Mohon tunggu...
Ade Fathurahman
Ade Fathurahman Mohon Tunggu... Guru - Geography Teacher of SMANSA Sukabumi

Geography Teacher of SMANSA Sukabumi

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Ketika Harus Menulis, Maka Ingat "Raraban", Sebuah Pembekalan dari Guru Semasa SD

13 November 2022   07:09 Diperbarui: 13 November 2022   08:03 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Generasi yang mengalami masa-masa sekolah dasar di Indonesia akhir 70-an sampai dengan awal 80-an adalah generasi yang hadir pada beberapa kali perubahan kurikulum. Generasi yang secara subjektif pribadi saya sebagai genenasi yang paling beruntung.

Bagaimana tidak, generasi saya itulah yang mengalami mandi di sungai hingga mandi di kolam renang hotel seperti yang dirasakan generasi sekarang.

Generasi yang mengalami pembelajaran mengetik masa keemasan mesin tik brother dan yang sezamannya, mengalami mesin tik elektronik merek IBM, mengalami masa-masa mulai dikenal computer "jngkrik" Pentium 186 berbasics DOS dengan aplikasi wordstar, Lotus 123 dan Chi Writer, hingga munculnya Windows 3.11 yang memperkenalkan berbagai aplikasi MS seperti word, exell, power point dll, bahkan sampai pada generasiAndroid sekarang. Generasi yang mengalami perubahan-perubahan aplikasi sosial media dari mulai Yahoo email Group, Friendster, Facebook, Twitter, Path, Slide share, LinkedIn, hingga Youtube dan Instagram, Reel serta Tiktok saat ini. 

Sebetulnya, bukan bidang pragmatis yang seperti itu yang akan saya sampaikan di tulisan ini, melainkan berkah mendapatkan pengajaran dari guru-guru SD, SMP dan SMA masa lalu yang memberikan suasana belajar yang memang tepat dilakukan pada masanya. Sebagai contoh kasus adalah pembelajaran SD masa itu yang menekankan pada penguasaan calistung.

Mungkin saja pada waktu itu pembelajaran calistung yang diberikan pada generasi saya belum memberikan insight untuk dimanfaatkan sebagai salah satu yang membekali cara berpikir yang kontekstual. Terbukti juga, gaya hapalan seperti raraban pada masa SD dulu hanya berfungsi sebagai jalan mendapatkan nilai, menghitung uang jajan dan tabungan serta membantu dalam permainan masa kanak-kanak seperti halnya permainan kelereng, monopoli, lempar gambar dan yang sejenis.

Ada beberapa ajaran Beliau-beliau (guru-guru kami) dalam bidang berhitung semacam raraban (perpangkatan), serta penjumlahan, pengurangan, perkalian serta pembagian pecahan yang pada saat menjadi guru sering dijadikan bahan mempercepat dan meyederhanakan pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal-soal pada MP Geografi yang saya ampu yang memerlukan penggunaan kompetensi matematika dasar.

Sebagai contoh, selain diperkenalkan perpangkatan yang sampai kelas 6 SD yang mencapai pangkat 25, generasi saya ini, walau di Jurusan Sosial, tapi masih mendapatkan bekal Pembelajaran Bahasa Indonesia yang saya pandang cukup, baik hal mendasar pada Tata Bahasa, maupun pengenalan Kesusastraan Indonesia.

Matematika yang melatih kita berpikir logis serta bahasa yang menuntun kita mengkomunikasikan hasil berpikir logis itulah yang memang ditekankan pada generasi kami saat di SD dahulu yang telah menjadi Insight bagi saya khususnya untuk menstimulan siswa untuk mencintai dan merasa berkebutuhan lebih untuk memahaminya.

Tidak terlalu menyulitkan untuk siswa-siswi dari kelompok kompetensi akademis level menengah seperti saya sekalipun untuk memiliki keingin-tahuan dan kepenasaranan atas permasalahan yang berbau matematis.

Dari pemebelajaran calistung, khususnya perpangkatan itulah saya suak bermain-main dengan siswa pada saat prolog dalam pemebelajaran. Dua hal yang sering saya gunakan diantaranya mengenal akar dari bilangan asli yang bernilai pecahan di bawah 2,5, karena saya waktu SD hanya menghapal sampai 25 kuadrat. Alasan ini dilakukan sebagai stimulan agar mereka yang memiliki kompetensi berpikir logis menularkannya pada yang lain, mengingat banyak siswa Kelas 12 IPS yang terlanjur tak suka dengan Matematika, padahal ada beberapa sub pokok bahasan yang bernuansa matematika dasar. Di Sub-Materi Interaksi desa Kota misalnya digunakan dalam Perhitungan Teori Titik Henti Antar Wilayah.

Sederhananya, ketika saya melatih pencarian cepat akar 2, 3, 5, dan 6, maka saya biasa membuat garis bilangan dari 0 s.d. 6 sebagai pembantu serta secara bersama-sama melakukan raraban dari 112 hingga 24. Dan selanjutnya saya akan mebuat sebagian besar dari mereka (kelompok akademis atas dan tengah) mengucapkan "Oh, iya ya." Tentu saja ini hanya bisa dilakukan tanpa kalkulator dengan angka pembulatan 1 atau 2 desimal, sehingga mendapatkan hasil dari akar tadi secara berurutan   ~1,4, ~1,7, ~2,2, ~2,4 atau 2,45

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun