Abdullah Puja
Abdullah Puja

Wong Ndeso...\r\nTuhan itu ada dan terasa serta logis..

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Percayakah Kita Akan Adanya Tuhan?

14 Februari 2018   09:58 Diperbarui: 14 Februari 2018   10:13 97 1 1

Yaa, PERCAYAKAH KITA ADANYA TUHAN  ?

Bagaimanapun juga kita diwajibkan untuk mempercayai TUHAN YANG MAHA ESA itu ada...

Tapi pada kenyataannya ketika ditanya dimana TUHAN  ?, Banyak yang menjawab dengan keragu-raguan, atau menunjuk ke atas, di dalam dada, di Masjid, di langit, atau dijawab tidak tahu tapi tetap harus meyakini NYA...

Artinya seolah  menggambarkan ketidak tahuan keberadaan DIRINYA...

Setiap hari menyebut dan memanggil NAMA NYA, melalui Shalat, mengaji, bertasbih, dll

Tapi ketika ditanya adakah perasaan khawatir, takut, sedih, dendam, su'udzon, dll, dalam hati dan akal pikir nya ?

Ternyata masih banyak yang menyimpan rasa tersebut...


Sering disarankan untuk takutlah pada TUHAN...

Tapi pada kenyataanya manusia lebih merasa takut kepada sesama manusia, hidup miskin, kematian dengan cara tragis, berbagai jenis Hantu...dll.


Padahal TUHAN berkata melalui Firman NYA  :

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati."

(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 13)

Dan Allah SWT berfirman:

"Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 35)

Apakah belum ada perbaikan pada mereka  ?

Dalam hati dan akal pikir ada rasa itu sangat Manusiawi...

Kalau Manusiawi, mengapa ada Manusia yang bisa mengatasi hal itu ?

Berarti yang bisa mengatasi hal itu bukan Manusia ?

Kalau seandainya tidak ada yang bisa mengatasi hal itu, baru itu namanya manusiawi, karena wajar Manusia mempunyai kelemahan, akan tetapi bila ada yang mampu, berarti semua juga harus mampu, karena ini kehendak TUHAN YANG MAHA ESA, seperti didalam Firman NYA.

Tapi ketika ditanyakan apakah Nabi Muhammad SAW adalah seorang lelaki ?

Pasti dijawab dengan penuh keyakinan iya betul lelaki...

Padahal bertemupun tidak, melihatpun tidak, mengenal pun tidak.

TUHAN YME dan Nabi Muhammad SAW, sama-sama  dikenal melalui riwayat-riwayatnya yang tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur'an, namun mengapa ketika ditanya tentang adanya TUHAN dijawab tidak seyakin ketika ditanya soal Nabi Muhammad SAW  ?

Padahal keberadaan TUHAN YANG MAHA ESA itu lebih nyata dari dulu hingga sekarang, dari pada Nabi Muhammad SAW, yang justru pada jaman kini Beliau sudah lama sekali tidak ada, hanya melalui ajaranya saja seolah kita yakin mengetahuinya.

Inilah sebetulnya yang harus menjadi tugas para Ulama, Kiyai, Ustad, atau para tokoh agama untuk menjelaskan kepada para kaumnya, pengikutnya, murid-muridnya, agar TUHAN YME itu betul-betul terasakan, dan umatnya dapat merasakan hidup bersama TUHAN YME.

Atau para tokoh dan panutan itu sendirinya juga belum meyakini secara ABSOLUT, dan merasakan kebersamaan hidupnya dengan TUHAN DZAT PENGUASA ALAM  ?

Jaman sekarang adalah jaman yang sudah canggih, akal pikir manusia sudah sangat pintar, sehingga banyak orang-orang yang kritis dalam menanggapi sesuatu hal, namun jangan sampai terpedaya oleh akal pikir nya yang sudah canggih, sehingga akan menutupi QOLBUNYA untuk mengerti TUHAN YME.

Sepantasnya ceramah-ceramah atau petuah-petuah yang disampaikan seharusnya bermateri yang dapat dirasakan kenyataannya serta dapat dicerna dengan akal sehat atau masuk akal, agar umatnyapun dapat merasakan kenyataannya, sehingga dapat meyakini dengan ABSOLUT keberadaan NYA.

Cerita-cerita tentang Syurga dan Neraka yang dikarang, bukan yang tertulis dalam Kitab Suci Al-Qur'an dan Hadits-hadits banyak tersebar, melalui postingan, ceramah langsung, seolah menjadi pembodohan Umat, dengan maksud memberikan daya tarik untuk masuk Syurga, dan menakut-nakuti dengan Neraka, semisal cerita di neraka atau syurga, hingga detail dapat diceritakan sampai dengan obrolan-obrolan antara manusia yang berdosa karena melakukan sesuatu hal, dengan para Malaikat atau Iblis penunggu Neraka seolah kejadian itu nyata, padahal siapa orangnya yang sudah mengalami kematian, hingga mampu bercerita detail seperti itu  ? Apa masuk akal ?

Demikian juga dengan pahala-pahala yang dijanjikan, semisal membaca ayat anu akan mendapatkan pahala sekian kali, melakukan anu dapat pahala dikali sekian anu, namun sejatinya pahala bila kita bisa menghitungnya berarti pahala itu akan hilang dengan sendirinya, karena setiap pahala yang akan diberikan TUHAN YME pada kita untuk mendapatkannya harus dengan penuh keikhlasan, artinya kalau ada hitungan seperti itu tidak ada keikhlasan tapi yang ada hanya pamrih.

Jadikanlah RUKUN IMAN yang pertama, yaitu Percaya Adanya TUHAN YME terlebih dahulu diutamakan, jangan RUKUN ISLAM yang diutamakan yang akibatnya MEMPERCAYAI AGAMA namun seolah TIDAK MEMPERCAYAI TUHAN YANG MAHA ESA.

Wallahu A'lam bish shawabi ...

PANGAPUNTEN SEDULUR ...

Abd.Pj.2018.