Mohon tunggu...
Achmad Siddik Thoha
Achmad Siddik Thoha Mohon Tunggu... Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Penelusur dan Peneliti Kebakaran Hutan dan Lahan, Pengelola Komunitas Pohon Inspirasi, Perawat Komunitas Kongkrit, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan dan Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD. Follow @achmadsiddik

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Story Telling: Sebuah Keterampilan Penting bagi Relawan Lingkungan dan Kemanusiaan

8 Maret 2016   10:36 Diperbarui: 8 Maret 2016   13:56 0 6 1 Mohon Tunggu...

[caption caption="Harry Surjadi, memberikan pelatihan kepada para jurnalis di Riau dalam acara Pelatihan Media Massa REDD+Academy (dok. UNORCID 7/3/2016)"][/caption]

Kemarin, Senin (7/3/2016), saya mengisi sebuah training Media Massa REDD+ Academy 7 Maret 2016 dengan tajuk Meliput Perubahan Iklim, Melaporkan Gambut, Kebakaran dan Kabut Asap di Pekanbaru Riau. Acara ini diselenggarakan oleh UNORCD (United Nation Office for REDD+ Coordination in Indonesia), sebuah lembaga PBB bidang lingkungan hidup untuk isu penurunan emisi dari  deforetasi dan degradasi hutan.

Peserta training adalah para jurnalis di Provinsi Riau baik dari kalangan media cetak, radio, televise dan media online. Ini sebuah kesempatan berharga karena saya bisa memberikan wawasan penting tentang hutan, perubahan iklim serta kebakaran hutan dan lahan kepada para jurnalis. Saya berbagi pengetahuan dan sumber informasi penting kepada para jurnalis Riau tentang perubahan ilklim dan kebakaran hutan agar bisa menambah bobot dalam membuat produk jurnalistik bagi mereka. Disamping itu saya juga menyerap pengalaman dari jurnalis senior bertaraf Internasional bernama Harry Surjadi.

Harry Surjadi, mantan wartawan Kompas, yang saat ini mewakili Knight International Journalism Fellow Media berbagi pengalamannya bagaimana beliau eksis menjadi jurnalis lingkungan. Selama ini, banyak anggapan menjadi pewarta lingkungan tidak laku dan produk tulisannya jarang dibaca orang. Dengan kemampuannya yang sangat memadai dalam wawasan lingkungan hidup, observasi lapangan dan bahasa Inggris, tulisan Mas Harry, begitu beliau dipanggil, tulisannya dimuat diberbagai media Internasional.

 Beberapa media Internasional tersebut bahkan memberikan rewards yang sangat besar untuk sebuah tulisan yang singkat. Walhasil, bukan hanya eksis dari sisi kiprah saja, Mas Harry juga menikmati keuntungan material yang selama ini banyak “dikhawatirkan” oleh para jurnalis khususnya di bidang lingkungan. Prestasi mengesankan Mas Harry adalah saat meliput sebuah rencana pembangunan infrastruktur yang bisa mengancam lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitarnya. Melalui liputan tersebut masyarakat lalu tergerak melakukan protes keras sampai akhirnya pembangunan infrastruktur tersebut dibatalkan.

Ada pesan yang sangat penting bagi saya yang juga hobi menulis khususnya terkait dengan isu lingkungan dan kemanusiaan. Mas Harry berpesan pada para jurnalis yang hadir dalam pelatihan tersebut :

“Liputan gak sesederhana 5W1H. Harus bercerita dan menyentuh pembaca. Itulah perlunya story telling dalam liputan agar tulisan menggugah. Ada pesan moral yang harus disampaikan pada pembaca” Kata Mas Harry

“Wartawan jangan hanya mengandalkan wawancara dan data yang diberikan pejabat. Wartawan harus turun ke lapangan, banyak diskusi dengan pakar dan memiliki keterampilan observasi yang kuat. Kalau ada pernyataan pejabat jangan langsung percaya, harus punya rasa ingin tahu yang tinggi.” Lanjut Mas Harry.

“Kalau Anda pergi ke hutan, siapa yang akan Anda wawancara? Di hutan adanya pohon dan monyet. Lalu apakah Anda tidak bisa membuat liputan karena tidak ada yang bisa diwawancara? Tidak. Anda lakukan observasi dengan teliti. Rasakan apa yang terjadi di tempat Anda berada. Wartawan itu, mata dan telinganya membaca.”

Begitu beberapa pesan penting yang saya tangkap dan begitu melekat sampai hari ini (8/3/2016). Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan Mas Harry. Saya setuju dengan story telling sebagai cara untuk membuat sebuah tulisan menggugah. Meskipun saya bukan wartawan, saya sudah mengalami dan merasalan bahwa gaya story telling dalam membuat tulisan atau liputan atau opini tentang lingkungan dan kemanusiaan bisa membawa hasil yang bermanfaat. Beberapa liputan saya khususnya di peristiwa kemanusiaan mampu menggerakkan orang untuk bergerak terlibat membantu warga atau lingkungan yang ada dalam peritiwa tersebut.

Hasil liputan lingkungan dan kemanusiaan yang ditayangkan di Kompasiana biasanya memakai kutipan-kutipan yang sangat inspiratif atau mengesankan yang menjadi salah satu ciri khas tulisan saya. Dalam setiap kunjungan saya ke lokasi bencana atau lingkungan yang rusak, saya selalu mencari momen-momen yang menjadi kata kunci yang bisa saya jadikan penggugah buat pembaca. Disamping itu saya juga mencoba sekeras mungkin memberikan data yang akurat sehingga tulisan saya bisa dipertanggugjawabkan. Alhamdulillah, jejak pendidikan saya di bidang kehutanan dan manajemen bencana bisa membantu memberi bobot lain dalam membuat liputan yang biasanya saya posting di Kompasiana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x