Mohon tunggu...
Abdul Rojak
Abdul Rojak Mohon Tunggu... Membaca adalah hiburan, menulis adalah pelepasan ide dan gagasan

ABDUL ROJAK, tinggal di Depok, Jawa Barat, Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Mirah, Perempuan Jawara dari Betawi

31 Mei 2012   08:55 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:34 8575 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mirah, Perempuan Jawara dari Betawi
13384544532101438449

Untuk mendapatkan jodoh yang cocok dan berkualitas sesuai dengan keinginan memang susah, namun bila diniatkan, dicita-citakan dan diusahakan dengan baik maka tak ada yang tak mungkin.

Menurut cerita rakyat betawi, Mirah bukanlah tokoh dongeng tapi benar-benar ada dan pernah hidup. Mirah adalah salah satu perempuan jawara yang cukup dikenal, dan diberi gelar Singa Betina dari Marunda berkat keberanian dan kelihaiannya dalam ilmu beladiri silat. Mirah, dalam terminologi gender, bukan seorang tokoh emansipasi namun seorang pejuang dalam arti sebenarnya.

Mirah adalah gadis betawi asli kampung Marunda, Bapaknya seorang jawara sakti dan terkenal. Sebagai anak jawara Mirah pun diajari oleh bapaknya ilmu beladiri, hingga Mirah selain cantik juga memiliki kemampuan beladiri yang tinggi.

Disetiap latihan-latihan beladiri yang diadakan bapak dan anak buahnya, Mirah selalu ikut dan menjadi lawan tanding yang sulit untuk ditaklukan. Bahkan setiap kali Bang Bodong, bapaknya sedang bertugas menjaga keamanan di wilayah kampung marunda, Mirah selalu ikut dan tak jarang turun langsung berkelahi melawan perampok dan pengacau di wilayah Marunda. Semua penjahat selalu bisa dibekuk dan ditaklukannya.

Namun belakangan Bang Bodong mulai merasa khawatir karena anak gadisnya, yang sudah dewasa belum juga mendapatkan jodoh. Sulitnya Mirah mendapatkan pasangan karena anak perempuannya itu pernah berjanji, bahwa dia baru bersedia menikah bila ada seorang lelaki yang bisa mengalahkannya dalam ilmu beladiri.

Tak jarang banyak lelaki warga kampung Marunda dan sekitarnya datang bertandang untuk melamar dan tanding ilmu beladiri dengan Mirah. namun sejauh ini belum ada yang berhasil mengalahkannya. Termasuk juga Tirta, jawara kondang dari Karawang. Sudah sekitar 3 kali Tirta jual tanding ama tampang tapi belum juga bisa menaklukannya. Mirah selalu lebih waspada dan tidak ingin kalah langkah dan jurus dengan Tirta. Selain karena dia ingin mencari lawan tanding, dia juga tidak ingin sembarangan memilih suami, apalagi melihat Tirta jawara dari Karawang ini memiliki watak yang jelek dan kasar.

Pada suatu hari, anak buang Bang Bodong lari tergopoh-gopoh menghadapnya. Dan melaporkan bahwa ada anak muda dari kampung lain bikin kekacauan. Secepat kilat bang Bodong dan Mirah turun tangan. Setelah sampai di tempat kejadian perkara, Bang Bodong langsung pasang kuda-kuda dan menghadapi pemuda tersebut. Namun karena ketangkasan dan ilmu bela diri sang pemuda lebih tinggi. Bang Bodong terdesak dan akhirnya kalah.

Melihat bapaknya terhuyung-huyung, Mirah pun terjun ke medan laga menghadapi si pemuda. Pada awalnya si pemuda merasa ragu dan canggung berhadapan dengan perempuan. Namun ketika melihat sepak terjang Mirah yang serius dan membahayakan dirinya, dia pun kemudian menanggapinya juga dengan serius. Mirah pun bernasib sama dengan bapaknya, terdesak dan menyerah kalah.

Namun bang Bodong bukannya marah malah tertawa terbahak-bahak. Mirah dan sang pemuda bingung. Bang Bodong kemudian merangkul anaknya dan menjelaskan pada keduanya bahwa Mirah akhirnya sudah bertemu dengan jodohnya. Karena anaknya pernah punya janji kalau ada lelaki yang bisa mengalahkannya dalam ilmu beladiri, lelaki itu berhak untuk menikahinya. Mendengar penjelasan itu sang pemuda itupun akhirnya tersenyum dan sejak awal dia memang sudah menaruh hati dengan lawan tandingnya. Begitu pun Mirah, keduanya saling bertatapan malu-malu.

Bang Bodong pun kemudian menanyakan pada sang pemuda, apa maksudnya datang ke Marunda. Dijelaskanlah oleh si pemuda bahwa namanya adalah Asni, anak kampung Kemayoran tujuannya ke Marunda mencari seorang perampok yang telah menggasak harta Babah Yong. Namun identitas si perampok belum terungkap. Bang Bodong kemudian menjanjikan pada Asni bahwa dia bersedia membantu mencari si perampok. Lalu menanyakan pada Asni dengan tegas dan serius, apakah dia mau menikah dengan anaknya Mirah. Asni menjawab bersedia, karena memang dari sejak awal sudah jatuh hati dengan Mirah.

Sesuai dengan janjinya, sebelum pernikahan diadakan, bang Bodong dan anak buahnya mulai menelusuri jejak si perampok misterius itu. Akhirnya setelah investigasi yang panjang dan mendalam, diketahuilah bahwa si perampok adalah Tirta, jawara dari kampung Karawang, yang dulu juga pernah melamar Mirah namun selalu gagal.

Untuk memancing Tirta keluar dari kandangnya, Bang Bodong kemudian merencanakan agar perkawinan dan pesta anaknya segera digelar dan undangan disebar ke banyak tempat, termasuk Karawang. Diharapkan ketika Tirta tahu akhirnya dia mau datang ke pesta tersebut, maka dengan mudah dapat diringkus di tempat tanpa susah payah.

Akad nikah pun diadakan dan pesta pun digelar dengan menanggap lenong dan tari-tarian betawi semalam suntuk. Benar saja, umpan yang ditebar akhirnya dimakan, Tirta hadir dikerumunan pesta tersebut.

Namun saat Tirta hadir di pesta tersebut, dia merasa curiga dan melihat gelagat yang aneh. Dia melihat dibarisan tamu undangan ada Babah Yong dan Tuan Ruys kepala keamanan dari pihak kompeni. Melihat keselamatannya terancam, Tirta pun angkat kaki dari pesta Mirah dan mencoba lari.

Dari atas panggung pelaminan Mirah dan Asni melihat Tirta akan kabur, cepat-cepat mereka turun. Dan Bang Bodong beserta anak buahnya pun ikut mengejar Tirta yang akan kabur. Setelah pengejaran yang melelahkan akhirnya Tirta dapat dihadang oleh Mirah dan Asni. Terjadilah baku hantam diantara mereka. Dua lawan satu. Akhirnya Tirta tersudut dan saat sedang lengah dan payah, Tirta pun ditembak di tempat oleh Tuan Ruys dengan pistol. Tirta rubuh dan jatuh menghempas tanah.

Mirah dan Asni melanjutkan pesta penikahannya dan setelah berhasil membekuk Tirta tugas Asni pun selesai dan menyerahkannya pada Tuan Ruys. Pada episode kali ini, akhirnya mereka hidup bahagia. * Penulis adalah Guru Sejarah SMA Avicenna Cinere

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x