Humaniora Artikel Utama

Menjaga Budaya Kepustakaan

17 Juli 2017   13:54 Diperbarui: 18 Juli 2017   04:42 700 6 0
Menjaga Budaya Kepustakaan
Ilustrasi (Sumber: architecturendesign.net)

Dalam sejarah perkembangan Ilmu pengetahuan kita bisa melihat masa awal mula ilmu pengetahuan itu dianggap berharga, yakni pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Setidaknya pada masa abbasiyah ada tiga khalifah yang sangat concern terhadap pengetahuan yakni khalifah  al-mansyur, harun ar-rasyid dan al-makmun. Mereka sangat gencar menerjemahkan banyak sekali buku-buku pengetahuan baik dalam bidang kedoketaran, antropologi, astronomi dari seantero dunia seperti cina, Persia, mesir, yunani, dsb.

Pada masa perkembangan ilmu pongetahuan inilah disebut juga zamaan keemasan islam (Islamic Golden Age), karena abbasiyah yang waktu itu beribukota di Bagdad (Irak) menjadikan ibukotanya sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dunia. Kemudian karena semakin banyaknya buku-buku yang terkumpul maka digagas sebuah Perpustakaan besar yang bernama Darul Hikmah (House of Wisdom). Tujuan dari didirikanya Darul Hikmah itu sendiri adalah untuk mengumpulkan dan melestarikan buku. Selain sebagai Perpustakaan, darul hikmah juga sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan seperti univeristas pada saat ini. Terbutki pada masa ini lahir banyak sekali serjana atau ilmuan seperti Al-farabi, Ibn Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibn Sina dan masih banyak lagi ilmuan muslim lainya yang membidangi ilmu pengetahuan tertentu.

Darul hikmah adalah sebuah contoh kongkrit bahwa pengetahuan haruslah dicollectdan dilestarikan, agar bisa dimanfaatkan demi kebutuhan informasi individu. Berangkat dari sini, maka manusia dewasa ini telah belajar akan pentingnya sebuah media penyimpanan (storage) untuk keperluan ilmu pengetahuan manusia. 

Dalam istilah teknologi informasi seperti saat ini kita mengenalnya server. Server ini tak ubahnya sebuah Perpustakaan, di dalamnya terdapat berbagai informasi-informasi yang meliputi berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti perbankan, ekonomi, kedokteran, pendidikan, dsb. Salah satu contoh yang paling familiar untuk menjelaskan server ini adalah eksistensi e-journal.Ada ratusan perusahaan informasi yang menyediakan jurnal elektronik, salah satunya adalah EBSCO. 

Sebuah perusaahan informasi seperti EBSCO tentu menyediakan space yang besar untuk kebutuhan penyimpanan jurnal-jurnal yang mereka kumpulkan dari seluruh dunia dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Tak kurang 81.000 penerbit di seluruh dunia dijadikan mitra informasi oleh EBSCO dan hampir universitas-universitas diseluruh dunia melanggan jurnal elektronik yang ditwarakan oleh EBSCO. Dari sini kita belajar akan pentinga sebuah informasi, sebagian kaum akademisi menganggap informasi sudah menjadi sebuah komoditi dalam dunia pendidikan.

Sumber: www.republika.co.id
Sumber: www.republika.co.id

Seorang akademisi seperti mahasiswa sangat membutuhkan informasi dalam setiap studi mereka, terlebih ketika akan melakukan riset untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Mereka akan mencari sedetail mungkin terkait informasi dari bidang pengetahuan yang mereka akan teliti. Dan jalan satu-satunya bagi mereka melakukan riset adalah pergi ke Perpustakaan untuk mencari sumber informasi yang valid,  bisa berupa buku maupun jurnal. Disini adalah tugas Perpustakaan, perpustakaan dalam hal ini harus membuat startegi kerja agar bagaimana informasi yang mereka punya dapat dan mudah ditemukan oleh pemustaka yang membutuhkan.

Karena Perpustakaan bukan Cuma sebuah ruang penyimpanan (gudang), namun lebih jauh perpustakaan adalah unit penyedia informasi, informasi bukan untuk disimpan dan diarsipkan namun didesiminasikan. Untuk itu Perpustakaan harus seoptimal mungkin membuat suatu trobosan terbaru supaya informasi yang dihimpun dapat diakses oleh pemustaka seoptimal mungkin. Salah satu cara untuk membuka pintu Perpustakaan lebar-lebar adalah upaya Perpustakaan masuk ke ranah digital seperti EBSCO di atas.

Setidaknya ada beberapa tahapan dalam dunia Perpustakaan, dalam upayanya merangsak masuk ke dalam era digital. Awal mula inovasi Perpustakaan mengembangkan karya digitalnya yaitu dengan pengembangan Automasi Perpustakaan. Mula-mula yang dibuat adalah Otomasi Katalog, yang dimaksudkan untuk menghimpun dan menyajikan data buku dalam satu perangkat local computer  agar memudahkan para pemustaka dalam menelusur letak dan konten sebuah buku dalam sebuah perpustakaan. Ada beberapa nama-nama aplikasi catalog online seperti athenaeum, green stone, dsb semua aplikasi otamasi Perpustakaan tersebut berbasis pada microsft access.

Aplikasi tersebut menyajikan data catalog secara computerized, tidak lagi dalam bentuk kartu catalog yang ditempatkan pada laci-laci dalam lemari catalog. Karena keniscayaan zaman maka lama-kelamaan aplikasi yang otomasi ini tergerus zaman dengan lahir dan maraknya pengguna internet. Internet atau sebuah jaringan dunia ini begitu mewabah pada awal tahun melinum. Semua unit pekerjaaan di dunia berlomba-lomba menuju ke arah online, setiap orang diharuskan memiliki e-mail dalam setiap akses internet. Pengguna lebih suka berselancar dari computer untuk mengelilingi dunia. Penggunaan pesan singkat dan social media marak dikembangan pada abad ini, maka dari itu kita sekarang mengenal dunia maya.

Menjadi sebuah keniscayaan, Perpustakaan dalam hal ini mau tidak mau harus berubah atau akan ditinggalkan dan mati. Maka untuk menjawab tantangan zaman seperti ini, pada waktu itu para akademisi ilmu Perpustakaan yang bersinergi dengan para ahli IT mengembangkan sebuah aplikasi Perpustakaan yang berbasis pada PHP dan MySQL yang dapat dipasang secara online pada hosting dan dapat diakses oleh pengguna internet di seluruh dunia. Hal ini sekali lagi adalah upaya Perpustakaan dalam mengikuti dan mensejajarkan dengan arus zaman. Alhasil, dewasa ini banyak di internet aplikasi pengelolaan Perpustakaan dapat dunduh baik yang berbayar (fee-based) maupun yang Cuma-Cuma (Free-based).

Salah satu aplikasi Perpustakaan yang berbasis freeadalah SLIMs (Senayan Library Management System)yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI .Aplikasi ini mengubah Perpustakaan menjadi begitu mudah untuk pengelolaan data dan admintrasi perpustakaan lainnya. Selain bisa dipasang secara online,  SLIMs ini juga dapat menampung buku digital yang berformat pdf (portable document format),dan bahan audio-visual. Dari sini kita melihat Perpustakaan dewasa ini sudah seyogyanya menerapkan aplikasi/program Perpustakaan yang mempuni untuk media desiminasi Perpustakaan. Dengan menerapkan aplikasi online seperti SLIMs ini sama artinya Perpustakaan membangun server seperti EBSCO. Karena melalui aplikasi online seperti SLIMs, perpustaakaan bisa memperkaya sumber-sumber Perpustakaan bukan hanya berbasis buku-buku cetak, namun juga dapat mengunggah dan mentautkan kepada sumber-sumber informasi ilmu pengetahuan digital baik buku maupun jurnal atau bahkan hasil penelitian terbaru.

Kini setiap instansi pemerintah sudah barang tentu wajib memiliki Perpustakaan seperti yang dicantumkan dalam Undang-undang No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Embrio awal telah tercetus, pemerintah menyadari akan pentingnya Perpustakaan sebagai pusat informasi di setiap lembaga. Namun jangan sampai embrio awal dari semangat literasi ini kehilangan ruh dan mati karena Perpustakaan sendiri tidak mau berubah dan masih senang dengan rutinitas admintrasi yang monoton di Perpustakaan.

Adanya pengembangan aplikasi oleh para akademisi Perpustakaan harus kita apresiasi, dengan cara menerapkan aplikasi tersebut di setiap Perpustakaan yang dikelola baik instansi pemerintah maupun instansi pendidikan. Terlebih di instansi pendidikan seperti sekolah akan sangat mendukung kiranya  jika Perpustakaan menerapkan aplikasi berbasis web online seperti SLIMs di atas. Sudah seharusnya Perpustakaan menghilangkan citra Perpustakaan yang dianggap sebagai gudang buku. Perpustakaan harus berbenah diri untuk menghadapi tantangan zaman yang setiak hari, menit dan detik berubah.

Kedepannya dan sekarang sudah mulai masuk adalah era dimana setiap orang memiliki telepon pintar (smartphone).Perpustakaan telah melalui era keemasan seperti darul hikmah, kemudian masuk ke era otomasi computer, kemudian masuk ke ranah online yang serba digital, Perpustakaan dalam hal ini sudah mengantisipasinya dalam lingkup perkembangan zaman. Sekarang era smartphonedimana setiap manusia bahkan yang masih balitapun disajikan dengan conten digital di dalam smartphone. Manusia dewasa ini tidak lagi menghibur diri dengan main petak umpet, main kelereng, atau permainan tradisonal lain.

Bahkan nonton TV pun sudah tidak digandrungi lagi, TV hanya media desiminasi yang digandrungi awal tahun 90'an. Era smartphone berbeda dari yang lain, era ini menawarkan kecepatan informasi diamana saja tidak hanya terpaku pada tempat dan media seperti computer yang mengahruskan kita duduk terpaku memandang. Para penikmat smartphone lebih mobile tidak terpaut pada tempat. Sering kita lihat manusia saat ini bisa menikmati smartphone mereka sambil tiduran, berenang, dsb inilah tadi yang disebut generasi mobile. Dari anak balita sampai yang tua tidak lepas tangan dan pandangan mereka dr smartphone untuk mengakses berbagai situs di internet maupun bermain game.

Dengan ini Perpustakaan menghadapi tantangan baru dinamika transfer informasi global. Perpustaakaan terlebih akademisi Perpustakaan harus lebih inovatif dalam menemukan ide baru untuk dikembangkan agar sumber-sumber yang ada di Perpustakaan dapat sampai ke smartphone mereka. Untuk itu, sumber yang dimiliki Perpustakaan harus yang unik dan menarik, memberikan sajian yang menarik dan dapat diakses secara mudah melalui smartphone. 

Perpustakaan dapat belajar dari Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Bagaimana facebook menggalang ratusan juta manusia untuk membuat akun dan mengaksesnya. Dengan cara salah satunya adalah membuat aplikasi yang berbasis smartphone. Pun begitu seharusnya Perpustakaan, sajikan Perpustakaan dalam smartphone mereka. Memang tidak mudah namun bisa diwujudkan jika para akademisi Perpustakaan selalu bersinergi dengan zaman. Pokok kuncinya adalah jangan sampai Perpustakaan menjadi unit informasi yang ketinggalan zaman lalu mati.

Darul hikmah pernah jaya dan menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia pada masa abbasiyah, kesitulah para ilmuan dunia berkiblat. Dari situlah tumbuh berbagai kajian (studi), penelitian, yang kemudian melahirkan pakar ilmu pengetahuan dari berbagai bidang. Belajar dari darul hikmah yang mengumpulkan jutaan buku pengetahuan dari berbagai bahasa lalu diterjemahkan agar dapat diakses dan dimengerti oleh penggunanya.  Begitupun dengan Perpustakaan sekarang ini harus pandai membuat inovasi agar sumber informasi yang ada di Perpustakaan dapat sampai kepada pengguna. Maka dari itu Perpustakaan saat ini mempunyai beban berat untuk menghidupakan kembali budaya literasi. Dari ruh darul hikmah, Perpustakaan belajar bagaimana menjadi Perpustakaan yang well-educated dan well-informeduntuk diterapkan di ranah global saat ini. []

-Abidin Khusaeni