Syae_Purnama
Syae_Purnama Swasta

Pengajar Menuju Pendidik - Ayah - Ilmu Pengetahuan Sosial - Ekonomi Kependidikan - Manajemen Pendidikan - Modal Sosial - Sunda - Muhammadiyah - Wuhaner - Jogjalover - Gontorian - Jakartan.

Selanjutnya

Tutup

Travel-story

Di Shenzhen, Kubangan Kerbau yang Jadi Kota

21 April 2018   15:22 Diperbarui: 21 April 2018   15:40 492 0 0
Di Shenzhen, Kubangan Kerbau yang Jadi Kota
Dokumentasi Pribadi

Konon, pemimpinTiongkok masa lalu membawa kerbau ke Shenzhen, sebuah kampung penuh rawa-rawa. Dari situ ia berkehendak, untuk merubahnya menjadi pusat kemajuan. Kini di tahun 2018, pertama kalinya saya ke Shenzhen, kota itu sudah nyata. 

Tidak termasuk sepuluh kota termaju di Tiongkok. Tapi sudah mencirikan kota metropolitan dengan hiruk pikuk manusianya. Semacam komuter di bawah tanah sudah merayap setiap hari. 

Jembatan menuju Hongkong sudah terbentang. Konon, disinilah pusat para pebisnis Indonesia mengimpor barang-barang ke Indonesia. Karena disinilah tempatnya berbagai barang itu ada. Yang akhirnya menyerbu pasar-pasar tradisional dan ritel-ritel kecil menengah di nusantara. 

Sayang waktu kunjungan saya dan rombongan ke Shenzhen cukup pendek, sehingga tidak ada waktu untuk menyusuri kota Shenzhen. Perjalanan pagi dari Tangerang, sampai ke Xiamen, lalu melanjutkan ke Shenzhen. Malam kami sampai di Shenzhen, dijemput oleh mahasiswa dari Shenzhen University.

Besoknya kami berkumpul dengan kalangan akademisi dari beberapa universitas di Tiongkok. Mengajukan proposal bersama mendirikan ICUA = Indonesia China Universities Alliance, atau dari sisi Tiongkok dinamakan CIUA = China Indonesia Universities Alliance. Sebuah aliansi yang diharapkan dapat menjadi paltform bersama untuk kemajuan bersama, antara universitas di Tiongkok dan di Indonesia. 

Antusias universitas yang datang dari Tiongkok cukup besar, bahkan hadir pula perwakilan dari Provinsi Hubei dan bahkan Harbin. Rombongan juga menandatangani nota kesepahaman kerjasama dengan salah satu universitas di kota Wuhan. 

Inisiasi ini didukung juga oleh kalangan industri, baik di Indonesia dan di Tiongkok. Salahsatu momen yang menarik adalah hadirnya Maspion Grup sebagai industry support bagi inisiasi kami. 

Tentu saja hal ini menjadi hal yang suprised bagi kami. Dengan kapasitasnya sebagai pemimpin ICBC (Indonesia China Business Council) Pak Alim Markus menandatangani proposal pendirian aliansi tersebut. 

Saya-pun mengabadikan momen tersebut, dengan meniru kata-kata dan pose beliau di televisi yang setiap hari dilihat jutaan orang Indonesia. Cintailah produk-produk Indonesia. :) 

Hari itu juga kami mengunjungi sebuah pameran dan ajang talent scouting bidang teknologi di kota Shenzhen. Selain itu, kami juga diajak mengunjungi ZTE, sebuah perusahaan penyedia layanan teknologi informasi yang banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Pemandu kami dari ZTE (atau zhong xing dalam bahasa Mandarinnya), menyatakan bahwa produknya digunakan oleh grup MNC dan PT Telkom di Indonesia.

Oh iyaa, perjalanan kami diatur oleh Simply Travel, sebuah biro perjalanan umroh sebenarnya. Tetapi mereka mulai membuka pasar wisata muslim halal tour. Dengan beberapa destinasi ke Asia dan Timur Tengah. 

Mereka mencoba mengurus rombongan di luar grup yang biasa. Perjalanan yang berbeda, namun cukup berhasil. Selama perjalanan kami yang minoritas diutamakan oleh maskapai penerbangan. Makanan kami berlabel halal, dan didahulukan dari penumpang lainnya. Pulang maupun pergi. 

Saya pikir ini adalah kerjaan sang travel agent. Terima kasih simply travel hehehe.