akhirnya bisa juga aku mengajak dia pergi denganku walau hanya sekedar makan siang. Dan itupun tidak berdua saja, dia harus mengajak sahabatnya. Itulah dia, masih berpegang teguh pada budaya jawa yang diajarkan orangtuanya. Yang menurut mereka tidak pantas anak gadis pergi berduaan saja dengan anak lelaki yang bukan saudaranya. Aku cukup manut saja, daripada tidak bisa pergi dengannya.

Tak lama dia keluar gerbang sekolah dan kami segera pergi menuju salah satu restoran cepat saji yang cukup populer di Jl. Solo.

Aku berboncengan dengannya, sementara sahabatnya mengikuti dari belakang. Ada perasaan berkecamuk luar biasa dalam dadaku. Yang terutama adalah rasa senang yang luarbiasa.  Waktu itu. 25 tahun lalu.

Aku ingat, tidak banyak hal kami bicarakan saat itu. Mungkin kami sama-sama merasa grogi atau entah mungkin sama-sama malu. Sesekali aku menanyakan hal-hal seputar dirinya hanya untuk memecah kebuntuan. Tetapi dia hanya menjawab seperlunya sambil tersenyum malu. Kemudian diam lagi. Tapi itu tidak masalah, buatku bisa duduk berdua dengannya saja sudah merupakan kebahagiaan besar. Aku bisa menatap wajah yang selama ini hanya bisa kulihat dari lantai 3 di sekolah, dengan puas. Cantik sekali dia, jika dipandang dari jarak yang sangat dekat, dan aku makin mencintainya.

Kuingat juga, saat itu aku sempat menyatakan perasaanku kepadanya. Perasaan yang telah lama kupendam, yang tak bisa aku simpan lagi. Karena waktuku di kota Jogjakarta ini semakin sempit.

Dia hanya tertunduk dan tersenyum ketika aku menyatakan itu. Entah apa arti senyuman itu. Kulihat dia seperti bingung hendak berkata apa. Hanya tertunduk. Tapi aku tahu, bahwa sebenarnya dia juga punya perasaan yang sama denganku, hanya karena statusnya yang sudah punya kekasih yang mungkin membuatnya bingung untuk membalas pernyataanku. Aku bisa tahu dari tatapan dan senyumnya setiap kami tak sengaja berpapasan. Dan juga tentunya aku mencari info dari sahabatnya.

Aku tidak memaksanya untuk menjawab saat itu. Aku hanya bilang, "yang penting aku sudah menyatakan perasaanku padamu, terserah bagaimana kamu menyikapinya. Karena aku tahu saat ini kamu sudah ada kekasih". Dia terlihat lega dengan kata-kataku, karena tidak mampu menjawabnya saat itu. Dia tersenyum malu-malu sambil menatapku, tatapan penuh arti seakan berkata "aku juga punya perasaan yang sama denganmu, mas". Itulah salah satu momen terindahku dengannya.

.......

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2