Mohon tunggu...
Abang Suher
Abang Suher Mohon Tunggu... Tulis yang kamu kerjakan, kerjakan yang kamu tulis

Tinggal di Parepare, kota Pendidikan di Sulawesi Selatan, Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Catatan Kritis Sinetron "Dari Jendela SMP"

9 Juli 2020   21:45 Diperbarui: 9 Juli 2020   21:50 65 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Catatan Kritis Sinetron "Dari Jendela SMP"
Foto : kolpri

Secara tak sengaja, saya menonton sinetron yang tayang di layar televisi. Awalnya, hanya menemani anak yang sedang serius menonton. Rupanya mereka sangat suka dan memfavoritkan sinetron yang lagi mereka tonton. Karena ketika, saya memindahkan chanel tivi, mereka spontan protes. Anak saya ada dua dan kedua-duanya perempuan. Anak pertama berusia 7 tahun dan anak kedua berusia 14 tahun. Kedua-duanya pun serius menonton.

Akhirnya saya pun ikut-ikutan menonton sampai akhir episode. Ceritanya cukup menarik dan membuat penasaran. Tapi bukan itu yang menjadi alasan saya untuk menonton sinetron ini beberapa episode berikutnya. Ada alur dan kisah cerita yang menggelitik jiwa. Sepertinya, sinetron yang mengisahkan cerita cinta anak remaja ini, memang menyasar penonton berusia remaja. Itu terlihat dari aktor utama yang bermain, kebanyakan anak remaja dan judulnya pun demikian; "Dari Jendela SMP".

Naluri "kebapak-an" tiba-tiba khawatir. Sinetron ini tengah mempertontonkan anak remaja dengan kisah cintanya yang sangat kompleks dan intrik. Lazimnya, kisah cinta seperti ini ditonton dalam sinetron dengan aktor orang dewasa. 

Bukan dikisahkan anak seusia anak SMP, yang dalam kelaziman masih dalam tahap "cinta monyet". Saya cukup mengkhawatirkan anak-anak saya yang senang dengan sinetron ini. Mereka akan menilai kisah cinta yang mereka tonton adalah sesuatu yang wajar dan biasa saja bagi anak seusia mereka.

Sinetron "Dari Jendela SMP" mengisahkan cerita cinta anak SMP antara Joko dan Wulan. Joko adalah anak tampan dan pintar, tapi berasal dari keluarga miskin. Wulan berasal dari keluarga kaya, pintar dan cantik. Keduanya satu sekolah dan saling suka "pancaran". 

Seperti lazimnya cerita sinetron lain, awal kisah cinta keduanya diawali sebuah insiden pertengkaran. Dua anak berlainan jenis saling tertarik dan menyatakan cinta. Mereka menjadi sepasang kekasih yang saling memperhatikan. Dari kisah ini, masih wajar.

Tetapi episode-episode berikutnya, kisah cinta mereka mulai rumit dan dramatis. Dimulai ketika Wulan mengira dirinya hamil dan Joko siap bertanggung jawab dengan menikahi Wulan. Keduanya sepakat untuk menikah. Melalui dukungan keluarga Joko, mereka menggelar pernikahan di rumah Joko. 

Tapi rupanya, keluarga Wulan yang kaya itu menolak dan membatalkan ijab kabul. Bapak Wulan melapor ke Polisi dan Joko dipenjarakan. Bapak Wulan yang menolak pernikahan itu, cenderung diperan antagoniskan. Orang menontonnya, akan mengira dia bapak yang jahat dan lebih mendukung kisah cinta Joko-Wulan ini.

Dalam rangkaian cerita, banyak peristiwa yang sangat rumit dan kompleks. Saya yang tua, merasakan itu. Bagaimana mana dengan anak saya yang remaja? Sejauh ini, mereka senang saja. Tetapi sebagai orang tua, saya sangat khawatir. Mereka tidak akan mampu mencerna drama-drama yang dipertontonkan itu. 

Mereka tengah diajarkan bagaimana "pacaran" yang setia. Benar-benar setia dan serius, layaknya pacaran orang dewasa. Joko muncul sebagai laki-laki bertanggung jawab dan memperjuangkan cintanya. Wulan menjadi wanita setia dengan cintanya. Kisah cinta Joko-Wulan akan menuai emosi dan empati penontonnya.

Andai sinetron ini tidak menyasar orang dewasa, tidak apa-apa. Kisahnya dapat dimengerti dan dipahami sebagai bumbu-bumbu sinetron. Tetapi anak seusia anak SMP, saya mengkhawatirkan, tontonan seperti ini akan membuat anak kita bermental buah karbitan. Kelihatan matang di luar, tapi di dalamnya masih mentah. Karena mereka disuguhkan pengalaman-pengalaman melalui sinetron yang melampaui batas mental mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x