Syae_Purnama
Syae_Purnama Swasta

Mengikat makna menebar target 1000 tulisan ;). Pengajar, Ayah 3 Anak, Peminat Ilmu Pengetahuan Sosial, Ekonomi Kependidikan, Manajemen Pendidikan, Sunda, Muhammadiyah, Alumni Wuhan, Alumni Jogja, Gontorian, genX with fb

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Puasa Musafir ke Pattani

2 Juni 2018   10:50 Diperbarui: 2 Juni 2018   11:12 497 0 0
Puasa Musafir ke Pattani
Sumber gambar: Thai-tour.com

Negeri seberang adalah negeri Melayu juga. Disana perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki jejaring kerjasama dengan SBPAC (Southern Border Provinces Administration Centre). Untuk tujuan itulah aku menjejakkan kaki ke negeri tersebut. Perjalanan diawali pagi jam setengah tiga pagi, menuju pangkalan Damri di terminal bus.

Lalu menggunakan maskapai lokal menyinggahi Singapura, lalu setelah beberapa jam transit, lalu kamipun menggunakan Scoot untuk tiba di Hatyai. Peumpang cukup banyak di maskapai. Dari bahasanya kudengar mereka berasal dari penduduk Thailand, warga SIngapura/Malaysia, dan turis dari China, serta beberapa orang turis bule. Thailand Selatan memang terkenal sebagai destinasi wisata yang lebih murah daripada di Utara. Perjalanan seperti ini bisa mengambil rukhsoh untuk tidak berpuasa. Tetapi Insya Allah kita berenam cukup kuat untuk menahan haus dan lapar. Hanya saja memang pemandangan dan suasana yang tidak berpuasa hehehe. Suasana di bandara juga cukup sejuk di Changi. Ini kali pertama saya bepergian ke luar negeri di bulan puasa. Alhamdulillah tidak ada halangan khusus. 

Tiba di Hatyai, sudah dijemput oleh mitra dari SBPAC. Lalu membawa kami ke hotel CS Pattani. Masih sempat untuk masuk kamar dan istirahat sebentar. Jam 18 lebihnya banyak, kita baru buka bersama di Restoran Hotel. Suasana para penunggu adzan cukup ramai disini, hampir semua meja terisi. Makanan yang disajikan khas Thailand Selatan seperti Tomyam dan sebagainya. Cukup sesuai dengan selera lidah Indonesia. Demikian pula minumannya semacam teh tarik dan kopi semuanya tidak beda jauh dengan makanan minuman jiran serumpun Indonesia, Malaysia dan Thailand Selatan. 

Sebelum tiba di hotel, kami singgah sebentar di Masjid Gresik. Suasana cukup ramai disana. Banyak orang berjualan hidangan untuk berbuka puasa, bahkan juga berjualan pakaian, baru maupun bekas. Makanannya cukup menggugah selera hmmm. Masjid Gresik adalah masjid kuno yang mempertahankan bentuk keasliannya, walaupun di dalamnya suasana cukup sejuk. Konon mesjid ini seringkali di bom oleh pasukan tentara. Merujuk namanya, konon masjid ini didirikan oleh para pedagang yang berasal dari Indonesia, daerh Gresik tepatnya di Jawa Timur.

Lokais hotel masih dalam kondisi yang agak menyeramkan bagi yang pertama kali datang. Karena suasana malam akan sepi. Dan saat masuk di aerah ini akan memperoleh pemandangan adanya barikade-barikade tentara di jalanan. Pada beberapa kilometer akan ada pemeriksaan. Tetapi jika kita menggunakan mobil yang dikenali para penjaga, maka kita tidak diperiksa. Hanya berjalan pelan saat mendekati pos penjagaan. 

Saat sahur di hotel berbeda perlakuannya. Kita disediakan nasi bungkus oleh hotel. Disimpan di pegangan pintu kamar. Makanan tersedia pada jam tiga pagi. Tidak ada warung yang buka sepagi ini. Saat malam sesudah berbuka puasa, saya berdua berjalan-jalan sekitar hotel. Hanya ada satu toko kelontong dabn ebberapa hiburan malam semacam pijat dan pub. Suasana sepi. Pengaruh destina wisata dengan berbagai jenis hiburannya sudah masuk ke daerah ini.

Esok harinya kami bertemu dengan perwakilan SBPAC. Setelah pertemuan resmi, kami melaksanakan tugas utamanya. DIlaksanakan di sebuah gedung pertemuan. Acara berlangsung sukses, komunikasi dua arah berjalan cukup lancar. Meskipun kadang-kadang ada salah paham karena perbedaan bahasa. Kami berkomunikasi dengan bahasa Thai Malay, Bahasa Melayu Malaysia, Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun Bahasa Arab. Bahkan kadang-kadang menggunakan bahasa isyarat :) 

Acara selesai dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju kota Hatyai. Daerah ini lebih ramai dan kita diinapkan di hotel di daerah Central, yang benar-benar sebuah pusat perdagangan dan industri hiburan. Jarak ke bandara Hatyai sekitar 30 menit perjalanan dengan van. Disini bisa membeli berbagai pernak pernik Hatyai maupun Thailand dengan harga nego.

Ada juga beberpaa penukaran uang, bahkan beberapa tempat menerima uang ringgit ataupun rupiah. Tentu saja dengan kurs yang lebih tinggi dari standar. Besoknya rombongna dipecah dua, satu ke Bangkok dan satu pulang ke Indonesia. Karena tugas sudah selesai, hanya membutuhkan jumlah personil yang lebih ringkas.